oleh : KRAP Arif Priyantoro Reksoningrat S.Sos
KEBUMEN, Kebumen24.com – Di balik kekayaan sejarah dan budaya Kabupaten Kebumen Jawa Tengah, ternyata terdapat kisah heroik tentang perjuangan dan semangat pantang menyerah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Legenda ini menceritakan awal mula perlawanan Senopati Pujo Gomowijoyo dan Raden Jomenggolo.
Dua tokoh ini yang dikenal sebagai pahlawan daerah. Terus apa hubungan dengan legenda Kupu Tarung yang menjadi bagian dari ikon Kebumen? Simak Ulasan awal mula ceritanya!
Terjadinya Perang Jawa
Perang Jawa terjadi mulai 20 juli 1825 dan berakhir pada 28 maret 1830, atau sering disebut perang Diponegoro. Ini adalah perang besar yang pernah terjadi di pulau jawa dengan kerugian 8000 serdadu V.O.C Belanda dan di tambah sekitar 7000 orang pribumi yang menjadi anggota pasukan V.O.C Belanda. Akiba perang ini, kerugian ditkasir sekitar 20 Miliun Gulden (sanusi pane 1956).
Pasca perang diponegoro.Pemerintah V.O.C Belanda berusaha memperlemah kedudukan Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Tumenggung Cokrojoyo yang bergelar Resodiwiryo setelah mendapatkan jabatan sebagai pengusaha di Brengkelan (Purworejo). Ini diberikan karena jasanya membantu memerangi pasukan Diponegoro dengan menyisihkan Pangeran Koesoemoeyoeda.
V.O.C Belanda pernah mengirim delegasi ke Surakarta dan akan menjadikan tanah bagelen menjadi tanah karisidenan. Akan tetapi delegasi ini gagal karena Susuhunan tidak mau terima delegasi tersebut.
Karena merasa kesal Susuhunan PB IV meninggalkan keraton secara diam diam.pada tanggal 5/6 Juni1830. Kemudian ia pergi ke makam leluhurnya di Mogiri dan ke Mancingan.lolosnya Paku Buwono.
Lolosnya Paku Buwono VI dari keraton secara diam diam sangat mengejutkan V.O.C Belanda. Karena takut terjadi huru hara lagi Susuhunan Paku Buwono di nyatakan bersalah,dan di asingkan ke ambon pada 3 juli 1830. Pada tanggal 3 juni 1849. Susuhunan Paku Buwono di nyatakan meninggal dunia.
Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap,prajurit yang setia terus melanjutkan perjuangan, namun tidak sebesar perlawanan saat masih dipimpin Pangeran Diponegoro. Ini karena banyak juga kawan seperjuangan yang membelot bergabung dengan V.O.C Belanda.
Tinggallah benteng pertahanan terakhir perlawanan di Panjer Roma. Adipati Aroengbinang memimpin prajurit Kasultanan Jogjakarta dan Kasunanan Surakarta bergabung dengan pasukan V.O.C Belanda. menuju ke Panjer Roma.
Awal Mula Perlawanan Senopati Pujo Gomowijoyo dan R. Jomenggolo
Saat itu Panjer Roma dipimpin oleh K.R.A.T Kolopaking IV yang bergabung dengan Pangeran Diponegoro melawan V.O.C Belanda.Terjadi pertempuran besar di daerah Rowo Ngambal. Prajurit Panjer Roma terdesak dan mundur masuk pertahanan Paya-paya rawa.
Kemudian K.R.A.T Kolopaking IV menitipkan surat kepada P. Suro mentaram untuk di sampaikan kepada Senopati Gomowijoyo dan Senopati Jamenggolo agar prajurit Panjer Roma di tarik kembali ke Panjer Roma. Setiba di Panjer Roma K.R.A.T Kolopaking IV langsung ke Pendopo untuk menyusun strategi.
Senopati Gomowijoyo, Senopati Jomenggolo dan Demang Larasoro mendapatkan tugas di daerah sektor barat. Ini meliputi Petanahan, Brecong dan bocor dengan kekuatan 200 prajurit dibantu penduduk setempat. Kemudian ditambah daerah puring,sikayu rowokele,dan ngijo dengan kekuatan 300 prajurit di bantu masyarakat.
