KEBUMEN, Kebumen24.com – Buluspesantren merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini terletak di sebelah selatan Kota Kebumen.
Dikutip dari laman resmi Kecamatan Buluspesantren menyebutkan, Jarak Kecamatan Buluspesantren dari Kota Kebumen adalah 18 kilometer melalui Desa Tambakrejo. Luas wilayahnya 70,48 km², dengan jumlah penduduk sekitar 51.663 jiwa (laki-laki 26.371 orang dan perempuan 26.292,
Kecamatan Buluspesantren terdiri atas 21 desa, 82 RW, dan 386 RT. Pusat pemerintahan Kecamatan Buluspesantren berada di Desa Setrojenar.
Kecamatan Buluspesantren merupakan kecamatan persimpangan karena merupakan penghubung antara jalur tengah Jawa Tengah melalui pusat Kabupaten Kebumen dengan jalur selatan atau Daendels.
Jumlah Desa/kelurahan
- Ambalkumolo
- Ampih
- Arjowinangun
- Ayamputih
- Banjurmukadan
- Banjurpasar
- Bocor
- Brecong
- Buluspesantren
- Indrosari
- Jogopaten
- Kloposawit
- Maduretno
- Ranteringin
- Sangubanyu
- Setrojenar
- Sidomoro
- Tambakrejo
- Tanjungrejo
- Tanjungsari
- Waluyo
Batas-batas Wilayah
- Sebelah Barat: Kecamatan Klirong
- Sebelah Timur: Kecamatan Ambal
- Sebelah Utara: Kecamatan Kebumen dan Kecamatan Kutowinangun
- Sebelah Selatan: Samudra Hindia
Geografi
Kecamatan Buluspesantren memiliki geografi berupa dataran rendah, muara sungai dan wilayah pesisir. Wilayah pesisir Kecamatan Buluspesantren dikenal dengan nama Urut Sewu.
Kecamatan Buluspesantren yang berbatasan dengan Samudra Hindia memiliki wilayah pesisir atau pantai sepanjang sekira 10,5 kilometer mulai dari Desa Ayamputih, Desa Setrojenar, dan Desa Brecong. Ketinggian rata-rata Kecamatan Buluspesantren adalah 9 meter di atas permukaan air laut.
Sejumlah sungai yang ada di wilayah ini antara lain Sungai Luk Ulo, Sungai Kedungbener, Sungai Pucang, Sungai Gunem, Sungai Luweng, Sungai Garung, dan Sungai Tirtomyo (Jogopaten/ Klepudukuh).
Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di Kecamatan Buluspesantren sebagian besar digunakan sebagai lahan persawahan terutama di wilayah utara hingga tengah. Sementara semakin ke selatan atau pesisir, lahan yang mengandung lebih banyak pasir digunakan untuk pertanian palawija dan sentra buah serta sayur mayur.
Sebagian besar lahan perswahan di Kecamatan Buluspesantren merupakan jenis sawah irigasi dari Waduk Wadaslintang dan Sungai Luk Ulo. Hasil bumi Kecamatan Buluspesantren berupa padi, sayur-mayur, buah buahan, palawija, dan nira kelapa.
Transportasi
Transportasi di Kecamatan Buluspesantren berupa angkutan kota berupa angkutan pedesaan dengan trayek Kebumen-Bocor yang menghubungkan sejumlah desa di Kecamatan Buluspesantren dengan pusat Kabupaten Kebumen.
Selain itu terdapat pula bus antar kota yang melintasi Kecamatan Buluspesantren. Hal tersebut dikarenakan Kecamatan Buluspesantren juga dilintasi jalan alternatif jalan lintas selatan selatan (JLSS) atau jalan Daendels. Ruas jalan tersebut menghubungkan sejumlah kota di jawa bagian selatan seperti Kabupaten Purworejo, Kabupaten Cilacap, Kota Yogyakarta dan lainnya.
Selain itu juga dilintasi jalan alternatif Lingkas Luas Kota Kebumen – Bocor – Daendels. Kemudian ruas alternatif jalan nasional Kebumen – Kloposawit – Bocor – Daendels. Sarana dan Prasaran penunjang seperti jalan hotmix dan jembatan sudah baik diruas vitas wilayah ini.
Penduduk
Sebagian besar penduduk Kecamatan Buluspesantren berprofesi sebagai nelayan, petani, buruh tani, Ibu Rumah Tangga, Wiraswasta dan PNS. Umumnya penduduk usia produktif pergi merantau atau bersekolah ke kota besar seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi (Jabotabek), Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surabaya, Kota Yogyakarta, Kota Surakarta, Purwokerto dan sejumlah kota besar di luar pulau seperti Sumatra, Bali, dan Kalimantan.
