KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Podoluhur, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, memiliki perjalanan sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Desa ini awalnya terbentuk dari gabungan beberapa pedukuhan yang kemudian berkembang menjadi satu wilayah pemerintahan desa yang lebih tertata dan maju.
Pada masa awal, wilayah Podoluhur terdiri dari tiga pedukuhan besar yakni Pekeyongan, Karangduwur, dan Krujon, serta empat pedukuhan kecil yaitu Nampu, Bendungan, Kaligandu, dan Sindutan. Pada masa itu, masing-masing pedukuhan dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut lurah.
Pekeyongan dan Karangduwur masing-masing memiliki satu lurah, sementara Bendungan, Kaligandu, dan Sindutan tergabung dalam satu kelurahan. Seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 1914 terjadi perubahan penting dalam tata pemerintahan wilayah tersebut.
Saat itu Karangduwur dipimpin oleh seorang lurah bernama R. Pringgodiharjo yang memimpin selama kurang lebih 24 tahun. Pada masa kepemimpinannya, beberapa pedukuhan digabungkan menjadi satu pemerintahan desa dengan nama Desa Podoluhur.
Nama Podoluhur sendiri diyakini mengandung makna harapan agar pemimpin dan masyarakatnya memiliki budi pekerti luhur. R. Pringgodiharjo menjadi kepala desa pertama Podoluhur dan dikenal dengan sebutan Glondong.
Setelah penyatuan pedukuhan tersebut, pembangunan desa mulai dilakukan secara bertahap. Sarana irigasi mulai dibangun untuk mendukung pertanian masyarakat. Jalan-jalan penghubung antar pedukuhan juga diperlebar dan diperkeras agar mobilitas warga semakin lancar.
Selain itu, fasilitas umum mulai berkembang. Sekolah didirikan untuk mendukung pendidikan masyarakat, sementara masjid dan mushola dibangun sebagai pusat kegiatan keagamaan.
Perkembangan pendidikan agama juga semakin pesat dengan berdirinya pesantren di Dukuh Pekeyongan yang dipimpin oleh KH Zaenudin. Keberadaan pesantren tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan pendidikan agama di wilayah tersebut.
Sekitar 24 tahun kemudian, kepemimpinan desa dilanjutkan oleh R. Pringgoseco, yang merupakan keturunan dari R. Pringgodiharjo. Ia memimpin selama tiga tahun sebelum akhirnya digantikan oleh Janudin melalui sistem pemilihan tradisional yang dikenal dengan metode jongkok atau dodokaan.
Pada tahun 1945, kepemimpinan desa beralih kepada R. Achmad Buraidah melalui proses pemilihan yang saat itu belum sepenuhnya demokratis. Ia memimpin Desa Podoluhur dalam waktu yang cukup lama, yakni hingga tahun 1988.
Di masa kepemimpinannya, pembangunan desa terus dilakukan. Jalan-jalan desa diperlebar dan diperkeras menggunakan batu krokos. Saluran irigasi juga ditingkatkan dengan pembangunan senderan dan saluran cacing untuk memperlancar pengairan sawah.
Di bidang pendidikan, pembangunan sekolah dasar juga berkembang pesat. Desa Podoluhur bahkan memiliki tiga unit sekolah dasar yaitu SD I, SD II, dan SD III. Selain itu, masyarakat bersama pemerintah juga membangun gedung pusat bantuan pemerintah yang dikenal dengan sebutan BENDES.
Pada tahun 1988, kepemimpinan desa beralih kepada Arif Toyibun setelah memenangkan pemilihan kepala desa secara demokratis dengan mengalahkan empat pesaingnya. Ia melanjutkan pembangunan desa dengan pendekatan yang lebih modern, termasuk memperbesar dan memperbaiki Kantor Desa serta meningkatkan kualitas jalan dan irigasi.
Selanjutnya kepemimpinan desa diteruskan oleh Suroto Hadi yang terpilih melalui pemilihan demokratis. Pada masa ini, pemerintahan desa mulai didampingi oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai mitra kerja dalam sistem pemerintahan yang lebih terbuka dan demokratis.
Pada tahun 2007, kepemimpinan desa dilanjutkan oleh Haryono yang juga terpilih melalui pemilihan demokratis. Di masa ini pembangunan desa semakin berkembang, termasuk pembangunan Polindes serta sarana pendidikan Taman Kanak-kanak.
Perbaikan infrastruktur juga terus dilakukan, seperti pembangunan saluran irigasi permanen dengan pasangan batu dan senderan semen terutama di wilayah dengan struktur tanah yang kritis.
Kemudian pada tahun 2013, jabatan kepala desa dipegang oleh Robingah setelah memenangkan pemilihan dengan dua pesaing lainnya. Ia melanjutkan pembangunan desa dengan fokus pada perbaikan jalan-jalan pedesaan.
Terakhir, pada tahun 2019 kepemimpinan Desa Podoluhur dilanjutkan oleh Asrodin yang terpilih melalui proses pemilihan demokratis dengan mengalahkan dua kandidat lainnya.
Sejarah panjang Desa Podoluhur menjadi bukti perjalanan masyarakat dalam membangun desa secara bertahap, mulai dari penyatuan pedukuhan hingga berkembang menjadi desa yang terus berbenah dalam pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.
Sumber: Website Resmi Desa Podoluhur
https://podoluhur.kec-klirong.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/186/135
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















