KEBUMEN, Kebumen24.com — Tragedi yang menewaskan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kebumen, Mochamad Faik (MF), saat bertugas mengevakuasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Desa Krakal, Kecamatan Alian, menyisakan duka mendalam. Di tengah suasana haru itu, ibu kandung ODGJ yang diduga terlibat dalam insiden pembacokan akhirnya angkat bicara.
Perempuan bernama Mursiyah mengungkapkan bahwa anaknya telah mengalami gangguan kejiwaan selama hampir 10 tahun terakhir. Menurutnya, sejak sakit, sang anak lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah, termasuk di kawasan Pasar Jadi.
“Anak saya itu sudah sakit jiwa hampir 10 tahun. Seringnya ya di luar, di Pasar Jadi, duduk-duduk begitu,” ujar Mursiyah saat ditemui, Rabu 4 Februari 2026.
Ia mengaku, selama berada di rumah, perilaku anaknya kerap membuat keluarga merasa khawatir. Emosinya sering tidak terkendali, mudah marah, bahkan beberapa kali mengancam orang-orang di sekitarnya.
“Sering ngamuk, sering marah-marah. Kadang ngomongnya juga sudah nggak karuan. Kami sekeluarga sebenarnya takut dan khawatir,” tuturnya lirih.
Terkait dugaan keterlibatan anaknya dalam peristiwa pembacokan yang merenggut nyawa petugas Satpol PP, Mursiyah mengaku sangat terpukul. Ia menegaskan keluarga sama sekali tidak menginginkan kejadian tragis tersebut terjadi.
“Kami juga nggak mau sampai terjadi seperti ini. Namanya orang sakit, kadang nggak bisa mikir normal,” ucapnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa tragis itu terjadi pada Senin (2/2/2026) sekitar pukul 14.00 WIB di Dukuh Krajan RT 002 RW 003, Desa Krakal, Kecamatan Alian. Mochamad Faik, yang merupakan tenaga non-ASN Satpol PP Kebumen, gugur saat mengikuti proses evakuasi ODGJ bersama tim gabungan.
Evakuasi dilakukan oleh tim yang terdiri dari tiga anggota Polsek Alian, dua anggota Koramil Alian, lima anggota Satpol PP, perwakilan pemerintah desa, tim Puskesmas Alian, serta pihak keluarga ODGJ. Namun, saat hendak diamankan dan dimasukkan ke ambulans, ODGJ berinisial Ruwadi tiba-tiba melakukan penyerangan.
Pelaku diketahui membawa sejumlah senjata tajam dan benda tumpul, seperti sabit, pisau daging, dan linggis. Mochamad Faik terkena sabetan senjata tajam di leher sebelah kiri yang mengenai arteri karotis, sehingga mengalami pendarahan hebat.
“Korban sempat mendapatkan pertolongan pertama di Puskesmas Alian dan kemudian dirujuk ke RS Jenderal Soedirman. Namun, sekitar 30 menit setelah tiba di rumah sakit, korban dinyatakan meninggal dunia,” ujar Kepala Satpol PP Kebumen, Ira Puspitasari, S.H., M.Ec.Dev.
Selain korban meninggal dunia, satu anggota Koramil dilaporkan mengalami luka ringan. Pihak kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan barang bukti berupa sabit, pisau daging, dan linggis. Penyelidikan masih terus dilakukan untuk mendalami rangkaian peristiwa tersebut.
Duka pun menyelimuti jajaran Pemerintah Kabupaten Kebumen dan masyarakat. Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai pihak. Pada Selasa (3/2/2026) pukul 09.30 WIB, Pemerintah Kabupaten Kebumen menggelar upacara kedinasan sebagai bentuk penghormatan terakhir sebelum almarhum dimakamkan di TPU Kelurahan Kebumen.
Upacara dipimpin oleh Asisten Pemerintahan Sekda Kebumen, R. Agung Pambudi, mewakili Bupati Kebumen, Lilis Nuryani. Dalam sambutannya, ia menyampaikan doa dan penghormatan atas pengabdian almarhum.
“Kami mendoakan semoga almarhum husnul khotimah, diampuni segala kekhilafannya, dan mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga amal bakti almarhum selama bertugas menjadi pahala jariyah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Satpol PP Kebumen, Ira Puspitasari, menegaskan bahwa almarhum gugur saat menjalankan tugas negara, sehingga diberikan penghormatan melalui upacara kedinasan. Ia juga menyebut peristiwa ini akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan perlindungan dan mitigasi risiko bagi petugas di lapangan.
Di sisi lain, ODGJ yang diduga melakukan penyerangan telah diamankan dan kini mendapatkan penanganan medis sesuai protokol. Pihak keluarga berharap yang bersangkutan bisa memperoleh perawatan kejiwaan yang layak, sekaligus mengimbau masyarakat untuk tidak main hakim sendiri dan mempercayakan penanganan kasus ini kepada pihak berwenang.
Peristiwa ini menjadi pengingat betapa tingginya risiko tugas kemanusiaan di lapangan, khususnya dalam penanganan ODGJ, yang membutuhkan pendekatan khusus, pengamanan ekstra, serta dukungan sistem yang lebih kuat demi keselamatan semua pihak. .(K24/ILHAM).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.






















