PemerintahanPERISTIWASENI BUDAYA

Karnaval Kemerdekaan di Pohkumbang: Ribuan Warga Arak Budaya Lokal dan Ogoh-ogoh dari Limbah

×

Karnaval Kemerdekaan di Pohkumbang: Ribuan Warga Arak Budaya Lokal dan Ogoh-ogoh dari Limbah

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Semangat kemerdekaan tak hanya dirayakan dengan upacara dan seremoni. Di Desa Pohkumbang, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, kemeriahan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia justru tampil melalui kreativitas warga, Senin 17 Agustus 2026.

Ribuan masyarakat tumpah ruah mengikuti karnaval kemerdekaan pada Senin pagi. Warga dari berbagai kelompok usia berjalan bersama menyusuri rute sekitar 7 kilometer mengelilingi kawasan Gunung Grenggeng.

Yang menarik, karnaval tersebut tidak sekadar menjadi ajang hiburan. Beragam kesenian tradisional, hasil bumi, hingga ogoh-ogoh berukuran raksasa ditampilkan sebagai bentuk ekspresi sekaligus upaya mempertahankan budaya lokal.

Sejumlah ogoh-ogoh dibuat dari bambu dan memanfaatkan limbah barang bekas. Bentuknya pun beragam, mulai dari burung hantu hingga hyena. Kreativitas tersebut menjadi bukti bahwa semangat memperingati kemerdekaan dapat diwujudkan dengan memanfaatkan potensi dan bahan yang ada di lingkungan sekitar.

Tak hanya itu, warga juga mengarak miniatur Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Kehadirannya menjadi simbol dukungan masyarakat terhadap program nasional yang tengah didorong di tingkat desa.

Panitia Karnaval Desa Pohkumbang, Feri, mengatakan jumlah peserta diperkirakan mencapai sekitar 1.000 orang. Mereka menempuh rute yang secara turun-temurun telah menjadi bagian dari tradisi perayaan kemerdekaan masyarakat setempat.

“Peserta kurang lebih sekitar 1.000 orang dan menempuh sekitar 7 kilometer. Rutenya melewati Desa Grenggeng, Klopogodo dan Kedungjati,” ujar Feri.

Rute karnaval bahkan melintasi tiga wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Karanganyar, Gombong, dan Sempor. Tradisi pawai mengelilingi Gunung Grenggeng tersebut telah berlangsung dari tahun ke tahun dan menjadi ruang perjumpaan masyarakat dalam suasana kebersamaan.

Menurut Feri, persiapan untuk menampilkan ogoh-ogoh dilakukan jauh sebelum pelaksanaan karnaval. Warga, pemuda karang taruna, hingga kelompok masyarakat di tingkat lingkungan dan RT ikut terlibat membuat berbagai karya.

“Untuk ogoh-ogoh ini hasil kreativitas warga Pohkumbang. Dari warga, pemuda karang taruna, lingkungan maupun RT membuat keterampilan. Tahun ini beberapa ogoh-ogoh sudah dipersiapkan dua sampai tiga bulan sebelumnya,” jelasnya.

Keterlibatan warga sejak tahap persiapan menunjukkan bahwa karnaval bukan sekadar kegiatan seremonial. Ada proses gotong royong, kreativitas, sekaligus regenerasi budaya yang berlangsung di tengah masyarakat.

Di tengah perkembangan zaman dan semakin kuatnya budaya digital, kegiatan semacam ini menjadi penting. Kemerdekaan tidak berhenti pada simbol dan perayaan, tetapi juga dapat dimaknai sebagai ruang bagi masyarakat untuk menjaga identitas budaya, memperkuat solidaritas, dan mengembangkan kreativitas dari lingkungan sendiri.

Antusiasme warga Pohkumbang menjadi gambaran bahwa persatuan masih dapat dirawat melalui kegiatan sederhana yang melibatkan banyak orang. Dari bambu dan barang bekas, masyarakat mampu melahirkan karya yang menyatukan warga dalam satu perayaan.

Karnaval tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa semangat kemerdekaan dapat tumbuh dari desa—melalui gotong royong, budaya, dan kreativitas masyarakat.(K24/*).


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.