KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Ambarwinangun menyimpan kisah sejarah panjang yang sarat nilai kemanusiaan dan kebersamaan. Konon, sejak zaman dahulu desa ini dikenal sebagai tempat yang aman dan penuh kepedulian sosial, sehingga menjadi tujuan pengungsian bagi masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi maupun dampak penjajahan Belanda.
Masyarakat yang datang dari berbagai daerah memilih menetap di desa ini karena penduduknya terkenal berbudi luhur dan gemar menolong sesama. Kehidupan yang damai dan tenteram pun tercipta, seakan menggambarkan desa ini sebagai “bunga harum” yang aromanya tercium ke mana-mana. Dalam ungkapan Jawa disebut “ambune ngambar-ambar temeko ngendi wae”, yang kemudian dipercaya menjadi asal-usul nama Ambarwinangun.
Pada masa penjajahan, wilayah Ambarwinangun sempat terbagi menjadi beberapa kelurahan kecil, masing-masing dipimpin oleh lurah, yakni Leter, Ketijahan, dan Jatibungkus. Namun, menjelang akhir masa penjajahan, ketiga wilayah tersebut digabung menjadi satu desa karena luas wilayah yang relatif kecil.
Setelah penggabungan, wilayah Ketijahan dan Jatibungkus berstatus sebagai pedukuhan di bawah pemerintahan Desa Ambarwinangun. Sementara wilayah Leter yang lebih luas dibagi menjadi tiga bagian, yakni Leter Lor (utara), Leter Tengah, dan Leter Kidul (selatan). Pada masa itu, Leter Lor sempat dikenal sebagai pusat pemerintahan atau “Krajan” karena menjadi tempat tinggal lurah.
Namun seiring berjalannya waktu dan pergantian kepemimpinan, istilah Krajan mulai ditinggalkan karena kepala desa berikutnya tidak lagi menetap di wilayah tersebut.
Kini, Desa Ambarwinangun terdiri dari enam pedukuhan, yaitu Leter Lor, Leter Tengah, Leter Kidul, Ketijahan, Kauman, dan Jatibungkus. Struktur wilayah ini menjadi cerminan perjalanan sejarah panjang desa yang terus berkembang hingga saat ini.
Dalam catatan pemerintahan, sejumlah tokoh pernah memimpin Desa Ambarwinangun, di antaranya Moh. Mislan (1946–1989), Slamet Budiharjo (1989–1997), Sudiarmono (1997–2003), Sugeng Ambarwasono (Pj. 2003–2005), Munjayin (2005–2013), Sri Haryati (2013–2019), hingga Slamet (2019–2025).
Sejarah Desa Ambarwinangun bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan potret nilai gotong royong, solidaritas, dan ketahanan sosial masyarakat yang tetap relevan hingga kini.
Sumber: Website Desa Ambarwinangun (https://ambarwinangun.kec-ambal.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/114/173
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















