SEJARAH

Sejarah dan Tradisi Desa Sinungrejo, Warisan Kearifan Lokal di Pesisir Selatan Kebumen

315
×

Sejarah dan Tradisi Desa Sinungrejo, Warisan Kearifan Lokal di Pesisir Selatan Kebumen

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Sinungrejo, yang terletak di wilayah selatan Kabupaten Kebumen, menyimpan jejak sejarah panjang sekaligus tradisi adat istiadat yang masih lestari hingga kini. Berjarak sekitar 7 kilometer dari pesisir Samudra Hindia, desa ini dikenal sebagai kawasan yang kaya akan nilai budaya dan kearifan lokal.

Awal Mula Desa Sinungrejo

Konon, pada masa lampau wilayah Desa Sinungrejo masih berupa hutan belantara yang dikenal dengan sebutan “Jrakah”. Seiring waktu, datang seorang tokoh sakti dan bijaksana bernama Mbah Wirarana yang berasal dari Yogyakarta.

Dalam perjalanan hidupnya, Mbah Wirarana dikenal gemar merantau, bertapa, serta menimba ilmu kesaktian. Berkat kegigihan dan keuletannya, hutan lebat tersebut perlahan berubah menjadi kawasan yang tertata dan layak huni.

Wilayah itu kemudian berkembang menjadi dua bagian, yakni Jrakah dan Keputihan. Seiring kemajuan daerah tersebut, Mbah Wirarana pun memberikan nama baru, yaitu Sinungrejo. Nama ini memiliki makna filosofis, “Sinung” berarti tempat atau wilayah, dan “Rejo” berarti makmur, dengan harapan desa tersebut menjadi daerah yang sejahtera.

Tradisi Adat yang Masih Lestari

Selain sejarahnya, Desa Sinungrejo juga dikenal dengan berbagai tradisi adat yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat.

  1. Memetri Bumi (Merti Desa)
    Tradisi ini digelar setiap bulan Muharram atau bulan Suro dalam kalender Jawa, menyesuaikan weton kepala desa. Kegiatan berupa doa bersama sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Puncak acara biasanya dimeriahkan dengan hiburan seperti wayang kulit atau kesenian tradisional lainnya.
  2. Brokoih (Barokah)
    Merupakan tradisi kenduri dan tahlilan yang dilaksanakan oleh warga yang telah memiliki cucu atau selesai menikahkan anak. Kegiatan ini juga dilaksanakan pada bulan Suro dengan mengundang warga sekitar untuk berdoa bersama.
  3. Unggah-Unggahan
    Dilaksanakan pada bulan Sya’ban (Ruwah) menjelang Ramadan. Warga membersihkan makam leluhur, memanjatkan doa, serta berbagi makanan kepada sesama sebagai bentuk kepedulian sosial.
  4. Ngupati dan Keba
    Tradisi selamatan pada usia kandungan empat bulan (ngupati) dan tujuh bulan (keba). Kegiatan ini diisi dengan doa bersama, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dan dipimpin tokoh agama setempat.
  5. Enthak-Enthik
    Tradisi khusus anak-anak yang digelar setiap 12 Maulud. Kegiatan ini diisi dengan pembagian jajanan tradisional serta berbagai lomba untuk anak-anak.

Melalui berbagai tradisi tersebut, masyarakat Desa Sinungrejo tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber:
Website Resmi Desa Sinungrejo Kebumen – https://sinungrejo.kec-ambal.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/90


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com