Sektor timur di pimpin oleh Ngabehi Joko Lorek, Ngabehi Wirokerti meliputi Kutowinangun, Kedung Tawon, Wonosari, Gesikan, Bulus Pesantren dengan kekuatan 400 prajurit. Ini tambah laskar dari Alian dan Laskar Somelangu Pesantren serta masyarakat setempat. Terjadilah pertempuran sengit di Ngijo dan Rowokele yang di pimpin Senopati Jomenggolo.
Dalam pertempuran itu, V.O.C Belanda dan Prajurit Banyumas tidak mudah meladeni pasukan Panjer Roma yang di pimpin Senopati Jomenggolo. Bahkan harus melewati beberapa hari baru bisa mendekati daerah pertahanan Panjer Roma.
Prajurit Adipati Aroengbinang IV dari kraton Kasunanan Surakarta di bantu Prajurit Mangkunegaran dan V.O.C Belanda dengan peralatan modern terus menggempur pasukan Panjer Roma. Kemudian terdesak sampai Kutowinangun.
Prajurit Panjer Roma tercerai berai. Kutowinangun dan Kedung Tawon diduduki V.O.C dan pasukan Aroengbinang IV serta prajurit Mangkunegaran.
Peristiwa Kupu Tarung
Sampai akhirnya K.R.A.T Kolopaking terkepung dipendopo Panjer. Kemudian terjadilah pertempuran satu lawan satu dengan Aroengbinang IV. Peristiwa inilah yang terkenal dengan Perang Puputan ‘’Kupu Tarung’’.
Pertempuran tersebut akhirnya di menangkan oleh Adipati Aroengbinang IV. Sedangkan K.R.A.T Kolopaking IV wafat dan di makamkan di kalijirek.
Kemudian para petinggi Panjer Roma berkumpul dan sepakat mengangkat Kyai Endang Kertowongso sebagai pengganti K.R.A.T Kolopaking IV.
Setelah itu, laskar laskar Panjer Roma yang tersisa di bawah pimpinan Kyai Endang Kertowongso mendeklarasikan diri menjadi Panjer Gunung.
Pasukan Panjer gunung berhasil melakukan penyerangan di Karangsambung yang di pimpin oleh Adipati Kertodono dan Senopati Jomenggolo,sampai pasukan Aroengbinang. Hingga akhirnya V.O.C Belanda mundur lewat Selorondo.
Tiga petinggi Belanda naik pitam akan kekalahan pasukan nya,kemudian ketiga Mayor Belanda tersebut (Mayor Magelis,Mayor Biskus,Mayor Van Rojen) menyusun strategi untuk melakukan serangan balasan.
Ke esokan harinya serangan balasan di lancarkan secara besar besaran. Pertahanan Panjer Gunung di serang dari berbagai lini. Pada saat serangan gencar di lakukan Adipati Kertodono (Sigaloh) tertembak bahu kirinya, dan di bawa ke baniyoro, namun karna kehabisan darah beliau wafat di perjalanan.
Pasukan Panjer gunung akhirnya terdesak dan bertahan mundur dan naik ke Gunung Paras. Setelah itu, Pasukan Panjer Gunung akhirnya melakukan serangan secara gerilya dipimpin Kyai Endang kertowongso dan Senopati Gomowijoyo. Demikian juga Senopati R. Jomenggolo dan Ngabehi wirokerti juga melakukan perang secara bergerilya.
Dengan demikian komunikasi para pemimpin Panjer pun terputus. Tapi siasat ini cukup membuat V.O.C Belanda dan sekutunya pusing dan kalang kabut.
Di kota Panjer Roma yang sudah di duduki pasukan Aroengbinang IV dan V.O.C belanda juga belum aman karena perlawanan masih terus di lancarkan oleh pasukan Panjer yang di pimpin oleh Senopati Gomowijoyo dan Senopati Jomenggolo.
V.O.C Belanda yang di pimpin oleh jendral graaf Van Den Bosh akhirnya mengisyaratkan untuk gencatan senjata dan menggelar perundingan dengan para pemimpin Panjer Gunung.
