SEJARAH

Jejak Sejarah Kecamatan Rowokele: Dari Pemekaran Hingga Potensi Wisata Tersembunyi

728
×

Jejak Sejarah Kecamatan Rowokele: Dari Pemekaran Hingga Potensi Wisata Tersembunyi

Sebarkan artikel ini
Exif_JPEG_420

KEBUMEN, Kebumen24.com – Nama Kecamatan Rowokele kian sering diperbincangkan. Tak hanya karena geliat pembangunannya, tetapi juga karena sejarah panjang serta potensi alamnya yang mempesona.

Kecamatan Rowokele resmi dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 18 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kecamatan sebagai Perangkat Daerah yang berlaku mulai 26 November 2001. Wilayah ini merupakan hasil pemekaran dari Kecamatan Gombong, dengan pusat pemerintahan berada di Desa Rowokele.

Batas Wilayah dan Administrasi

Secara geografis, Rowokele berbatasan dengan:

  • Utara: Kecamatan Sempor dan Kabupaten Banyumas
  • Timur: Kecamatan Buayan dan Kecamatan Sempor
  • Selatan: Kecamatan Ayah
  • Barat: Kabupaten Banyumas

Kecamatan ini membawahi 11 desa, yakni Kalisari, Redisari, Pringtutul, Rowokele, Bumiagung, Wagirpandan, Jatiluhur, Wonoharjo, Giyanti, Kretek, dan Sukomulyo.

Bentang Alam: Perbukitan hingga Karst

Rowokele memiliki topografi yang unik. Di bagian utara menjulang perbukitan rangkaian Pegunungan Serayu Selatan, sementara di selatan terbentang kawasan karst Gombong Selatan.

Rata-rata ketinggian wilayah ini mencapai 177 meter di atas permukaan laut, dengan puncak tertinggi berada di Gunung Wonoharjo setinggi 680 mdpl. Sejumlah sungai seperti Sungai Ijo, Sungai Kretek, dan Sungai Donoloyo turut menyuburkan lahan pertanian masyarakat.

Lumbung Pertanian dan Hasil Bumi

Sebagian besar lahan dimanfaatkan untuk persawahan irigasi yang mendapat suplai air dari Waduk Sempor dan Sungai Ijo. Selain padi, hasil bumi Rowokele meliputi palawija, sayur-mayur, buah-buahan, cengkih, jenitri, kapulaga, jahe, kunyit hingga komoditas tambang seperti andesit dan kapur.

Tak sedikit pula warga yang menggantungkan hidup dari sektor kehutanan, perikanan air tawar, hingga usaha kecil menengah.

Akses Transportasi Strategis

Rowokele memiliki akses transportasi yang cukup lengkap. Wilayah ini dilintasi jalan nasional jalur selatan Jawa serta rel kereta api lintas selatan dengan keberadaan Stasiun Ijo.

Selain itu, jalur Ijo–Goa Jatijajar–Pantai Logending menjadi akses penting sektor pariwisata. Meski demikian, beberapa ruas jalan di wilayah utara masih membutuhkan perhatian pembangunan.

Pendidikan dan Sarana Publik

Fasilitas pendidikan di Rowokele tergolong lengkap, mulai dari jenjang dasar hingga menengah atas, termasuk SMA, SMK, SMP, MTs, dan madrasah ibtidaiyah.

Sarana publik pun cukup memadai dengan keberadaan Pasar Rowokele, Pasar Wonoharjo, Pasar Jati, Puskesmas Rowokele, serta berbagai rumah ibadah yang menunjang kehidupan sosial masyarakat.

Mayoritas penduduk beragama Islam dan berprofesi sebagai petani, penambang, wiraswasta, hingga PNS. Sebagian generasi mudanya merantau ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya hingga luar pulau.

Wisata Alam yang Mulai Dilirik

Rowokele menyimpan potensi wisata yang belum sepenuhnya tergarap optimal. Di antaranya:

  • Air Terjun Gombong di Dusun Klangrang dengan ketinggian sekitar 23 meter.
  • Terowongan Ijo, terowongan kereta api peninggalan Hindia Belanda sepanjang 580 meter yang dibangun tahun 1885–1886 dan menjadi spot favorit pecinta fotografi kereta api.
  • Goa Penganten, Goa Simaling, dan Goa Karag.
  • Bukit Maroon dan Bukit Dewa.
  • Curug Sigong di Desa Wonoharjo.

Dengan kekayaan alam, sejarah, dan sumber daya manusia yang dimiliki, Kecamatan Rowokele menyimpan potensi besar untuk berkembang menjadi kawasan pertanian, wisata, dan ekonomi kreatif di wilayah barat Kabupaten Kebumen.

Sumber : https://kec-rowokele.kebumenkab.go.id/index.php/web/post/238/sejarah-kecamatan-rowokele


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.