Mayoritas penduduk Kecamatan Buluspesantren memeluk agama Islam dan ada juga yang beragama Kristen. Jenjang pendidikan yang dicapai penduduk di wilayah ini adalah hingga Universitas meski sebagiaan besar tamatan Sekolah menengah pertama
Sekolah Menengah
Beberapa sekolah menengah negeri dan swasta yang ada di Kecamatan Buluspesantren adalah sebagai berikut:
- SMAN 1 Buluspesantren
- SMPN 1 Buluspesantren
- SMPN 2 Buluspesantren
- SMP Muhammadiyah Buluspesantren
- SMP PGRI Buluspesantren
- MTs Al Mansyuriyah Banjurpasar
- MTs Al Yusufiyah Sangubanyu
- MTs Al Fatah Sidomoro
- MTs KHR Ilyas Tambakrejo
Sarana Publik
Sarana publik di Kecamatan Buluspesantren cukup bagus dengan adanya pasar tradisonal, langgar, masjid, gereja yang mendukung serta fasilitas kesehatan. Berikut sejumlah fasilitas umum yang ada di Kecamatan Buluspesantren:
- Pasar Kloposawit di Desa Kloposawit
- Pasar Serut di Desa Ampih
- Pasar Warung Pring di Desa Ranteringin
- Pasar Bocor di Bocor
- Puskesmas Buluspesantren I di Desa Setrojenar
- Puskesmas Buluspesantren II di Desa Rantewringin
- Kantor Pos Buluspesantren di Desa Setrojenar
Pariwisata & Sosial Budaya
Kecamatan Buluspesantren memiliki objek wisata yang tidak hanya dikenal di Kabupaten Kebumen tetapi daerah luar Kabupaten Kebumen. Berikut tempat wisata yang ada di Kecamatan Buluspesantren
- Pantai Bocor ( Sebenarnya adalah Pantai Setrojenar)
Pantai Setrojenar atau populer dengan sebutan Pantai Bocor berada di Desa Setrojenar. Pantai Bocor berada sekitar 13 km ke arah selatan dari pusat Kota Kebumen.
Jika Anda dari arah DKI Jakarta atau Kota Yogyakarta alangkah baiknya melalui Jalur Lingkar Selatan Selatan (JLSS) atau Jalan Deandels, karena akan lebih mudah menuju ke pantai ini.
Sebelum sampai ke Pantai Bocor, Anda akan disuguhi pemandangan hamparan kebun pepaya dan juga semangka milik warga setempat. Jika sedang musim panen Anda boleh membelinya langsung. Seperti pantai kebanyakan yang berhadapan dengan Samudera Hindia, deburan ombak ganas dan pasir hitam mengkilap akan menyapa pengunjung sesampainya di bibir pantai.
Di tepi pantai ini juga berjejer warung-warung makan, cindera mata hingga kolam berenang untuk anak-anak. Jika mampir ke salah satu warung di sana jangan lupa mencicipi rempeyek undur-undur laut khas Pantai Bocor. Warga menyebutnya Peyek Yutuk. Sembari menunggu senja datang, berolahraga pantai atau menunggang kuda menjadi alternatif kegiatan di pantai ini.
Pantai ini tidak setiap hari buka karena sewaktu-waktu akan ada latihan militer dari Tentara Negara Indonesia (TNI). Kawasan Urut Sewu memang dikenal sebagai tempat latihan militer. Pangkalan TNI di Pantai Bocor dilengkapi dengan kantor. Sehingga, infrastruktur di tempat tersebut dibangun.
- Pantai Brecong
Pantai Brecong terletak di Desa Brecong. Pantai Brecong terletak sekitar 10 km arah selatan kota Kebumen. Dari pusat Kecamatan Buluspesantren, jaraknya sekitar 4 km, ke arah timur berbelok keselatan.
Di kawasan pantai tersebut, para pengujung tidak hanya disuguhi panorama pantai semata. Sebuah benda cagar budaya petilasan Joko Sangkrib terletak tidak sampai 200 meter dari bibir pantai. Legenda Joko Sangkrib merupakan salah satu potongan kisah dari sejarah Kabupaten Kebumen. Dialah yang kelak di kemudian hari nyekel panguwoso (menjabat) Bupati Kebumen pertama berjuluk Adipati Aruing Binang I.
Tak jauh dari petilasan tersebut, terdapat bekas pendopo sang bupati. Meski bersisa puing-puing, masyarakat desa setempat masih sangat menghormatinya. Tak sampai sepelemparan batu dari tempat itu, sebuah bekas rumah, yang konon rumah tinggalan warga negara Belanda berada di tempat itu.
Pantai Brecong merupakan kawasan objek wisata yang terlupakan. Di era 1980-1990, Pantai Brecong merupakan jujugan utama para wisatawan yang ingin menikmati parnorama pantai di Kecamatan Buluspesantren.
Sayang sekali, sejak kawasan Urut Sewu menjadi pangkalan TNI pada tahun 1980-an, pengunjung lebih memilih Pantai Bocor. Kawasan Urut Sewu memang dikenal sebagai tempat latihan militer.
