KEBUMEN, Kebumen24.com – Pengurus Paguyuban Kawula Karaton Surakarta (PAKASA) Cabang Kebumen memasang baliho Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi di sejumlah titik strategis di wilayah Kabupaten Kebumen. Pemasangan baliho tersebut menjadi bentuk dukungan dan loyalitas PAKASA Kebumen terhadap Sinuhun PB XIV Hangabehi serta Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta.
Ketua PAKASA Cabang Kebumen, K.R.A.P. Arif Priyatoro Rekaningrat, S.Sos., mengatakan bahwa langkah tersebut merupakan wujud komitmen PAKASA Kebumen untuk terus tegak lurus mendukung perjuangan pelestarian adat, budaya, dan tradisi Keraton Surakarta yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, pemasangan baliho tidak hanya dilakukan di Kebumen. Sejumlah daerah lain seperti Kudus dan Demak bahkan telah lebih dahulu memasang baliho serupa secara mandiri. Antusiasme tersebut muncul dari masyarakat dan para pendukung yang merasa menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam menjaga eksistensi adat dan budaya Keraton Surakarta.
“Karena mereka berinisiatif sendiri. Mereka merasa menjadi bagian dari keluarga besar yang turut berjuang dari berbagai wilayah. Bahkan Kudus dan Demak sudah lebih dulu memasang baliho. Saat ini sudah ada hampir 60 titik pemasangan di berbagai daerah,” ungkap Arif dalam keteranganya, Sabtu 13 Juni 2026.
Selain Kudus dan Demak, sejumlah daerah lain juga telah menyatakan kesiapan memasang baliho Sinuhun PB XIV Hangabehi. Di antaranya Ngawi, Boyolali, Kota Madiun, Grobogan, Sragen, Ponorogo, Pacitan, Nganjuk, Malang Raya, Jepara, Magelang, Trenggalek, Karanganyar, Klaten, hingga Magetan.
Sebagian besar pemasangan baliho dilakukan secara swadaya oleh masyarakat maupun kelompok pendukung di masing-masing daerah. Kondisi ini membuat jumlah titik pemasangan diperkirakan akan terus bertambah dalam waktu dekat.
Arif menjelaskan, dukungan yang terus mengalir dari berbagai daerah tidak terlepas dari keterlibatan para abdi dalem serta elemen masyarakat yang selama ini mengikuti perkembangan Keraton Surakarta. Mereka merasakan secara langsung proses panjang perjuangan mempertahankan adat dan tradisi budaya Jawa yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Mereka merasakan bagaimana proses perjuangan mempertahankan adat dan tradisi budaya sejak awal. Spirit perjuangan itu telah terbangun sejak tahun 2004. Mereka merasa menjadi bagian dari elemen yang ikut memperjuangkan dan menjaga kelestarian adat serta tradisi tersebut,” jelasnya.(K24/*).
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















