KEBUMEN, Kebumen24.com – Aksi demonstrasi penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja di Kabupaten Kebumen berujung ricuh. Massa yang usai ditemui Ketua DPRD Kebumen Sarimun dan Wakil Ketua Yuniarti Widayaningsih melempari gedung DPRD dengan batu.
Aksi pelemparan itu terjadi mulai pada sekitara pukul 15.00 WIB Jumat 9 Oktober 2020. Massa secara tiba-tiba melempari gedung DPRD dan petugas kepolisian yang berjaga di halaman dengan batu. Terlihat pula massa aksi yang melempar bom asap ke halaman DPRD.
Adanya serangan tersebut, petugas kepolisian pun mencoba membubarkan massa dengan menembak gas air mata maupun menyemprotkan air dengan water cannon.
Kericuhan yang terjadi di ruas Jalan Pahlawan Kebumen itu berlangsung dua kali. Kericuhan pertama, tidak sampai menimbulkan kerusakan berarti hanya batu berserakan di halaman DPRD. Setelah sempat mereda, massa kembali melakukan aksi lempar batu hingga memecahkan sejumlah kaca gedung.
Akibat kerjadian itu, tak kurang dari tiga titik kaca di komplek DPRD Kebumen pecah. Satu kaca di pos keamanan, satu pada ruang transit pimpinan DPRD dan satunya di ruang loby depan. Terdapat pula toren BPBD Kebumen di Alun-alun Kebumen penyok. Bahkan, ada pula dari anggota kepolisian yang mengalami luka akibat terkena lemparan batu.

Ketua KSPSI Cabang Kebumen Akif Fatwal Amin menyesalkan terhadap kericuhan yang terjadi usai demo. Ia menegaskan bahwa pelaku kericuhan bukan masyarakat yang tergabung aliansi. Kerusuhan pelemparan batu yang timbul terjadi setelah massa aliansi meninggalkan gedung DPRD Kebumen.
‘’ Kami hanya meminta agar DPRD ikut menolak UU Cipta Kerja. Saya tegaskan bahwa perusuh bukan dari aliansi,’ katanya.
Sementara itu, penyesalan atas terjadinya kericuhan juga disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Kebumen Sarimun. Padahal pihaknya selaku wakil rakyat telah mencoba menemui dan menampung aspirasi yang disampaikan. Disisi lain, ia mewakili DPRD Kebumen akan memperjuangkan apa yang menjadi tuntutan masyarakat.
Hal senada juga diutrakan oleh Ketua PMII Kebumen Imam Nurhidayat yang juga koordinator aksi sangat menyayangkan dengan terjadinya kericuhan tersebut. Awalnya aksi berjalan damai usai ada kesepakatan dengan ketua DPRD Kebumen terkait tuntutan yang diminta para demonstran. Akan tetapi setelah aksi tersebut berakhir dan masa demonstran membubarkan diri muncullah masa yang terprovokasi dimana rata rata mereka adalah pemuda dan pelajar.
” Kita telah melaksanakan aksi damai dimana tuntutan kami diterima langsung oleh ketua DPRD Kebumen yang akan disampaikan ke DPR-RI, terkait masa yang membuat ricuh bukan dari anggota kami,” ucap Imam.(K24/ARTA).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















