PemerintahanPendidikanSEJARAH

Gandeng DPD RI, UMNU Kebumen Kupas Jejak Perjuangan Syaikh Mahfudz Somalangu

5603475
×

Gandeng DPD RI, UMNU Kebumen Kupas Jejak Perjuangan Syaikh Mahfudz Somalangu

Sebarkan artikel ini
Rektor UMNU Kebumen Dr. H. Imam Satibi bersama Wakil Bupati Kebumen H. Zaeni Miftah dan para tokoh NU membuka Seminar Nasional Jejak Kepahlawanan NU di Aula ASWAJA UMNU Kebumen.

KEBUMEN, Kebumen24.com – Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen kembali meneguhkan diri sebagai pusat kajian intelektual Nahdlatul Ulama dengan menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Jejak Kepahlawanan NU & Perjuangan Syaikh Mahfudz Somalangu dalam Meneguhkan Kemerdekaan Indonesia”. Kegiatan ini berlangsung di Aula Aswaja UMNU Kebumen, Minggu, 23 November 2025.

Seminar ini merupakan kolaborasi strategis antara DPD RI, Nahdlatul Ulama, dan UMNU Kebumen, menghadirkan tokoh nasional, akademisi, serta pengasuh pesantren yang memiliki perhatian besar terhadap sejarah perjuangan ulama Nusantara. Hadir untuk membuka acara Wakil Bupati Kebumen, H. Zaeni Miftah, bersama Rektor UMNU Kebumen, Dr. H. Imam Satibi, dan Rois Syuriyah sekaligus Pengasuh PP Al Kahfi Somalangu, K.H. Afifudin Al Hasani.

Para narasumber yang tampil dalam forum ini antara lain Ketua PPUU DPD RI Dr. H. Abdul Kholik, sejarawan UGM Prof. Dr. Arif Ahyat, Rektor UMNU Kebumen Dr. H. Imam Satibi, serta sejarawan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr. Hj. Siti Maryam. Setiap narasumber menyampaikan perspektif mendalam mengenai peran ulama NU dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dengan fokus khusus pada sosok Syaikh Mahfudz Somalangu.

Seminar ini menghadirkan peserta dari berbagai kalangan, mulai akademisi perguruan tinggi ternama seperti UPB Kebumen, IAINU Kebumen, UNIMUGO, UIN Saezu Purwokerto, UNU yogya, UNIGA Cilacap, STAINU Purworejo, Politeknik Ganesa Kebumen, UGM, UIN Surakarta, aktivis muda NU, santri, hingga masyarakat umum. Mereka menyimak materi dengan antusias, menggugah kembali semangat nasionalisme dan kesadaran bahwakontribusi ulama pesantren merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia yang selama ini kurang tercatat dalam literatur arus utama

Rektor UMNU Kebumen Dr. H. Imam Satibi

Dalam sambutannya, Rektor UMNU Kebumen, Dr. H. Imam Satibi, menegaskan kegiatan ini tidak sekadar hajat ilmiah, tetapi bagian dari komitmen UMNU dalam merawat tradisi intelektual dan identitas ke-NU-an.

“Jejak perjuangan Syaikh Mahfudz adalah energi besar bagi kita semua. UMNU ingin memastikan bahwa sejarah tidak hanya dibaca, tetapi dihidupkan, dipahami, dan dijadikan inspirasi untuk menjaga keutuhan bangsa,” ujarnya tegas.

Imam Satibi menekankan pentingnya merawat ingatan kolektif bangsa, terutama atas jasa para ulama NU seperti Syaikh Mahfudz Somalangu. Beliau adalah ulama besar yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga memimpin gerakan diplomasi, kemanusiaan, hingga perjuangan bersenjata untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa Syaikh Mahfudz memimpin Angkatan Oemat Islam (AOI), sebuah laskar santri yang memainkan peran besar dalam perjuangan melawan Jepang, Belanda, dan NICA. Setidaknya tercatat 38 pertempuran yang melibatkan AOI selama revolusi kemerdekaan 1945–1949, termasuk dalam pertempuran 10 November di Surabaya, Palagan Ambarawa, hingga perlawanan mempertahankan garis demarkasi Sungai Kemit, Gombong.

Tidak hanya berjuang di medan perang, Syaikh Mahfudz dikenal sebagai ulama visioner dengan wawasan global. Ia mengikuti perkembangan geopolitik dunia melalui radio dan majalah dari Timur Tengah dan Singapura. Dengan kemampuan diplomatiknya, ia menjadi figur penting dalam komunikasi antara Presiden Soekarno dan Mahatma Gandhi, terutama saat Indonesia mengirim bantuan beras ke India pada 1946 sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan.

Salah satu kisah yang kembali mencuat melalui seminar ini ialah bagaimana Syaikh Mahfudz mengajarkan bahasa Jepang kepada para santri Somalangu. Ketika Jepang masuk ke wilayah Kebumen, komunikasi para santri membuat daerah itu relatif aman dari konflik.

Lebih jauh, Syaikh Mahfudz berhasil menggerakkan masyarakat, simpatisan AOI, dan unit-unit usaha pesantren untuk mengumpulkan bantuan kemanusiaan. Bantuan tersebut kemudian diserahkan kepada pemerintah Indonesia untuk diteruskan ke India, menunjukkan bahwa ulama pesantren memainkan peran penting tidak hanya secara militer, tetapi juga dalam diplomasi internasional berbasis kemanusiaan.

Para narasumber nasional—Dr. Abdul Kholik, Prof. Arif Ahyat, Dr. Imam Satibi, dan Dr. Siti Maryam—memaparkan kiprah perjuangan Syaikh Mahfudz Somalangu di hadapan ratusan peserta seminar.

Sementara itu, Wakil Bupati Kebumen, H. Zaeni Miftah, memberikan pandangan tajam mengenai pentingnya seminar ini sebagai upaya serius untuk menelusuri sejarah ulama dan perjuangan AOI yang kerap disalahpahami.

Menurutnya, generasi muda NU hari ini memiliki semangat kuat untuk mengangkat kembali perjuangan para ulama pesantren. Namun, ia menekankan bahwa narasi sejarah tentang AOI harus terus diluruskan karena selama puluhan tahun terdapat stigma negatif yang dilekatkan kepada laskar tersebut.

“Ada banyak versi sejarah yang berkembang, baik versi pemerintah Orde Lama, Orde Baru, maupun versi keluarga besar AOI sendiri. Ada fitnah-fitnah yang dulu dialamatkan kepada AOI. Inilah yang harus dibuktikan secara empiris,” jelasnya.

Zaeni berharap seminar nasional ini menjadi pintu masuk bagi kajian lanjutan, termasuk seminar tingkat internasional, untuk memperkuat fakta sejarah dan membersihkan stigma keliru yang masih melekat pada AOI hingga kini.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca