KEBUMEN, Kebumen24.com- Pemkab Kebumen melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kebumen menggambarkan kemungkinan terburuk bakal terjadi jika masyarakat mengabaikan anjuran dari pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Kusbiyantoro, Humas Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kebumen “Diprediksi 600 pasien pada masa puncak, dengan catatan apabila tidak ada kesadaran dan kewaspadaan dari masyarakat,” ungkap Kusbiyantoro.
Kusbiyantoro yang juga Sekretaris Dinas Kesehatan Kebumen menegaskan, angka tersebut merupakan prediksi dari beberapa pengamatan dan kajian. Namun begitu, berbagai upaya Pemkab telah dilakukan agar jangan sampai jumlah kasus meningkat secara signifikan.
“Makanya kita akan melakukan pengetatan dengan Perbup, didalamnya ada jam malam, penggunaan masker, penataan dan pengelolaan physical distancing. Adanya Perbup nanti petugas bisa melakukan represif seperti itu,” ucapnya di Command Center Covid-19 Kebumen.
Menurut dia, kunci memangkas jumlah pasien Covid-19 sebenarnya tidak hanya bergantung pada pemerintah semata, melainkan butuh kolaborasi yang baik serta peran masyarakat terhadap kepedulian untuk bersama melawan virus mematikan ini.
“Kalau kita mencapai kedisiplinan diangka 70 persen, kita akan menempati puncak di posisi Juni, Tapi kalau kita dibawah 70 persen maka puncaknya akan September dan kemungkinan lewat ujungnya terjadi tahun depan. Itu yang perlu kita perhatikan,” jelasnya.
Sejauh ini, di Kabupaten Kebumen telah ditemukan kasus pasien yang dinyatakan terinfeksi Covid-19 berdasar hasil uji Swab sebanyak 27 orang. Dari jumlah tersebut 17 diantaranya tengah menjalani perawatan dan 8 dinyatakan sembuh serta 2 orang meninggal dunia.
“Bagi pasien positif yang sudah dinyatakan sembuh masih terus dipantau dan diminta isolasi mandiri selama 14 hari ke depan,” terangnya.
Dikatakan dia, bagi pasien yang dinyatakan sembuh diminta untuk tidak mengesampingkan anjuran pemerintah, karena masih dimungkinkan dapat kembali terjangkit jika lalai menerapkan Physical Distancing.
“Maka orang yang dinyatakan Swab negatif bukan langsung bebas gitu. Jadi ada masa infeksi dan reaksi, dia bisa jadi jalannya sendiri yang belum bersih atau dapat infeksi yang baru karena dia tidak mengesampingkan perilaku yang tidak sesuai anjuran pemerintah,” pungkasnya.(K24/Hfd)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















