SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Jatipurus Poncowarno Kebumen: Dari Hutan Jati, Kisah Pertobatan Pendiri

467
×

Jejak Sejarah Desa Jatipurus Poncowarno Kebumen: Dari Hutan Jati, Kisah Pertobatan Pendiri

Sebarkan artikel ini
ilustrasi ai

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Jatipurus, yang berada di Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Dahulu, wilayah ini hanyalah hamparan hutan jati yang lebat sebelum akhirnya berkembang menjadi desa yang dihuni masyarakat seperti sekarang.

Sejarah mencatat, sekitar tahun 1927, seorang tokoh bernama Mbah Martadipa yang berasal dari Yogyakarta datang ke kawasan tersebut. Ia kemudian melakukan tapa atau semedi di atas tebangan pohon jati hingga dari bekas tebangan itu tumbuh tunas baru yang disebut purus. Dari peristiwa inilah kemudian muncul nama Jatipurus, yang berasal dari kata jati dan purus.

Untuk menentukan batas wilayah desa, Mbah Martadipa konon menggunakan cara yang unik. Ia membakar semak belukar di sekitar kawasan tersebut hingga api padam dengan sendirinya. Bekas area yang terbakar itulah yang kemudian dijadikan sebagai batas wilayah Desa Jatipurus.

Namun, perjalanan hidup Mbah Martadipa tidak selalu berjalan lurus. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, ia pernah menyalahgunakan kesaktiannya, salah satunya dengan mencuri kerbau. Agar jejak pencurian tidak diketahui, tanduk kerbau yang dicuri dibengkokkan.

Peristiwa lain terjadi ketika ia mencoba mencuri seekor sapi milik seseorang yang ternyata juga memiliki kesaktian. Perkelahian pun terjadi, dan dalam pertarungan tersebut Mbah Martadipa mengalami kekalahan. Sejak saat itu, ia mengakui kesalahannya dan memilih bertaubat.

Sebagai bentuk penyesalan dan perubahan hidup, ia kemudian menunaikan ibadah haji dan mengganti namanya menjadi H. Abdussalam. Tokoh inilah yang kemudian dikenal sebagai pembuka atau pendiri Desa Jatipurus.

Pergantian Kepala Desa

Seiring berjalannya waktu, Desa Jatipurus telah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan. Tercatat hingga kini sudah sembilan kali pergantian kepala desa, yaitu:

  1. Abdussalam
  2. Madrois
  3. Rejadikrama
  4. Madroji
  5. Ronodimulyo
  6. Martosudiro
  7. Paring Ashari
  8. Sudarmo
  9. Sholeh

Di antara para pemimpin tersebut, Martosudiro tercatat sebagai kepala desa dengan masa jabatan paling lama, yakni 32 tahun (1946–1988). Setelah itu, kepemimpinan dilanjutkan oleh Paring Ashari selama 18 tahun (1989–2007).

Pada masa awal kepemimpinan hingga era Martosudiro, pembangunan desa belum terlihat signifikan. Namun para pemimpin pada masa itu dikenal memiliki pengaruh kuat dan kewibawaan tinggi di masyarakat.

Perubahan mulai terlihat pada masa kepemimpinan Paring Ashari, ketika program pembangunan fisik dan nonfisik mulai digerakkan. Hal ini diperkuat dengan adanya berbagai program seperti Kader Pembangunan Desa (KPD), Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa (P3MD), hingga penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).

Dinamika Peristiwa Desa

Perjalanan Desa Jatipurus juga diwarnai berbagai peristiwa penting, baik yang membawa kemajuan maupun tantangan bagi masyarakat.

Pada masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1940, masyarakat mengalami kelangkaan pangan yang cukup berat. Kondisi sulit ini bahkan masih dirasakan hingga awal kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Pada tahun 1961, wilayah desa sempat mengalami serangan hama tikus, sementara pada 1963–1964 masyarakat menikmati panen tembakau besar-besaran. Kemudian pada 1975, diperkenalkan bibit padi unggul PB5 yang membantu meningkatkan ketahanan pangan masyarakat.

Perkembangan infrastruktur juga mulai terlihat, salah satunya dengan pembangunan Balai Desa secara swadaya pada tahun 1978 serta pembangunan saluran irigasi pada tahun 1992.

Di sisi lain, desa ini juga pernah menghadapi sejumlah bencana dan kesulitan, seperti wabah diare pada tahun 2010 yang menyebabkan puluhan warga sakit, serangan hama wereng pada 2013, serta kekeringan panjang hingga delapan bulan pada 2014 dan 2019.

Meski demikian, masyarakat Desa Jatipurus terus berupaya bangkit dan beradaptasi dengan berbagai tantangan zaman.

Kini, Desa Jatipurus tidak hanya dikenal sebagai desa yang memiliki sejarah unik, tetapi juga sebagai desa yang terus berkembang melalui semangat gotong royong dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Sumber: Website resmi Desa Jatipurus Kecamatan Poncowarno, Kebumen.

