SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Bojongsari: Dari Tanah Perdikan Pajang hingga Tumbuh sebagai Desa Maju di Alian

505
×

Jejak Sejarah Desa Bojongsari: Dari Tanah Perdikan Pajang hingga Tumbuh sebagai Desa Maju di Alian

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik geliat pembangunan wilayah timur laut Kabupaten Kebumen, tersimpan kisah panjang yang membentang lebih dari lima abad. Desa Bojongsari, Kecamatan Alian, bukan sekadar desa berkembang dengan jumlah penduduk sekitar 6.251 jiwa. Desa ini diyakini memiliki jejak sejarah yang berkaitan erat dengan trah bangsawan Pajang.

Kisah Bojongsari pun kini kembali menjadi perbincangan, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap sejarah lokal dan identitas leluhur.

Asal Usul Nama: Dari Bajangsari ke Bojongsari

Desa Bojongsari dipercaya merupakan gabungan dari tiga wilayah lama, yakni Karangtengah, Banjaran, dan Kedungbajul. Pada awalnya, wilayah tersebut dikenal dengan nama “Bajangsari”, yang kemudian dalam perkembangannya berubah penyebutan menjadi Bojongsari.

Secara filosofis, kata Bajang dimaknai sebagai orang-orang hebat, sementara Sari berarti inti atau utama. Maka Bojongsari dapat diartikan sebagai wilayah yang dihuni oleh orang-orang hebat dan utama.

Menariknya, dalam Babad Sruni yang disusun oleh trah keturunan Raden Kertinegara, nama Bojongsari belum disebutkan. Hal ini memperkuat dugaan bahwa nama tersebut muncul setelah penggabungan wilayah administratif di masa berikutnya.

Dipimpin Putra Raja Pajang

Sekitar 500 tahun silam, kawasan yang kini menjadi Bojongsari dipimpin oleh Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Nalawirya, yang juga dikenal sebagai Mbah Nalawirya atau Joko Glendhung. Dalam sejarah lisan masyarakat, ia disebut sebagai putra selir dari Sultan Hadiwijaya, yang lebih populer dengan nama Jaka Tingkir, pendiri Kerajaan Pajang.

Nalawirya diyakini lahir sekitar tahun 1476 dan wafat pada 1596 dalam usia yang dipercaya mencapai 120 tahun. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan Kerajaan Pajang dan disebut mendapat bimbingan para ulama sepuh pada zamannya.

Karena statusnya sebagai putra selir, Sultan Hadiwijaya memberikan tanah perdikan bernama Brangkulon sebagai wilayah kekuasaannya. Wilayah Brangkulon kala itu meliputi sejumlah daerah yang kini masuk wilayah Purworejo, Kebumen, Banyumas, Purbalingga, Cilacap, Banjarnegara, Wonosobo, hingga Magelang.

Pusat pemerintahan Brangkulon berada di Karangtengah—yang kini menjadi bagian dari Desa Bojongsari.

Pernah Jadi Pusat Pemerintahan Lama Kebumen

Kepemimpinan KRT Nalawirya berakhir seiring berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta yang dipimpin Panembahan Senopati atau Danang Sutawijaya, putra angkat Sultan Hadiwijaya.

Tongkat estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Raden Tumenggung Kertinegara dan Raden Kertileksana. Pada masa inilah Karangtengah dikenal sebagai pusat pemerintahan Brangkulon sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kebumen pada era tersebut.

Jejak ini menjadikan Bojongsari bukan sekadar desa biasa, tetapi wilayah yang pernah memainkan peran penting dalam tata pemerintahan masa lampau.

Awal Pemerintahan Desa Modern

Setelah resmi menjadi Desa Bojongsari, kepemimpinan pertama dipegang oleh Kramayudha yang berkedudukan di Dukuh Kedungbajul sebelah timur. Ia menjabat sebagai Glondhong, jabatan tambahan yang bertugas membantu camat pada masa ketika sarana transportasi dan komunikasi masih sangat terbatas.

Kepemimpinan desa kemudian berlanjut dari generasi ke generasi: Mbah Banjaransari II, H. Juned, WHS Salim, Rojikin, Waris, Nuryanto, H. Moh. Khasibun, hingga kepala desa yang menjabat saat ini, Edi Iswadi.

Dari Tanah Perdikan Menuju Desa Berkembang

Kini, Bojongsari menjelma menjadi desa yang terus bertumbuh. Dengan enam pedukuhan dan posisi strategis di Kecamatan Alian, desa ini menunjukkan perkembangan signifikan, baik dari sisi infrastruktur maupun pemberdayaan masyarakat.

Namun di balik modernisasi tersebut, jejak tanah perdikan Brangkulon dan kisah kepemimpinan trah bangsawan Pajang tetap menjadi identitas historis yang mengakar kuat.

Bojongsari hari ini bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang menjaga warisan sejarah—dari Bajangsari, tanah para “orang hebat”, menuju desa maju yang tetap berpijak pada nilai-nilai leluhur.

Sumber : https://bojongsari.kec-alian.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/128/278


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.