KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Rowokele, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah historis yang sarat nilai perjuangan dan kearifan lokal. Legenda yang hidup di tengah masyarakat menyebut, desa ini berawal dari jejak seorang prajurit setia Pangeran Diponegoro pada masa pascaperang Jawa sekitar tahun 1830 Masehi.
Kala itu, setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda melalui siasat tipu muslihat, seorang pengikutnya memilih tidak menyerahkan diri. Demi menjaga keselamatan dan tetap setia pada cita-cita kebenaran dan keadilan, ia menghindari kampung halaman karena khawatir diburu kaki tangan penjajah.
Sosok tersebut kemudian membuka permukiman baru dan memperkenalkan diri dengan nama Ki Jayanangga. Dari tangan dan tekadnya, cikal bakal Desa Rowokele pun lahir.
Dari Rawa dan Pisang Kele
Konon, wilayah yang dibuka Ki Jayanangga saat itu masih berupa rawa-rawa. Di sekelilingnya tumbuh subur pohon pisang jenis kele, yakni pisang berbatang pendek dengan buah relatif kecil dibandingkan varietas lain.
Nama Rowokele diyakini berasal dari dua unsur tersebut: rowo (rawa) dan kele (jenis pisang). Seiring waktu, rawa-rawa itu diolah menjadi sawah dan kebun produktif melalui kerja keras dan gotong royong warga. Jenis pisang kele yang dulu mendominasi pun perlahan diganti dengan varietas yang lebih produktif.
Perubahan lanskap itu menjadi simbol transformasi: dari lahan basah tak terjamah menjadi tanah subur yang menopang kehidupan masyarakat.
Wayang: Tontonan yang Menjadi Tuntunan
Ki Jayanangga dikenal sebagai pribadi berbudi luhur, halus perasaannya, dan memiliki jiwa seni tinggi. Dalam menyampaikan nasihat kepada warga, ia tidak menggunakan kekuasaan, melainkan pendekatan budaya—melalui pagelaran wayang kulit.
Salah satu lakon yang sering dipentaskan mengandung pesan moral mendalam:
“Sapa kang nandur bakal ngunduh, sapa kang gawe bakal nganggo.”
(Siapa yang menanam akan memanen, siapa yang membuat akan memakai).
Pesan tersebut menegaskan nilai tanggung jawab, kerja keras, dan konsekuensi dari setiap perbuatan. Wayang bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pendidikan moral bagi masyarakat.
Tradisi itu masih terasa hingga kini. Sebagian warga Desa Rowokele tetap berharap digelarnya pagelaran wayang kulit setiap tahun, khususnya pada bulan Muharram (Sura), sebagai wujud pelestarian budaya sekaligus penghormatan pada sejarah desa.
Tradisi Lapanan dan Semangat Swadaya
Dalam membangun desa, masyarakat Rowokele sejak dahulu mengedepankan musyawarah. Rapat desa digelar setiap 36 hari sekali atau dikenal dengan tradisi lapanan, biasanya pada hari Sabtu Paing.
Pendanaan pembangunan pun bersumber dari swadaya masyarakat. Tak hanya itu, para putra daerah yang sukses di perantauan turut berkontribusi membantu kemajuan kampung halaman.
Semangat gotong royong inilah yang menjadi fondasi kuat Desa Rowokele—warisan nilai dari Ki Jayanangga yang terus hidup lintas generasi.
Sumber : https://rowokele.kec-rowokele.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/148/146
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















