KEBUMEN, Kebumen24.com – Kabupaten Kebumen kembali mencatat prestasi membanggakan di tingkat nasional. Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menunjuk Kebumen sebagai salah satu lokasi pilot project (percontohan) Pengelolaan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia. Penunjukan ini bukan hanya bentuk kepercayaan pemerintah pusat, tetapi juga pengakuan atas kesiapan Kebumen dalam mendukung program nasional ketahanan pangan dan gizi masyarakat.
Dapur percontohan ini berlokasi di Desa Tanuharjo, Kecamatan Alian, dan menjadi satu dari tiga daerah yang terpilih bersama Kabupaten Banjar dan Provinsi Jambi. Nantinya, dapur ini akan menjadi pusat pengolahan dan distribusi makanan bergizi yang menyasar kelompok rentan, seperti balita, ibu hamil, dan anak sekolah.
Staf BGN, Arif Nur Rakhman, didampingi Fahmi Idris, menjelaskan bahwa proses administrasi saat ini masih menunggu serah terima aset dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ke BGN.
“Kami masih menunggu serah terima dari Kementerian PUPR ke BGN,” ujarnya.
Arif menegaskan bahwa pengelolaan dapur percontohan di Kebumen akan dilakukan oleh BGN dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai tenaga kerja. Langkah ini sekaligus menjadi bentuk pemberdayaan ekonomi warga sekitar.
Bupati Kebumen, Hj. Lilis Nuryani, menyambut penunjukan ini dengan antusias. Ia menyampaikan apresiasi dan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung penuh kelancaran program tersebut.
“Terima kasih sudah dipercayakan di Kebumen. Tentu kami mendukung sepenuhnya,” tegas Bupati Lilis saat menerima tim BGN di ruang kerjanya, Senin 17 November 2025.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Kepala Dinas Kesehatan PPKB dr. Iwan Danardono, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Distapang) Teguh Yuliono, serta Plt. Kepala Disdikpora Agus Sunaryo.
Dalam diskusi, Bupati Lilis mengusulkan agar BGN memberikan daftar menu dapur MBG selama sebulan ke depan, agar penyerapan bahan baku lokal dapat dimaksimalkan.
Usulan ini disambut baik oleh tim BGN, yang menyatakan siap bekerja sama dalam penguatan rantai pasok pangan dari petani lokal.
Kepala Distapang Kebumen, Teguh Yuliono, menegaskan pentingnya informasi menu secara berkala.
“Kalau kami tahu menu lebih awal, maka petani bisa menanam sesuai permintaan. Misal minggu depan perlu bayam, cabai, atau buah tertentu—bisa dipersiapan sejak awal,” jelasnya.
Beberapa buah lokal yang sudah dimanfaatkan dapur MBG antara lain pisang, kelengkeng, melon, dan pepaya. Namun untuk sayuran, sebagian masih dipasok dari luar daerah.
Teguh mengakui masih ada kendala dalam penyerapan hasil tani lokal.
“Kalau belum ada kepastian penyerapan, petani takut rugi. Sudah tanam, tapi tidak diserap dapur, kan kasihan,” ujarnya.
Karena itu, Kepastian penyusunan menu dan kebutuhan rutin sangat dinanti agar petani tidak sekadar menunggu, tetapi dapat terlibat aktif dan berkelanjutan.
Kepala Dinkes PPKB dr. Iwan Danardono menambahkan bahwa saat ini di Kebumen sudah ada 117 dapur yang berfungsi sebagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Yang beroperasi 92 dapur, 23 dapur belum beroperasi. Yang sudah berjalan pun harus terus dipantau,” jelas dr. Iwan.
Meski sebagian besar dapur telah memenuhi standar layak higienis dan sanitasi (SLHS), ia menegaskan bahwa evaluasi rutin harus tetap dilakukan.
“SLHS bukan jaminan mutlak. Monitoring tetap perlu, misalnya soal kualitas air dan kebersihan peralatan,” tambahnya.
Dengan ditunjuknya Kebumen sebagai percontohan dapur MBG, kabupaten ini berpeluang menjadi model keberhasilan program gizi nasional. Jika berjalan baik, program ini akan diperluas ke daerah lain, menjadikan Kebumen pionir dalam pemenuhan gizi masyarakat berbasis pemberdayaan lokal.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















