SEJARAH

Sejarah Desa Candiwulan Adimulyo, Dulu Daerah Subur ‘’Tongkat Kayu dan Batu Jadi Tanaman’’

2943
×

Sejarah Desa Candiwulan Adimulyo, Dulu Daerah Subur ‘’Tongkat Kayu dan Batu Jadi Tanaman’’

Sebarkan artikel ini
Kantor Desa Candiwulan Adimulyo (Dok: Desa)

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Candiwulan Adimulyo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Desa ini memiliki sejarah yang kaya dan dikenal dengan kesuburan tanahnya, yang selaras dengan pepatah “Tongkat Kayu dan Batu Jadi Tanaman”.

Dikutip dari Laman Situs Resmi Desa Candiwulan Kecamatan Adimulyo, Jumat 5 Juli 2024. Dituliskan, Desa Candiwulan terdiri 3 dusun, diantaranya, Dusun Kesongging, Dusun Srepeng dan Dusun Klapasawit. Ketiga dusun tersebut terletak di 9 Rt dan 3 Rw. Dukuh Kesongging :

Masa Penjajahan Belanda, Tanahnya Subur

Konon menurut cerita, sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1940 Negara Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Namun masyarakat desa Candiwulan hidupnya tenteram, meskipun sedang dijajah. Bahkan, setiap orang bercocok tanam selalu subur, hingga ada pepatah tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Mas Penjajahan Jepang, Masyarakat Sengsara

Tak hanya itu, seluruh masyarakat di suruh sekolah gratis, bahkan alat-alat sekolah pun diberikan. Namun setelah Bangsa Belanda mundur dari Indonesia, masuklah Bangsa Jepang menjajah Indonesia pada tahun 1942 dengan julukan Bangsa Nipon atau Anjing Nika.

Kala itu masyarakat Indonesia termasuk Desa Candiwulan hidupnya sengsara. Semua hasil bumi dirampas dengan adanya teori Alarem, dimana , jika Alarem berbunyi masyarakat disuruh masuk lobang di dalam tanah.

Muncul Pageblug

Masa itu, seluruh hasil bumi di rampas oleh tentara Jepang dan dibuang ke laut.  Ini membuat masyarakat menjadi kelaparan dan timbul beberapa penyakit disebut juga muncul pageblug. Paling banyak masyarakat menderita penyakit koreng dan demam. Bahkan orang mati dalam setiap hari lebih dari satu.

Banyak Berbuat Maksiat, Pimpinan Lurah Jadi Pelopor Judi

Pada jaman itu orang yang masih percaya pada tahayul dan orang sholat boleh dikatakan masih bisa dihitung dengan jari. Tak sedikit, orang berbuat maksiat, seperti judi, minuman keras, main perempuan, dan bahkan seorang Pimpinan Lurah pun juga menjadi pelopor judi dan banyak yang beristri lebih dari satu masa jajahan Jepang selama 3,5 tahun.

Setelah Indonesia Merdeka Muncul Gerakan G 30 S/PKI

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1965 muncul gerakan G 30 S/PKI. Kala itu warga Candiwulan juga ada yang tersangkut G 30 S/PKI.

Pada tahun 1966 juga ada pageblug lagi, petani gagal panen karena muncul hama tikus yang luar biasa. Kemudian masyarakat kelaparan lagi.

Masuk Pemerintah Orde Baru

Setelah masuk Pemerintah Orde Baru, sedikit demi sedikit masyarakat mulai ada perubahan dari segi pendidikan umum maupun pendidikan agama .

Pada tahun 1976 di Kesongging mendirikan Masjid, dengan menebang Pohon Jati yang dahulu dianggap sebagai punden. Pohon itu ditebang oleh KH Ansori, BA di tebang untuk membangun Masjid Kesongging.

Meski menuai pro dan kontra, namun keinginan keras K.H. Ansori,BA akhirnya pohon kayu Jati tetap ditebang dan kemudian dijadikan bahan untuk membuat Masjid.

Masyarakat Mulai Rajin Ibadah

Setelah ada Masjid masyarakat mulai banyak yang rajin beribadah. Satu demi satu ada yang naik Haji, muncul rombongan Yasinan/Tahlil,anak –anak mengaji. Atas jasanya, hingga saat ini, K.H. Ansori,BA  dikenal sebagai tokoh Agama Islam  di Kesongging, dan maka dijadikan Kyai.

Asal Mula Dukuh Kesongging

Dari sumber pelaku sejarah yang bernama Wirareja (Kami Tua ) pernah bercerita bahwa Dukuh Kesongging diambil dari riwayat jaman dahulu. Dimana, ada seorang ahli sungging, namun bukan sungging wayang tapi sungging batik,

Namanya Nyai Kweni atau Nyai Woni. Ia ada hubungannya dengan Mbah Sabuk Mimang. Namun entah istri entah saudara. Ia memiliki pekerjaan nyungging batik, tapi entah kenapa sekarang ada pesarehan Nyai Kweni berada di Dukuh Srepeng, dan masyarakat tidak ada yang mengetahui secara persis pada tahun berapa.

