SEJARAH

Menguak Sejarah dan Adat Desa Tunjungseto: Dari Bulupitu hingga Tradisi Kearifan Lokal

322
×

Menguak Sejarah dan Adat Desa Tunjungseto: Dari Bulupitu hingga Tradisi Kearifan Lokal

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tunjungseto di Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang, legenda menakjubkan, serta adat dan budaya yang masih lestari hingga kini. Desa ini tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, tapi juga kisah-kisah yang diwariskan secara turun-temurun.

Sejarah Desa Tunjungseto

Sebelum kemerdekaan, wilayah ini merupakan dua desa, yaitu Desa Pamrian di barat dan Desa Penajung di timur. Desa Penajung dipimpin oleh Cayuda, keturunan Tumenggung Selomanik, sementara Desa Pamrian dipimpin oleh Lurah Cawijaya. Kedua desa kemudian disatukan melalui peristiwa “BLENGKETAN”, meski tahun dan masa pemerintahannya belum pasti tercatat.

Desa Tunjungseto pertama dipimpin oleh R. Munandar, kemudian digantikan Wiradiwirya (Liwon) melalui pemilihan unik dengan media ijuk pohon kelapa. Sejak itu, kepemimpinan desa telah berganti beberapa kali hingga saat ini dipimpin oleh KASIMAN (2019 – sekarang).

Desa ini juga memiliki destinasi wisata religi dan edukasi Bulupitu, yang menampilkan Keraton Suci Bulupitu, area outbond, spot foto dengan latar perbukitan, persawahan, serta pohon langka.

Legenda Desa: Kisah Jaka Sangkrib

Salah satu cerita legenda yang terkenal adalah Jaka Sangkrib, putra Pangeran Puger. Setelah diasingkan karena penyakit kulit, ia bertapa di Bukit Bulupitu selama 72 hari, mempraktikkan filosofi laba-laba untuk hidup tidak serakah. Di sana, ia bertemu Kanjeng Gusti Raden Ayu Dewi Nawang Wulan, penguasa Kraton ghoib di Bulupitu, dan akhirnya menikah dengannya.

Setelah sembuh, Jaka Sangkrib mengembara menggunakan nama samaran Kentol Surawijaya, lalu kembali ke Kraton Suci Bulupitu sebelum kembali ke Mataram. Ia kemudian diberi tugas menumpas pemberontakan di Banyumas, berhasil, dan diangkat menjadi Tumenggung Arungbinang 1 di Kutowinangun. Makam keluarga Arungbinang kini menjadi destinasi ziarah dan bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Kebumen.

Adat dan Budaya Desa Tunjungseto

Desa Tunjungseto juga kaya dengan tradisi turun-temurun:

  1. Sedekah Bumi – Syukuran hasil panen yang dilaksanakan di sawah dan Aula Hutan Bulupitu, dengan makanan hasil masakan warga.
  2. Krapyak – Selamatan setiap Jumat Kliwon di bulan Sya’ban, dengan tumpeng ingkung dan bunga Telon Kanthil untuk doa leluhur.
  3. Gombrang – Bersih-bersih makam secara massal di Makam Pamrian, Makam Cungkub Penajung, dan Makam Penajung, dengan tumpeng sebagai persembahan.
  4. Unggahan – Kenduri keluarga setelah ziarah makam.
  5. Brokohi – Kenduri sebagai wujud syukur orang tua setelah anak-anak mereka menikah, dilaksanakan bulan Muharram/Suro.

Adat dan budaya ini tetap dilestarikan sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur, sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat Desa Tunjungseto.

Sumber: Website Desa Tunjungseto


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.