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Jatipurus, yang berada di Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Dahulu, wilayah ini hanyalah hamparan hutan jati yang lebat sebelum akhirnya berkembang menjadi desa yang dihuni masyarakat seperti sekarang.

Sejarah mencatat, sekitar tahun 1927, seorang tokoh bernama Mbah Martadipa yang berasal dari Yogyakarta datang ke kawasan tersebut. Ia kemudian melakukan tapa atau semedi di atas tebangan pohon jati hingga dari bekas tebangan itu tumbuh tunas baru yang disebut purus. Dari peristiwa inilah kemudian muncul nama Jatipurus, yang berasal dari kata jati dan purus.

Untuk menentukan batas wilayah desa, Mbah Martadipa konon menggunakan cara yang unik. Ia membakar semak belukar di sekitar kawasan tersebut hingga api padam dengan sendirinya. Bekas area yang terbakar itulah yang kemudian dijadikan sebagai batas wilayah Desa Jatipurus.

Namun, perjalanan hidup Mbah Martadipa tidak selalu berjalan lurus. Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, ia pernah menyalahgunakan kesaktiannya, salah satunya dengan mencuri kerbau. Agar jejak pencurian tidak diketahui, tanduk kerbau yang dicuri dibengkokkan.

Peristiwa lain terjadi ketika ia mencoba mencuri seekor sapi milik seseorang yang ternyata juga memiliki kesaktian. Perkelahian pun terjadi, dan dalam pertarungan tersebut Mbah Martadipa mengalami kekalahan. Sejak saat itu, ia mengakui kesalahannya dan memilih bertaubat.

Sebagai bentuk penyesalan dan perubahan hidup, ia kemudian menunaikan ibadah haji dan mengganti namanya menjadi H. Abdussalam. Tokoh inilah yang kemudian dikenal sebagai pembuka atau pendiri Desa Jatipurus.

Pergantian Kepala Desa

Seiring berjalannya waktu, Desa Jatipurus telah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan. Tercatat hingga kini sudah sembilan kali pergantian kepala desa, yaitu:

  1. Abdussalam
  2. Madrois
  3. Rejadikrama
  4. Madroji
  5. Ronodimulyo
  6. Martosudiro
  7. Paring Ashari
  8. Sudarmo
  9. Sholeh

Di antara para pemimpin tersebut, Martosudiro tercatat sebagai kepala desa dengan masa jabatan paling lama, yakni 32 tahun (1946–1988). Setelah itu, kepemimpinan dilanjutkan oleh Paring Ashari selama 18 tahun (1989–2007).

Pada masa awal kepemimpinan hingga era Martosudiro, pembangunan desa belum terlihat signifikan. Namun para pemimpin pada masa itu dikenal memiliki pengaruh kuat dan kewibawaan tinggi di masyarakat.

Perubahan mulai terlihat pada masa kepemimpinan Paring Ashari, ketika program pembangunan fisik dan nonfisik mulai digerakkan. Hal ini diperkuat dengan adanya berbagai program seperti Kader Pembangunan Desa (KPD), Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa (P3MD), hingga penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).

Dinamika Peristiwa Desa

Perjalanan Desa Jatipurus juga diwarnai berbagai peristiwa penting, baik yang membawa kemajuan maupun tantangan bagi masyarakat.

Pada masa penjajahan Jepang sekitar tahun 1940, masyarakat mengalami kelangkaan pangan yang cukup berat. Kondisi sulit ini bahkan masih dirasakan hingga awal kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.

Pada tahun 1961, wilayah desa sempat mengalami serangan hama tikus, sementara pada 1963–1964 masyarakat menikmati panen tembakau besar-besaran. Kemudian pada 1975, diperkenalkan bibit padi unggul PB5 yang membantu meningkatkan ketahanan pangan masyarakat.

Perkembangan infrastruktur juga mulai terlihat, salah satunya dengan pembangunan Balai Desa secara swadaya pada tahun 1978 serta pembangunan saluran irigasi pada tahun 1992.

Di sisi lain, desa ini juga pernah menghadapi sejumlah bencana dan kesulitan, seperti wabah diare pada tahun 2010 yang menyebabkan puluhan warga sakit, serangan hama wereng pada 2013, serta kekeringan panjang hingga delapan bulan pada 2014 dan 2019.

Meski demikian, masyarakat Desa Jatipurus terus berupaya bangkit dan beradaptasi dengan berbagai tantangan zaman.

Kini, Desa Jatipurus tidak hanya dikenal sebagai desa yang memiliki sejarah unik, tetapi juga sebagai desa yang terus berkembang melalui semangat gotong royong dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Sumber: Website resmi Desa Jatipurus Kecamatan Poncowarno, Kebumen.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.