Akhirnya terjadi kesepakatan dan surat persetujuan tersebut di serahkan pada Adipati Kertanegara. Para senopati Panjer Gunung saat itu masih di medan gerilya sehingga komunikasi terputus,Adipati Kertanegara pun tidak berhasil menyampaikan persetujuan yang telah di sepakati.
Adipati Kertanegara hanya bertemu dengan Kyai Endang Kertowongso dan K.H.Weleran. Keduanya menyetujui kesepakatan yang sudah di sepakati.
Senopati Gomowijoyo dan Senopati R. Jomenggolo tidak tahu ada persetujuan genjatan senjata dan perdamaian. Keduanya masih meneruskan perjuangan dengan bergerilya dalam kota maupun desa-desa.
Mereka menghadang patroli dan membakar rumah-rumah para demang dan pejabat V.O.C. Keadaan kota Panjer tidak aman dan penduduk gelisah dan was-was akan terjadi perang kota.
Terjadi Kemarau Panjang
Saat itu terjadi kemarau panjang, hasil pertanian buruk dan banyak yang mispro, petanipun tambah sengsara. Perdagangn di Panjer Roma merosot dan lesu, perindustrian tidak berkembang bahkan menurun.
Setiap malam pasukan Senopati Pujo Gomowijoyo dan Senopati R. Jomenggolo selalu melancarkan serangan bergerilya. V.O.C Belanda. Kebumdian pemerintahan Adipati Aroengbinang IV membuat maklumat kepada seluruh penduduk yang isinya :
‘’Barang siapa yang dapat menangkap hidup atau mati kecu, brandal atau perampok garong yang bernama Pujo Gomowijoyo dan R. Jomenggolo akan diberi hadiah yang besar serta akan diberi pangkat dan kedudukan yang tinggi serta sanak saudara terjamin dan tercukupi.’’
Beberapa hari kemudian, kolektur Panjer yang bernama Mas Semedi atau R. Ngabehi Mangunprawiro tertarik untuk ikut mencoba. Kemudian beliau pergi ke Ambal menemui lurah Ambal yang bernama Kyai Joyolelor dan lurah Sijeruk Kyai Wargantaka.
Mereka sepakat merencanakan jebakan menangkap Pujo Gomowijoyo. Keesokan harinya mereka memanggil R. Joko Anduko untuk merencanakan penangkapan Pujo Gomowijoyo. R. Jojo Andoko membuat pengumuman kepada penduduk sesumbar menantang perang tanding pada Pujo Gomowijoyo.
Hingga akhirnya Pujo Gomowijoyo keluar dari persembunyiannya dan menerima tantangan R. Joko Andoko. Belum lama terjadi pertempuran, Pujo Gomowijoyo disergap pasukan V.O.C Belanda dan pasukan Adipati Aroengbinang IV kemudian diringkus dan diadili ditempat.
Senopati Pujo Gomowijoyo dieksekusi, dipenggal kepalanya, badannya dikubur didaerah bocor dan kepalanya dibawa ke Pendopo Panjer Roma. Sebagai bukti bahwa Senopati Pujo Gomowijoyo sudah dipenggal. Senopati R. Jomenggolo masih gencar memberikan perlawanan di Kota Panjer Roma.
Tidak lama kemudian perssembunyian R. Jomenggolo tercium oleh V.O.C, karena di dalam penduduk ada mata-mata V.O.C. Pada saat R. Jomenggolo solat, beliau dikepung dan ditangkap tetapi R. Jomenggolo masih melakukan perlawanan sampai pohon beringin dekat Masjid yang sekarang berada di tengah Alin-alun.
R Jomenggolo dikepung dan ditembaki dari segala penjuru sampai akhirnya beliau menghilang atau moksa. Hingga sekarang cerita R. Jomenggolo masih abadi dan nama R. Jomenggolo sendiri diabadikan menjadi nama sebuah gang di utara SMP N 5 Kebumen.(k24/*).
- Referensi : Sejarah Silsilah Wiraseba Banyumas Ki ageng Mangir Kolopaking
- Penulis : R. Tirtowenang Kolopaking
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















