SEJARAH

Legenda Mbah Kuwu hingga Lahirnya Desa Sidoluhur Ambal: Jejak Sejarah dari Zaman Mataram hingga Era Modern

380
×

Legenda Mbah Kuwu hingga Lahirnya Desa Sidoluhur Ambal: Jejak Sejarah dari Zaman Mataram hingga Era Modern

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Sidoluhur di Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang yang berpadu antara legenda, sejarah, dan perjalanan pembangunan dari masa ke masa. Jejak awal desa ini bahkan sudah dimulai sejak era kolonial Belanda, ketika seorang ulama dari Cirebon datang membuka wilayah yang kini dikenal sebagai Krajan.

Tokoh tersebut adalah Kyai Soderi, yang kemudian lebih dikenal sebagai Mbah Kuwu. Ia diyakini sebagai orang pertama yang melakukan babat alas di wilayah Krajan. Nama Krajan sendiri berasal dari kata “Kerajaan”, karena dulunya wilayah ini merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Mataram, termasuk dalam sistem pembayaran pajaknya.

Sebagai seorang tokoh yang disegani, Mbah Kuwu kemudian menjadi pemimpin wilayah dengan sebutan “Kuwu” (istilah dari Cirebon yang berarti lurah). Dari sinilah cikal bakal pemerintahan lokal di wilayah tersebut mulai terbentuk.

Seiring waktu, wilayah Krajan berkembang menjadi beberapa pedukuhan seperti Krajan Wetan, Krajan Kulon, Sabrang, dan Tunjung Kesit. Nama-nama tersebut memiliki cerita unik. Sabrang, misalnya, berasal dari kebiasaan warga yang harus “menyeberang” sawah dan sungai karena belum adanya akses jalan. Sementara Tunjung Kesit berawal dari kisah Mbah Kesit yang kebingungan (keplesit) hingga menetap di daerah tanjung.

Tak hanya Krajan, wilayah lain seperti Kragasingan dan Kedaleman juga berkembang pada masa yang sama. Kragasingan sendiri berasal dari kata “Rogo” yang berarti ahli tirakat, merujuk pada tokoh Mbah Rogo sebagai pembuka wilayah. Sedangkan Kedaleman kini dikenal sebagai pedukuhan dengan jumlah penduduk terbesar di desa tersebut.

Integrasi Tiga Kelurahan

Tonggak penting dalam sejarah desa terjadi sekitar tahun 1926, ketika tiga kelurahan—Krajan, Kragasingan, dan Kedaleman—bersatu dalam sebuah peristiwa yang dikenal sebagai “Blengketan”. Dari sinilah lahir Desa Sidoluhur.

Tak lama kemudian, wilayah Tunjungan dan Petandan juga bergabung, sehingga Desa Sidoluhur berkembang menjadi 10 pedukuhan, yakni Puguh, Kragasingan, Pathukrejo, Krajan Kulon, Krajan Wetan, Daleman, Tunjung, Sabrang, Tunjungan, dan Petandan.

Sejak terbentuk, kepemimpinan desa terus berganti dari masa ke masa, mulai dari Surorejo hingga kini dipimpin oleh Eko Supriyanto, SH.

Dinamika Sejarah: Dari Kelaparan hingga Pembangunan

Perjalanan Desa Sidoluhur tidak selalu mulus. Pada periode 1942–1945, desa ini pernah mengalami masa sulit berupa kelaparan dan wabah penyakit. Bahkan pada tahun 1964 tercatat terjadi wabah kolera dan muntaber yang cukup memprihatinkan.

Selain itu, berbagai peristiwa nasional seperti penjajahan Belanda ke-II dan peristiwa G30S juga turut memengaruhi kondisi sosial masyarakat.

Namun, memasuki era pembangunan, Sidoluhur mulai bangkit. Berbagai infrastruktur dibangun, mulai dari sekolah dasar pertama pada 1967, balai desa pada 1978, hingga pembangunan jalan, irigasi, jembatan, dan fasilitas pendidikan serta ekonomi masyarakat hingga era 2000-an.

Program-program seperti pavingisasi, pembangunan rabat beton, hingga pemberdayaan kelompok usaha masyarakat menunjukkan komitmen desa dalam meningkatkan kesejahteraan warganya.

Kini, Desa Sidoluhur menjadi salah satu desa yang terus berkembang, tanpa melupakan akar sejarah dan nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhurnya.

Sumber:
Website resmi Desa Sidoluhur
https://sidoluhur.kec-ambal.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/109/71


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com