SEJARAH

Sejarah Desa Sitibentar: Dari Bugel yang Terpecah hingga Menjadi Desa yang Sarat Tradisi

346
×

Sejarah Desa Sitibentar: Dari Bugel yang Terpecah hingga Menjadi Desa yang Sarat Tradisi

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Sitibentar di Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang tentang sejarah, kepemimpinan, serta tradisi masyarakat yang masih terjaga hingga kini. Desa dengan luas wilayah sekitar 207,21 hektar ini didominasi area pemukiman dan persawahan tadah hujan, dengan sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani.

Secara geografis, Desa Sitibentar berbatasan dengan Desa Karanggede dan Kertodeso di sebelah utara, Desa Blengorwetan Kecamatan Ambal di sebelah barat, Desa Tlogodepok di sebelah selatan, serta Desa Mirit di sebelah timur.

Berawal dari Desa Bugel

Sebelum tahun 1824, wilayah ini dikenal dengan nama Desa Bugel. Pada masa itu, kepemimpinan desa dipegang oleh seorang sesepuh yang disebut Bengkuwu. Tokoh Bengkuwu yang paling dikenal adalah seorang perempuan bernama Nyai Sini, yang juga dikenal dengan nama Nyai Gadung Melati.

Menurut penuturan sesepuh desa sekaligus mantan kepala desa, Moech. Noer Salam, Nyai Sini merupakan sosok yang sangat dihormati masyarakat karena kebijaksanaan dan pengaruhnya dalam kehidupan sosial masyarakat Bugel pada masa itu.

Bugel Terpecah Dua

Sepeninggal Bengkuwu sekitar tahun 1824, wilayah Bugel kemudian terpecah menjadi dua desa, yakni:

  • Bugel Kulon dipimpin oleh Cokromijoyo
  • Bugel Wetan dipimpin oleh Kromomijoyo

Namun perpecahan tersebut justru memicu persaingan dan perselisihan antara kedua wilayah. Kondisi ini akhirnya sampai ke telinga pemimpin Kebumen saat itu, Kolopaking IV.

Untuk menyelesaikan konflik, Kolopaking IV datang langsung ke wilayah tersebut dan memutuskan melakukan “pemblengketan” atau penyatuan kembali Bugel Kulon dan Bugel Wetan menjadi satu desa.

Lahirnya Nama Sitibentar

Setelah wilayah kembali bersatu, Kolopaking IV memberikan nama baru yaitu Sitibentar. Nama ini diambil dari kondisi wilayah yang relatif datar dan cenderung tandus.

Secara bahasa:

  • Siti dalam bahasa Jawa berarti tanah
  • Bantar/Bentar berarti datar atau rata, sementara dalam bahasa Sanskerta bermakna panas

Sehingga Sitibentar dapat diartikan sebagai tanah datar yang panas atau tandus.

Sejak saat itu wilayah desa dibagi menjadi dua pedukuhan, yakni Bugel Kulon dan Bugel Wetan, dan Cokromijoyo ditetapkan sebagai Kepala Desa Sitibentar pertama.

Pergantian Kepemimpinan Desa

Kepemimpinan Desa Sitibentar terus berganti seiring perkembangan zaman. Berikut perjalanan kepemimpinan desa:

  1. Cokromijoyo – menjabat hingga tahun 1935
  2. Abdulloh Siroj – menjabat hingga sekitar 1948
  3. Sastromijoyo – menjabat sekitar 1948–1951
  4. Maksum – menjabat 1951–1965, kemudian diberhentikan karena terbukti terlibat peristiwa G30S/PKI
  5. Moech. Nur Salam – menjabat sejak 1967 hingga 1998 (sekitar 31 tahun)
  6. Suparjo – menjabat dua periode setelah 1998
  7. Fadlun Haryanto, S.Ag – menjabat 2013–2019
  8. Tashidin, S.Pd.I – menjabat periode 2019–2025

Sejak tahun 1967, sistem pemerintahan desa mulai menerapkan proses demokrasi yang lebih baik melalui pemilihan kepala desa secara terbuka.

Tradisi dan Adat Istiadat yang Masih Dilestarikan

Selain sejarah panjangnya, Desa Sitibentar juga dikenal dengan berbagai tradisi yang masih dilestarikan masyarakat hingga sekarang, di antaranya:

  1. Suran / Suroan / Memetri Bumi
    Tradisi menyambut bulan Suro atau Muharam dengan ritual pemotongan kerbau di lokasi yang kini menjadi Balai Desa. Dagingnya dibagikan kepada warga. Kegiatan dilanjutkan dengan tahlil dan pagelaran wayang kulit.
  2. Sadranan / Nyadran
    Tradisi tahunan berupa doa bersama dan tahlil untuk para leluhur desa, khususnya mengenang tokoh Bengkuwu seperti Nyai Sini.
  3. Gombrang
    Kegiatan kerja bakti membersihkan makam menjelang bulan Ramadhan.
  4. Unggahan
    Tradisi ziarah dan doa bersama menjelang awal Ramadhan.
  5. Udhunan
    Ziarah dan doa di akhir Ramadhan sebelum waktu magrib.
  6. Ngayu
    Tradisi persiapan hajatan dengan menebang tujuh pohon sebagai kayu bakar dan membuat pagar bambu khas yang disebut Sanggar Waringin.
  7. Tingkeban / Tujuh Bulanan
    Upacara adat bagi ibu hamil tujuh bulan dengan air dari tujuh sumur dan simbol kelahiran menggunakan cengkir gading bergambar Prabu Rama dan Dewi Shinta.
  8. Pethetan / Puputan
    Prosesi pemberian nama bayi disertai pemotongan rambut bayi dan pembacaan sholawat.
  9. Tedhak Siten
    Tradisi pertama kali bayi menginjak tanah yang melambangkan perjalanan masa depan.
  10. Jabel
    Upacara persembahan menjelang masa tanam dan panen padi.

Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Hingga kini, sejarah panjang serta adat istiadat yang diwariskan para leluhur masih dijaga oleh masyarakat Desa Sitibentar. Tradisi tersebut bukan hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga mempererat kebersamaan warga.

Desa Sitibentar menjadi contoh bagaimana sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat pedesaan tetap berjalan selaras di tengah perkembangan zaman.

Sumber: Website resmi Desa Sitibentar.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.