Ini hanya menurut cerita sepotong-potong, namun kerap dikaitkan dengan bukti yang ada di dukuh Kesongging. Terdapat pula sawah yang namanya Si Woni dan kalau kaitkan dengan Dukuh Ngebak juga nyambung.

Di Ngebak ada pabrik wedel di Kesongging dan ahli sungging batik. Jadi di namakan Dukuh Kesongging  semua itu diperkirakan pada masa Pemerintahan Belanda menjajah Indonesia +  tahun 1830.

Asal Mula Dukuh Srepeng

Dukuh Srepeng Asal mulanya karena sebagian besar masyarakat sebagai penjual bibit sayuran yang dihasilkan dari menanam sendiri. Cikal bakal orang yang menghuni wilayah Srepeng adalah bernama Sabuk Mimang. Ia dikenal sebagai orang sakti tersebut mempunyai jimat berupa sabuk.

Terdapat ‘’Sawah Sabuk’’ Milik Lurah

Dan selanjutnya nama tersebut digunakan sebagai nama sawah Lurah yaitu sawah Sabuk. Menrutu cerita, Lurah yang menggarap sawah, atau mau pergi menengok ke sawah harus mengenakan Sabuk. Jika lupa tidak mengenakan sabuk maka sampai di sawah dikejar-kejar oleh ular besar yang dikepalanya ada tangkai padinya.

Tradisi Bulan Syura

Tradisis masyarakat di Dukuh Srepeng pada jaman dulu setiap bulan syura menggelar Syuran dengan menyembelih Kerbau. Kemudian dagingnya dibagikan kepada seluruh warga setelah dimasak (becek).

Setelah itu masyarakat disuruh mengambil sendiri dengan membawa bambu (bumbung). Sedangkan kepala kerbau ditanam di perempatan jalan namanya Prabatan (nama tempat keramat jaman dahulu). Kemudian sorenya diadakan kenduri.

Sampai sekarang adat tersebut sebagian masih dilaksanakan oleh warga tetapi yang disembelih adalah kambing. Daging kambing kemudian dibagikan kepada warga. Termasuk untuk membuat selamatan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam yaitu dengan mengadakan tahlil, pengajian dan doa bersama.

Dukuh Kelapasawit

Tersebutlah seorang pengembara yang bernama Jiwantaka. Pada suatu hari dia beristirahat di tengah hutan. Saat beristirahat dia melihat ada keanehan di hutan ini yaitu ada satu pohon kelapa yang tumbuh diantara pohon-pohon yang lain.

Sebelum dia melanjutkan perjalanannya mengembara, ia membuka lahan untuk tinggal sementara waktu. Untuk memberi tanda /tetenger, tempat ini diberi nama Kelapa Sak Wit, yang artinya pohon kelapa satu batang.

Untuk mempermudah pengucapannya kalimat Kelapa sak wit lama-lama berubah menjadi Kelapasawit. Sebelum melanjutkan pengembaraannya beliau sempat berpesan, ‘’Jika Anak Keturunannya Bertanya Tentang Saya, Disinilah Tempat Petilasannya’’.

Terdapat bukti bahwa peristiwa di atas pernah terjadi. Yakni di sebelah barat daya dukuh Kelapasawit terdapat tempat yang oleh Masyarakat di yakini sebagai pesanggrahan Jiwantaka. Masyarakat menyebutnya ‘’Mbah Jiwantaka’’.

Dan pada hari hari tertentu sebagian Masyarakat dukuh Kelapasawit mengadakan do’a untuk Mbah Jiwantaka karena atas jasa-jasa beliau.

Terbentuknya Pemerintah Desa

Terbentuknya Pemerintah Desa Candiwulan pada saat itu dahulunya terdiri dari Desa Klapasawit dan dari 2 dukuh. Yakni dukuh Kesongging dan dukuh Srepeng.

Secara wilayah daerah ini berupa daratan yang kalau dilihat dari atas seperti huruf C atau berbentuk bulan, sehingga dinamakan Candi dan bulan sehingga tersebut nama “Candiwulan “.

Kala itu ada juga yang menamakan seperti Desa Candiwulan, Kemudian di gabung menjadi 1 Pemerintahan yang pada saat itu dinamakan Pemblengketan yaitu menjadi Pemerintah Desa Candiwulan.

Sumber : https://candiwulan.kec-adimulyo.kebumenkab.go.id/

 

 


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.