- Pertapaan Joko Sangkrib
Menurut catatan sejarah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), Kabupaten Kebumen, Joko Sangkrib pernah menjadikan petilasan di dekat Pantai Brecong, Desa Brecong sebagai pertapaan saat melakoni perjalanan spiritualnya. Kelak kemudian hari, Joko Sangkrib dikenal dengan nama Aruingbinang Bupati Kebumen I.
Dua buah petilasan berupa makam dan bekas tempat pertapaan ada di tempat itu. Makam itu adalah makam Mbah Bondoyudo dan Nyai Bondoyudo, leluhur Joko Sangkrib.
Sebuah pohon waru yang diyakini berusia ratusan tahun berdiri di sisi kedua makam. Alkisah, Joko Sangkrib bertapa di dekat makam Mbah Bondoyudo, nglakoni tapa pendhem (bertapa di dalam tanah). Laku perihatin itu dilakoni selama 40 hari 40 malam.
Pohon waru merupakan penanda apakah Joko Sangkrib berhasil atau tidak menjalani laku prihatinnya. Tepat pada hari ke-40, pohon waru ternyata tidak mati dan Joko Sangkrib juga masih hidup.
Sampai saat ini, pohon waru itu masih ada. Singkat cerita, setelah selesai bertapa, Joko Sangkrib sempat tinggal di Desa Brecong, sebelum melanjutkan perjalanannya ke arah timur. Di Desa Brecong, Joko Sangkrib menjadi penolong warga dari malapetaka. Pada akhir cerita, Joko Sangkrib mendapat ‘kamukten’, menjadi Adipati Aruingbinang.
Asal Muasal Nama Buluspesantren, Kebumen
Jika dilihat dari namanya, kecamatan Buluspesantren memiliki nama yang unik. Terdiri dari dua kata yakni “bulus” dan “pesantren”, mengapa wilayah ini bernama demikian?
Dikuti dari laman website santossalam.blogspot.com, menulis pada suatu hari, terdapat dua anak kembar mengaji di pesantren yang dipimpin oleh seorang Pak Kyai. Dua anak kembar ini mempunyai perangai sifat yang sangat berbeda. Sang kakak memiliki sifat yang baik, rajin menabung dan suka menolong. Namun sang adik memiliki sifat yang berkebalikan dengan kakaknya, ia sombong, pelit dan serakah.
Sang kakak pandai dalam ilmu agama. Ia rajin mengaji dan suka menolong orang lain. Sedangkan sifat adiknya berbeda jauh dengan kakaknya, ia tidak mau membantu apa-apa. Kegiatannya hanya makan dan tidur di pesantren itu.
Suatu ketika sang adik diperintah oleh pak Kyai untuk menimba air di sumur yang tempatnya agak jauh dari pesantren, ia pun tidak mau. Maka akhirnya sang kakak lah yang berangkat untuk mengambil air di sumur.
Ketika sang kakak berangkat menuju sumur, ternyata sang adik diam-diam mengikutinya dari belakang. Saat sudah sampai di bibir sumur, sang kakak hendak mulai menimba air. Tiba-tiba sang adik muncul dan mendorong kakaknya hingga kecebur di sumur. Sang kakak tidak mengetahui jika dirinya diikuti oleh adiknya, sedangkan sang adik juga menjadi kaget dan panik melihat kakaknya yang kecemplung sumur.
Di pesantren, pak Kyai merasa hatinya tidak tenang. Ia merasa seperti telah terjadi sesuatu yang tidak beres. Pak Kyai kemudian berangkat menyusul bocah santri yang ditugasi mengambil air di sumur tadi. Benar saja, ketika pak Kyai sampai di sumur, di sana sudah banyak orang yang sedang menolong seorang anak (santri) yang kecebur sumur.
Setelah anak itu berhasil diselamatkan dan diberi tahu kronologi kejadiannya, pada akhirnya pak Kyai menjadi marah akan apa yang telah dilakukan oleh adik dari anak yang kecebur sumur itu, yang telah mendorong kakaknya hingga kecebur di sumur. Pak Kyai marah kepada sang adik sembari nyepatani (menyumpahi):
“Dasar santri tidak tahu diuntung, kamu pantasnya hidup di laut, jadi penghuni laut selamanya!”.
Tidak lama setelah pak Kyai berkata demikian, tiba-tiba tubuh sang adik bocah kembar itu berubah wujud menjadi bulus atau sejenis kura-kura. Ketika pak Kyai dan kakaknya kembali ke pesantren, bulus jelmaan sang adik mengikuti pak Kyai dan kakaknya itu sampai masuk ke pesantren.
Melihat kejadian seperti itu, para warga desa bersepakat menjadikan nama desa itu “Buluspesantren” (bulus masuk pesantren), kebetulan saat itu desa tersebut juga belum ada namanya.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















