SENI BUDAYA

Gebyag Suran, Ebeg Wahyu Turonggo Mudo Tampil Memukau

3896
×

Gebyag Suran, Ebeg Wahyu Turonggo Mudo Tampil Memukau

Sebarkan artikel ini
FOTO PENARI EBEG

PETANAHAN, Kebumen24.com – Bulan Muharam atau yang kenal masyarakat Jawa dengan bulan Syuro, biasanya sering diisi dengan bermacam ritual tradisi oleh beberapa komunitas kesenian. Aktivitas tersebut berkaitan erat dengan kelangsungan eksistensi komunitas tersebut dalam masyarakat. Salah satu bentuk ritual tradisi tersebut adalah Gebyag Suran atau Tasyakuran Suran di desa Podourip kecamatan Petanahan Kebumen.

 

Dalam acara yang digelar oleh komunitas Seni Tari Kuda Lumping Wahyu Turonggo Mudo ini, merupakan agenda rutin tahunan setiap bulan Suro. Kegiatan belangsung meriah, Minggu Pahing, 13 September 2020.

 

Ki Slamet selaku ketua komunitas  Seni Tari Kuda Lumping Wahyu Turonggo Mudo menyampaikan acara Gebyag ini bertujuan untuk nguri-uri kabudayaan agar tidak punah hilang digerus majunya jaman. Selain itu, kegiatan ini Juga sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME.

 

‘’Atas keberkahan yang telah diterima komunitas selama setahun. Gebyag Suran bagi komunitas juga bentuk doa permohonan keselamatan dan kesuksesan diwaktu-waktu yang akan datang, bagi komunitas,’’ujarnya.

 

Dijelaskan Ki Slamet yang juga  ketua Forum Ebeg Kebumen Aji (Forum EKA), pagelaran selain mendapat dukungan dari grup-grup ebleg anggota Forum EKA, juga didukung oleh Paguyuban Pecinta Kuda Lumping Kebumen (PPKLK),  yang beranggotakan lebih dari 4000 orang dan di Kebumen sendiri terdapat kurang lebih 239 grup ebleg.

 

‘’ Kelompok seni Wahyu Turonggo Mudo beranggotakan 30 orang yang terdiri dari 14 Penari, 14 Penayagan dan 2 orang Medoyan atau Tukang Timbul. Kegiatan Gebyag suran diawali dengan Santunan, Kiprahan, Barongan dan Mendeman. Kemudian diacara puncaknya diadakan nyadran atau slametan Suran,’’ jelas ki Slamet.

 

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Daerah Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo yang turut hadir menyaksikan acara tersebut mengatakan Kesenian ebeg merupakan kesenian yang turun temurun dan sudah regenerasi dan terus lestari hingga saat ini. Untuk itu pihaknya mendukung kesenian agar terus dilesatarikan.

 

‘’ Ebeg merupakan kesenian turun temurun yang masih lestari hingga saat ini dan mendapatkan dukungan kuat dari warga masyarakat, bahkan kini banyak kaum muda millenial yang menyukai kesenian ini, terbukti banyak diantara mereka yang ikut Wuru, atau mendhem’’ ucap Pekik(K24/RILIS).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com