Oleh: Muhamad Aulia Puteradian
Masyarakat terdiri dari berbagai kelas sosial yang memiliki karakteristik berbeda. Kelas sosial adalah sekelompok individu dalam masyarakat yang memiliki status sosial ekonomi serupa. Konsep ini mulai dikenal luas pada awal abad ke-19, menggantikan istilah tradisional seperti peringkat dan urutan. Penggunaan istilah ini muncul sebagai respons terhadap perubahan sosial yang terjadi di Eropa Barat pasca-Revolusi Industri dan Revolusi Politik pada akhir abad ke-18. Masyarakat secara umum dibagi menjadi tiga kelas: kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah.
Definisi dan Karakteristik Kelas Menengah
Pandangan para ahli mengenai definisi kelas menengah bervariasi. Birdsall, Graham, dan Pettinato mendefinisikannya sebagai individu dengan pendapatan antara 75% hingga 125% dari median pendapatan per kapita masyarakat. Sementara itu, Banerjee dan Duflo menetapkan kelas menengah sebagai mereka dengan pengeluaran per kapita per hari antara USD 2-4 hingga USD 6-10.
Di Indonesia, masyarakat kelas menengah umumnya adalah mereka dengan pengeluaran bulanan antara Rp2.040.262 hingga Rp9.909.844. Mereka mayoritas bekerja di bidang jasa, seperti guru, tenaga kesehatan, dan pegawai kantoran, dengan kekayaan rata-rata sebesar USD 50.000-500.000. Secara profesi, kelas menengah terbagi menjadi tiga kategori:
- Kelas Menengah Atas: Dokter, akuntan, direktur, dan konsultan.
- Kelas Menengah Menengah: Manajer tingkat menengah, guru, dan perawat.
- Kelas Menengah Bawah: Manajer junior, pengawas, pelajar, dan karyawan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024, jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia mencapai 47,85 juta jiwa. Namun, angka ini menurun dibandingkan tahun 2019, yang tercatat sebanyak 57,33 juta jiwa. Penurunan tersebut setara dengan 9,48 juta orang yang turun kelas menjadi masyarakat kelas bawah.
Faktor-Faktor yang Menggerus Kelas Menengah
Dampak Pandemi COVID-19
Pandemi COVID-19 menjadi salah satu penyebab utama penurunan jumlah kelas menengah. Sektor perdagangan internasional, pariwisata, dan jasa mengalami dampak signifikan. Penurunan permintaan global memaksa perusahaan mengurangi tenaga kerja, memotong jam kerja, atau melakukan PHK, sehingga banyak masyarakat kelas menengah kehilangan pendapatan.
Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani, menyebut sektor pariwisata sebagai sektor yang paling terdampak. Kebijakan mobilitas ketat selama pandemi menyebabkan banyak pelaku usaha, seperti pemilik penginapan dan UMKM, gulung tikar. Dampaknya, para pekerja di sektor ini kehilangan pekerjaan dan jatuh ke jurang kemiskinan.
Kebijakan Ekonomi yang Memberatkan
Selain pandemi, kebijakan pemerintah yang memberatkan juga berkontribusi terhadap tekanan ekonomi masyarakat kelas menengah. Misalnya, wacana kenaikan PPN menjadi 12% pada tahun 2025 dan penerapan potongan Tapera (Tabungan Perumahan Rakyat). Kebijakan ini diperkirakan akan mengurangi daya beli masyarakat dan memperburuk kualitas hidup mereka.
Kenaikan pajak tanpa diimbangi dengan peningkatan pendapatan membuat kelas menengah merasa terpojok, bahkan terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Hal ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga pada perekonomian nasional yang bergantung pada konsumsi domestik.
Peran dan Tantangan Kelas Menengah
Kelas menengah adalah penggerak utama konsumsi domestik, yang merupakan pilar pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketika daya beli mereka menurun, pasar domestik turut terdampak, sehingga pemulihan ekonomi menjadi semakin sulit.
Sebagai kelompok yang rentan terhadap perubahan sosial ekonomi, kelas menengah membutuhkan perhatian khusus. Mereka sering kali terjebak antara kebutuhan untuk mempertahankan gaya hidup tertentu dan tekanan ekonomi yang terus meningkat.
Solusi untuk Mendukung Kelas Menengah
Untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah berikut:
- Kebijakan Pajak yang Adil: Menghindari kenaikan pajak yang terlalu membebani masyarakat, terutama kelas menengah.
- Subsidi dan Insentif: Memberikan dukungan kepada sektor-sektor yang paling terdampak, seperti UMKM dan pariwisata, guna mendorong pemulihan ekonomi.
- Akses Pendidikan dan Pelatihan: Menyediakan pendidikan berkualitas dan pelatihan kerja untuk membantu masyarakat kelas menengah beradaptasi dengan perubahan kondisi ekonomi.
- Perlindungan Sosial: Memperluas jangkauan asuransi kesehatan dan program bantuan sosial untuk kelas menengah yang rentan.
Penutup
Masyarakat kelas menengah memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi Indonesia. Namun, berbagai tantangan seperti pandemi, kebijakan yang memberatkan, dan kenaikan harga barang telah membuat banyak dari mereka terperosok ke dalam kemiskinan.
Dengan kebijakan yang tepat dan dukungan dari berbagai pihak, kelas menengah dapat kembali menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Stabilitas sosial dan ekonomi yang terjaga akan membuka jalan menuju pemulihan ekonomi yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Penulis :Muhamad Aulia Puteradian
Editor : Redaksi Kebumen24.com
Bagikan ini:
- Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
- Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
Terkait
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.















