SEJARAH

Legenda Desa Pandanlor Klrong Kebumen: Kisah Syeh Abdul Baqi dan Syeh Abu Nawas Menghadapi Wabah hingga Lahirnya Nama Pandanlor

341
×

Legenda Desa Pandanlor Klrong Kebumen: Kisah Syeh Abdul Baqi dan Syeh Abu Nawas Menghadapi Wabah hingga Lahirnya Nama Pandanlor

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Pandanlor di Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, memiliki kisah sejarah dan legenda yang menarik untuk ditelusuri. Cerita turun-temurun yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa asal-usul desa ini berkaitan dengan dua tokoh yang sangat dihormati karena ilmu dan kepemimpinannya, yakni Syeh Abdul Baqi dan Syeh Abu Nawas.

Secara geografis, Desa Pandanlor berbatasan dengan beberapa wilayah di sekitarnya. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Bendogarap, sebelah selatan dengan Desa Tanggulangin, sebelah barat dengan Desa Tambakprogaten dan Desa Tanggulangin, serta di sebelah timur berbatasan dengan Sungai Luk Ulo dan wilayah Kecamatan Buluspesantren.

Desa Pandanlor sendiri terdiri dari beberapa wilayah dukuh, di antaranya Dukuh Karangtepung, Dukuh Kauman, Dukuh Kemacanan, dan Dukuh Pecangkringan.

Menurut legenda yang berkembang di masyarakat, pada masa lampau Syeh Abdul Baqi dan Syeh Abu Nawas dikenal sebagai dua tokoh berilmu tinggi yang sangat disegani oleh masyarakat. Karena kebijaksanaan dan keilmuannya, keduanya kemudian dipercaya memimpin wilayah tersebut.

Syeh Abdul Baqi memimpin wilayah bagian selatan, sedangkan Syeh Abu Nawas memimpin wilayah bagian utara. Meski memimpin wilayah yang berbeda, keduanya memiliki hubungan persahabatan yang sangat erat, bahkan bersumpah untuk selalu bersama hingga akhir hayat.

Namun suatu ketika, wilayah tersebut dilanda cobaan besar. Angin kencang yang datang dari arah laut melanda kawasan tersebut, disusul dengan wabah penyakit yang menyebabkan banyak warga meninggal dunia.

Menghadapi kondisi tersebut, kedua pemimpin itu memohon petunjuk kepada Allah SWT. Dalam doa mereka, Syeh Abdul Baqi mendapatkan ilham untuk membangun tanggul sebagai penahan angin, sementara Syeh Abu Nawas diperintahkan untuk menanam pohon pandan sebagai penangkal penyakit.

Setelah kedua upaya tersebut dilakukan, masyarakat menggelar selamatan sebagai ungkapan syukur. Dalam kesempatan itu pula diumumkan bahwa wilayah selatan akan dinamakan Desa Tanggulangin, yang merujuk pada pembuatan tanggul sebagai penahan angin. Sedangkan wilayah utara diberi nama Desa Pandan, karena penanaman pohon pandan yang diyakini membawa perlindungan dari wabah.

Seiring berjalannya waktu, kedua tokoh tersebut kemudian memiliki hubungan kekeluargaan karena menikahi dua perempuan yang merupakan kakak beradik. Dalam suatu musyawarah, keduanya sepakat untuk mencari “wahyu kepemimpinan” sebagai simbol legitimasi kepemimpinan.

Mereka pun berdoa dengan khusyuk kepada Allah SWT hingga akhirnya mendapatkan pertanda berupa bunga pandan berwarna kuning yang beterbangan. Bunga tersebut dianggap sebagai perlambang wahyu kepemimpinan.

Keduanya kemudian mengejar bunga pandan yang terus bergerak hingga akhirnya mengarah ke wilayah utara. Namun ketika sampai di sebuah tempat di wilayah dukuh bagian utara, bunga tersebut tiba-tiba menghilang.

Setelah menunggu cukup lama tanpa menemukan kembali bunga tersebut, keduanya kemudian mengambil keputusan. Syeh Abdul Baqi yang merasa lebih tua menyebut wilayah tertentu sebagai Dukuh Tua Buru, yang berasal dari kata “tua” dan “mburu” atau mengejar wahyu.

Sementara itu, Syeh Abu Nawas memutuskan untuk mengubah nama Desa Pandan menjadi Desa Pandanlor. Dalam bahasa Jawa, “lor” berarti utara, merujuk pada arah terbangnya bunga pandan yang diyakini sebagai simbol wahyu tersebut.

Legenda ini hingga kini masih menjadi bagian dari cerita sejarah yang hidup di tengah masyarakat Desa Pandanlor, sekaligus menjadi identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sumber Website desa Pandanlor


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com