KEBUMEN, Kebumen24.com – Apakah Anda termasuk orang yang sering berinteraksi dengan wartawan? Pernahkah Anda bertanya-tanya apakah orang yang mengaku wartawan itu benar-benar sah?
Di era digital saat ini, di mana siapa pun dapat mengaku wartawan, penting untuk mengetahui cara membedakan wartawan resmi dan wartawan palsu.
Berikut cara mengenali wartawan resmi dan wartawan abal-abal bisa dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal berikut:
Wartawan Resmi
Identitas yang Jelas:
- Wartawan resmi biasanya memiliki kartu pers yang dikeluarkan oleh media tempat mereka bekerja.
- Kartu pers ini biasanya mencantumkan nama, foto, nomor kartu pers, serta nama media.
Bekerja untuk Media Terkenal:
- Wartawan resmi umumnya bekerja untuk media yang dikenal luas dan memiliki reputasi baik.
- Media tersebut bisa berupa koran, majalah, stasiun TV, radio, atau portal berita online yang diakui.
Lisensi atau Akreditasi:
Wartawan resmi seringkali terdaftar di organisasi pers atau memiliki akreditasi dari lembaga terkait seperti Dewan Pers di Indonesia.
Perilaku Profesional:
- Mereka menjalankan tugas dengan profesionalisme, etika jurnalistik, dan memiliki sikap yang sopan.
- Mereka mengikuti kode etik jurnalistik dalam peliputan dan penulisan berita.
Pengetahuan Mendalam:
- Wartawan resmi biasanya memiliki pengetahuan mendalam tentang topik yang mereka liput.
- Mereka melakukan riset dan wawancara dengan narasumber yang relevan.
Wartawan Abal-abal
Identitas yang Meragukan atau Tidak Ada:
- Wartawan abal-abal seringkali tidak memiliki kartu pers atau menggunakan kartu pers palsu.
- Identitas yang mereka tunjukkan bisa jadi tidak resmi atau tidak valid.
Tidak Jelas dari Mana Mereka Berasal:
- Mereka mungkin mengklaim bekerja untuk media yang tidak dikenal atau fiktif.
- Tidak ada informasi yang jelas mengenai alamat redaksi, nomor telepon, atau situs web resmi.
Tidak Terdaftar atau Tidak Memiliki Akreditasi:
Wartawan abal-abal biasanya tidak terdaftar di organisasi pers atau tidak memiliki akreditasi yang diakui.
Perilaku Tidak Profesional:
Mereka mungkin berperilaku tidak sopan, memaksa, atau mengancam untuk mendapatkan informasi atau keuntungan pribadi.
Mereka mungkin tidak mematuhi kode etik jurnalistik.
Pengetahuan yang Dangkal:
- Wartawan abal-abal mungkin tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang topik yang mereka liput.
- Mereka seringkali tidak melakukan riset yang cukup atau tidak memiliki sumber yang dapat dipercaya.
Tips Menghindari Wartawan Abal-abal
- Selalu meminta dan memeriksa kartu pers atau identitas resmi wartawan.
- Verifikasi informasi dengan menghubungi media tempat wartawan tersebut bekerja.
- Jika ada keraguan, lebih baik menolak untuk memberikan informasi atau wawancara.
- Laporkan wartawan abal-abal kepada pihak berwenang atau organisasi pers terkait.
Dengan mengenali ciri-ciri di atas, kita bisa lebih berhati-hati dan memastikan bahwa informasi yang kita berikan atau terima berasal dari sumber yang kredibel.(k24/*).
- Sumber Referensi : Dewan Pers dan PWI
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















