SEJARAH

Asal-Usul Desa Tlogodepok: Berawal dari Alas Wingit, Terkait Kisah Majapahit

347
×

Asal-Usul Desa Tlogodepok: Berawal dari Alas Wingit, Terkait Kisah Majapahit

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tlogodepok di Kecamatan Mirit menyimpan kisah panjang yang berpadu antara legenda, sejarah kerajaan, hingga perjalanan pemerintahan desa dari masa ke masa. Wilayah yang kini dikenal sebagai desa pesisir dengan panorama Samudra Hindia itu dulunya dipercaya masih berupa hutan belantara dan rawa-rawa yang dianggap angker oleh masyarakat setempat.

Awal Mula: Dari Hutan Belantara Menjadi Permukiman

Berdasarkan cerita turun-temurun yang berkembang di masyarakat, kawasan yang kini menjadi Desa Tlogodepok dahulu merupakan alas lebat dengan banyak telaga atau rawa. Tempat itu bahkan dikenal “wingit” sehingga jarang dijamah manusia.

Sekitar pertengahan abad ke-14, datanglah rombongan pengembara dari Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Eyang Joko Kumbari bersama adiknya Dewi Renges. Dalam kisah yang berkembang, Dewi Reksolani disebut sebagai salah satu selir dari Prabu Brawijaya V.

Konon, rombongan tersebut meninggalkan istana karena konflik keluarga. Mereka kemudian tiba di wilayah yang saat itu masih berupa hutan rawa di kawasan yang kini dikenal sebagai Urut Sewu.

Di tempat itu, Eyang Joko Kumbari bersama rombongan membuka hutan atau “babad alas” untuk dijadikan permukiman. Mereka juga dibantu oleh tokoh yang diyakini bernama Joyo Kusumo beserta para pengikutnya.

Di kawasan tersebut kemudian berdiri sebuah padepokan yang kini diyakini berada di area situs makam kuno Lamsih. Tempat ini dikenal masyarakat sebagai makam para tokoh yang dihormati, termasuk makam Waliyullah Syeh Wali Putih Joyo Kusumo.

Hingga kini, lokasi tersebut masih sering diziarahi warga, terutama pada malam Jumat. Selain itu, setiap bulan Sura masyarakat bersama pemerintah desa juga menggelar tradisi nyadran atau sedekah bumi.

Nama Tlogo Depok sendiri diyakini berasal dari kondisi wilayah yang banyak memiliki telaga (tlogo) dan rawa di sekitar padepokan yang didirikan oleh rombongan tersebut.

Keterkaitan dengan Tokoh Sejarah Nusantara

Dalam cerita yang berkembang, Dewi Renges kemudian memiliki seorang putra bernama Raden Arya Damar atau dikenal juga sebagai Joko Dilah. Ia disebut sebagai putra dari Prabu Brawijaya V.

Ketika dewasa, Arya Damar dipercaya menjadi Adipati di Palembang dan menikah dengan Dewi Campa. Dari garis keturunan ini kemudian lahir tokoh-tokoh penting, termasuk Raden Patah.

Dari garis keluarga tersebut pula, masyarakat meyakini muncul trah kepemimpinan yang kemudian berperan dalam sejarah wilayah Tlogo pada masa Kerajaan Mataram Islam.

Era Tumenggungan Tlogo

Dalam perkembangan selanjutnya, wilayah ini masuk dalam pemerintahan lokal yang dikenal sebagai Kademangan Tlogo. Salah satu tokoh yang memimpin pada masa itu adalah Tumenggung Wonoyudho Inggil atau Wongsojoyo I.

Kepemimpinan kemudian berlanjut secara turun-temurun hingga beberapa generasi, sebelum berakhir sekitar pertengahan abad ke-17.

Jejak sejarah masa itu diyakini masih dapat ditemukan melalui berbagai situs peninggalan, seperti tembok benteng kuno atau “Pager Boto” yang dipercaya sebagai bagian dari pusat pemerintahan pada masa tersebut.

Lahirnya Desa Tlogodepok

Memasuki abad ke-18, wilayah Tlogodepok mulai berkembang sebagai desa. Nama Tlogodepok saat itu merupakan gabungan dari dua kawasan, yaitu Telogo dan Depok.

Desa ini berada di kawasan Urut Sewu, sekitar 30 kilometer di tenggara Kota Kebumen dan langsung berbatasan dengan Samudra Hindia dengan panjang garis pantai sekitar 1,3 kilometer.

Menurut penuturan para sesepuh desa, pemerintahan awal dipimpin oleh Wono Dikrono I, keturunan dari trah Wonoyudho. Kepemimpinan kemudian berlanjut hingga generasi keenam.

Pada masa itu, jabatan kepala desa masih ditentukan berdasarkan garis keturunan dan dijabat seumur hidup.

Masa Kolonial dan Penggabungan Desa

Perubahan besar terjadi pada tahun 1941 ketika dua wilayah, yaitu Desa Tlogodepok dan Desa Kedoya, digabungkan.

Pada saat yang sama digelar pemilihan kepala desa pertama yang diikuti enam kandidat. Pemilihan dilakukan dengan metode sederhana menggunakan lidi atau “bilingan”.

Hasilnya dimenangkan oleh R. Soedoro yang kemudian menjabat cukup lama, dari tahun 1941 hingga wafat pada 1981.

Era Reformasi Pemerintahan Desa

Setelah wafatnya R. Soedoro, jabatan kepala desa sempat diisi oleh pejabat sementara sebelum akhirnya digelar pemilihan kepala desa dengan masa jabatan delapan tahun pada 1985.

Beberapa kepala desa yang pernah memimpin antara lain:

  • Sarodjo (1985–1993)
  • Jatmiko Aji, SH (1994–2007, dua periode)
  • Sujoko HS (2007–2009)
  • Jumiran (2009–2015 dan kembali terpilih 2017–2023)

Pergantian kepemimpinan ini menandai perjalanan panjang Desa Tlogodepok menuju tata pemerintahan modern.

Kini, Desa Tlogodepok tidak hanya dikenal sebagai desa pesisir di selatan Kebumen, tetapi juga sebagai wilayah yang menyimpan kisah sejarah panjang—dari legenda Majapahit, jejak kerajaan Islam, hingga perjalanan pemerintahan desa yang terus berkembang hingga sekarang.

Sumber: Profil Desa Tlogodepok, 2023.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.