KomunitasLiterasi

Lewat “Eko Spasi”, Kanda Eko Ajak Mahasiswa Tak Terjebak Pola Pikir Hitam Putih di Era Digital

165
×

Lewat “Eko Spasi”, Kanda Eko Ajak Mahasiswa Tak Terjebak Pola Pikir Hitam Putih di Era Digital

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kabupaten Kebumen menggelar Forum Intelegensi bertema “Beyond Binary: Melampaui Pola Pikir Hitam Putih di Era Digital” di Kantor Sekretariat HMI Kebumen, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan CEO Royal Pariwisata sekaligus alumni HMI, Kanda Eko, sebagai narasumber untuk membahas tantangan pola pikir masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Forum yang menjadi agenda rutin HMI Cabang Kabupaten Kebumen dua kali setiap bulan itu diikuti kader HMI dan mahasiswa. Diskusi ini bertujuan memperkuat budaya berpikir kritis serta mendorong peserta agar tidak mudah terjebak pada cara pandang yang serba hitam dan putih dalam menyikapi berbagai persoalan.

Dalam pemaparannya, Kanda Eko mengatakan bahwa perkembangan teknologi telah mendorong manusia mengambil keputusan secara cepat layaknya sistem biner yang hanya mengenal angka 0 dan 1.

“Kalau kita urut, binary itu berawal dari angka 0 dan 1. Saat ini seseorang sering dikondisikan mengambil keputusan secara cepat, apakah suka atau tidak suka, benar atau salah, sehingga otak manusia dikerucutkan pada satu pemikiran seperti mesin,” ujarnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, ia memperkenalkan konsep “Eko Spasi”, yaitu ruang berpikir di antara dua pilihan yang bertolak belakang sebelum seseorang mengambil keputusan.

“Tema ini sangat bagus karena di tengah kecepatan teknologi kita harus mengambil jeda di antara 0 dan 1. Jeda itulah yang saya sebut Eko Spasi, yaitu ruang untuk berpikir menggunakan akal dan hati sebelum menentukan keputusan yang bersifat binary,” jelasnya.

Menurut Eko, konsep Eko Spasi dapat diterapkan dalam berbagai bidang, mulai dari politik, ekonomi, dunia usaha, hingga kehidupan sehari-hari. Konsep tersebut lahir dari keresahannya terhadap kecenderungan manusia yang semakin berpikir seperti mesin, tanpa memberikan ruang untuk mempertimbangkan berbagai sudut pandang.

Ia mencontohkan penerapan konsep tersebut dalam dunia bisnis. Ketika menghadapi situasi yang tidak disukai pelanggan, pelaku usaha perlu mencari ruang untuk mengubah kondisi negatif menjadi positif melalui pelayanan atau hospitality recovery.

“Ketika terjadi sesuatu yang bersifat tidak disukai, saya berpikir bagaimana menjadi disukai. Eko Spasi berada di tengah-tengahnya. Dalam bisnis saya menyebutnya hospitality recovery, yaitu mengubah langkah yang bersifat negatif menjadi positif dalam pelayanan,” katanya.

Lebih lanjut, Eko menjelaskan bahwa konstruksi berpikir Eko Spasi dimulai dari intuisi, kemudian berkembang menjadi pemikiran linier, membentuk sistem, hingga menghasilkan cara pandang holistik yang mempertimbangkan banyak aspek. Menurutnya, pemikiran holistik tersebut akan melahirkan identitas atau brand yang kuat, namun tetap harus berlandaskan nilai-nilai tauhid.

“Tidak selamanya persoalan harus dipandang hitam dan putih, tetapi hasil akhirnya memang harus jelas. Dengan konstruksi berpikir Eko Spasi, seseorang akan lebih bijak dalam mengambil keputusan dan mampu melahirkan pemikiran baru,” ungkapnya.

Ia berharap kader HMI, khususnya mahasiswa, tidak terburu-buru mengambil keputusan sebelum mempertimbangkan berbagai sudut pandang.

“Saya berharap kader HMI tetap murni dalam berjuang dan tidak cepat mengambil keputusan binary. Berikan ruang untuk berpikir melalui Eko Spasi sehingga muncul ide-ide baru dan keputusan yang lebih dapat diterima,” pesannya.

Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Kabupaten Kebumen, Nasikin, mengatakan tema diskusi tersebut dipilih karena relevan dengan kondisi masyarakat di era digital yang dibanjiri berbagai informasi.

“Di era digital kita sering kali terjebak dalam narasi karena surplus informasi yang begitu banyak. Karena itu, kita harus mampu bersikap bijak terhadap setiap informasi yang diterima, bukan langsung bereaksi,” ujarnya.

Nasikin berharap kader HMI mampu menjadi pribadi yang tidak reaktif dalam menyikapi informasi, tetapi proaktif dengan mengkajinya secara utuh, mulai dari sumber informasi, siapa yang membuat, hingga dampak yang ditimbulkan.

“Kami ingin kader HMI lebih bijak, tidak reaktif tetapi proaktif. Informasi harus dilihat secara menyeluruh agar keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan pertimbangan yang matang,” katanya.

Ia menambahkan, Forum Intelegensi merupakan agenda rutin HMI Cabang Kabupaten Kebumen yang diselenggarakan dua kali setiap bulan pada hari Sabtu dengan menghadirkan narasumber sesuai bidang keahliannya. Melalui forum tersebut, HMI berharap dapat memperkuat tradisi intelektual kader sekaligus membangun budaya berpikir kritis, reflektif, dan solutif dalam menghadapi tantangan era digital. (K24/Ilham)


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.