KEBUMEN, Kebumen24.com – Upaya melestarikan seni tradisi Jamjaneng terus diperkuat di Kabupaten Kebumen. Ratusan pelaku kesenian mengikuti Sosialisasi Pementasan Seni Tradisi Jamjaneng yang digelar di GOR Desa Karangsari, Kecamatan Sruweng, Sabtu (10/10/2026). Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari persiapan pementasan Jamjaneng kolosal yang direncanakan melibatkan sekitar 400 pemain.
Sosialisasi tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Ketua Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kebumen, Ki Muhammad Basikun Mualim atau yang dikenal sebagai Ki Petruk, serta maestro Jamjaneng Kebumen sekaligus Ketua Umum Paguyuban Seni Tradisional Jamjaneng Kebumen (Pastrajakkeb), BE Susilohadi, S.Pd.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman para pelaku seni mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan Jamjaneng sebagai warisan budaya daerah, sekaligus meningkatkan kualitas pementasan agar tetap sesuai dengan pakem tradisi.
Jamjaneng Bukan Sekadar Hiburan
Dalam pemaparannya, Ki Muhammad Basikun Mualim menjelaskan bahwa kesenian Jamjaneng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 7 Desember 2021.
Menurutnya, Jamjaneng merupakan seni musik tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat Kebumen. Kesenian ini tidak hanya menjadi bentuk ekspresi artistik, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan, spiritualitas, gotong royong, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Karena itu, pengakuan sebagai warisan budaya nasional harus diikuti langkah nyata untuk menjaga keberlanjutannya. Pelestarian tidak cukup hanya melalui pencatatan atau pengakuan, tetapi perlu diwujudkan dengan pementasan rutin, regenerasi seniman, pendokumentasian, dan keterlibatan aktif masyarakat.
Ki Petruk berharap sosialisasi tersebut dapat menumbuhkan kesadaran bersama bahwa keberlangsungan Jamjaneng merupakan tanggung jawab seluruh pihak, mulai dari seniman, komunitas budaya, pemerintah, lembaga kebudayaan, hingga generasi muda.
“Pengakuan merupakan awal, sedangkan pelestarian dan pemajuan adalah tanggung jawab bersama,” demikian pesan yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.
Ia menambahkan, pementasan seni tradisi bukan semata-mata menjadi ruang pertunjukan. Lebih dari itu, pementasan merupakan sarana untuk menghidupkan hubungan antara kesenian, masyarakat, dan nilai-nilai budaya yang melatarbelakanginya.
Melalui upaya tersebut, Jamjaneng diharapkan semakin mendapatkan ruang apresiasi dan kesempatan untuk berkembang, sekaligus memperkuat identitas budaya Kebumen sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional.
Siapkan Pementasan Kolosal dengan 400 Pemain
Sementara itu, BE Susilohadi menjelaskan bahwa sosialisasi tidak hanya berisi penyampaian materi mengenai seni tradisi Jamjaneng, tetapi juga menjadi bagian dari persiapan pementasan Jamjaneng kolosal.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan materi mengenai pakem dan tata cara menabuh terbang sebagai salah satu unsur penting dalam permainan Jamjaneng. Pemahaman terhadap pakem dinilai penting agar para pemain dapat menampilkan kesenian secara serasi tanpa meninggalkan ciri khas tradisinya.
Pementasan kolosal yang direncanakan melibatkan 20 grup Jamjaneng atau sekitar 400 pemain itu menjadi salah satu agenda penting Pastrajakkeb dalam memperluas apresiasi masyarakat terhadap kesenian tradisional Kebumen.
Susilohadi mengungkapkan, gagasan pementasan kolosal tersebut telah menjadi obsesinya sejak dipercaya memimpin Pastrajakkeb lebih dari dua tahun lalu.
Pementasan tahun ini menjadi pelaksanaan yang kedua. Sebelumnya, pementasan Jamjaneng kolosal telah digelar pada 2025 di GOR Pandansari, Kecamatan Sruweng. Pada penyelenggaraan kali ini, jumlah pemain direncanakan lebih banyak sebagai bentuk pengembangan sekaligus penguatan eksistensi Jamjaneng.
Menurutnya, keterlibatan puluhan kelompok seni dalam satu panggung diharapkan mampu menunjukkan bahwa Jamjaneng tetap hidup dan memiliki dukungan kuat dari masyarakat pendukungnya.
Regenerasi Jadi Tantangan Berikutnya
Selain memperkuat kualitas pementasan, regenerasi menjadi perhatian penting dalam pelestarian Jamjaneng. Keberadaan generasi muda diperlukan agar kesenian ini tidak hanya bertahan melalui para pelaku seni yang telah lama berkecimpung, tetapi juga terus berkembang pada masa mendatang.
Susilohadi berharap Pastrajakkeb ke depan memiliki kesempatan lebih luas untuk menyelenggarakan kegiatan Jamjaneng yang menyasar kalangan anak muda. Dengan demikian, generasi penerus dapat mengenal, mempelajari, memainkan, dan mengembangkan kesenian tersebut tanpa kehilangan akar tradisinya.
Sosialisasi ini menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan pengalaman para maestro dengan semangat para pelaku seni dari berbagai kelompok. Melalui proses belajar bersama dan pementasan berkelanjutan, Jamjaneng diharapkan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat Kebumen. (K24/*)
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.














