ALIAN, Kebumen24.com – Wakil Bupati Kebumen H, Arif Sugiyanto kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya mematuhi protokol kesehatan agar tidak tertular virus covid 19. Hal ini dilakukan mengingat kasus covid 19 di Kabupaten Kebumen masih terus meningkat dan angka kematian karna covid juga cukup tinggi, yakni sekitar 3. 7 persen.
Imbauan tersebut Ia tegaskan saat menghadiri acara Merdi Bumi di SD N 2 Desa Sawangan Kecamatan Alian – Kebumen, Jumat 22 Januari 2021. Turut hadir mendampingi Kepala Dispermades Kebumen Frans Haidar, Camat Alian Sugito Edi Prayitno berserta Forkopimcam lainya dan Kepala Desa serta perankat.
‘’ Kasus terkonfirmasi Covid 19 di Kebumen masih terus meningkat, Angka Kematian juga cukup tinggi. Jadi protokol kesehatan harus dijaga betul dan jangan di sepelekan, ini penting,’’imbau Wabup Arif.
Terkait merdi bumi, Wabup menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, semacam ini perlu dilestarikan sebagai bentuk nguri nguri budaya lokal. Pihaknya berharap dengan kegiatan ini, dapat terwujud ikatan silaturahmi yang baik antar sesame masyarakat sehingga terwujud lingkungan yang aman dan kondusif. Dengan begitu masyarakat dapat melaksanakan aktivitasnya dengan nyaman sehingga ekonomi juga bisa meningkat.
‘’ Atas nama pemerintah Kabupaten Kebumen, tentunya kami menyambut baik kegiatan ini. Semoga kegiatan ini dapat mendatangkan keberkahan dan mamfaat, terutama dibidang ekonomi. Tapi tetap jangan sepelekan 3 M, yaitu rajin mencuci tangan, memakai masker saat keluar rumah, dan menjaga jarak, hindari kerumunan.’imbuh Arif.
Sementara itu Kepala Desa Sawangan Selamet menjelaskan, merdi bumi ini merupakan kegiatan rutin yang sudah tradisi sejak ratusan tahun lalu setiap menjelang musim panen tiba atau ketika tanaman padi warga sudah berisi. Meski begitu, kegiatan merdi desa kali ini sedikit berbeda dengan tahun tahun sebelumnya karna pandemi covid 19. Dimana, jika biasanya dihadiri oleh ribuan warga, namun kini hanya dari beberapa perwakilan saja. Itupun dilakukan dengan mengendepankan protokol kesehatan secara ketat.
‘’ Kegiatan masih sama seperti biasanya, yaitu diawali dengan pembacaan tahlil dan doa bersama di depan nasi ingkung yang dibawa masyarakat. Tapi yang berbeda jika biasanya ada pagelaran wayang kulit, tahun ini tidak,’’jelas Kades.
Lebih jauh Kades menerangkan, bahwa makna filosofis dari kegiatan tersebut agar hasil panen masyarakat baik sesuai dengan yang diharapkan. Hingga kini, tradisi budaya lokal ini terus dilestarikan sebagai nguri nguri budaya dan ungkapan syukur masyarakat serta sekaligus untuk mempererat tali silaturhami warga.(k24/thr).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















