KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Srati, yang terletak di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang berakar dari kisah tokoh masyarakat legendaris, Mbah Bobos, pada masa Kerajaan Mataram Islam.
Menurut buku Kisah Sejarah dan Silsilah Leluhur serta keterangan Bapak Saefudin, Kadus II Desa Srati, keberadaan desa ini tidak lepas dari peran Mbah Bobos. Beliau dikenal sebagai tokoh agama, adat, dan masyarakat yang bijaksana. Nama “Srati” sendiri berasal dari kata “Sraten” yang berarti memahami, melayani, dan mengayomi, mencerminkan karakter masyarakat desa yang ramah dan penuh budi pekerti.
Mbah Bobos hidup pada masa Kerajaan Mataram Islam dan wafat pada akhir masa tersebut, sekitar tahun 1690, pada masa Kasunanan Kartosuro. Sebelum terbentuknya Desa Srati, ada pula kisah tentang awal mula penduduk desa yang terkait dengan Syaih Subakir dan Syaikh Maulana Maghribi. Dalam perjalanannya menumbal tanah Jawa, Syaih Subakir mengalami perahu yang dikendarainya pecah menjadi dua saat menabrak karang. Peristiwa ini menjadi asal-usul nama Pantai Pecaron, yang berasal dari bahasa Jawa “Pecah dadi loro” (pecah menjadi dua).
Setelah menepi ke daratan, Syaih Subakir menyebarkan ilmu agama Islam kepada masyarakat setempat, yang kemudian hidup dengan berakhlak baik dan gemar mengaji. Karakter santri tetap melekat di Desa Srati, meskipun minat generasi muda untuk mondok di pesantren menurun seiring perkembangan teknologi dan masuknya smartphone.
Kisah Desa Srati ini mencerminkan perjalanan panjang masyarakatnya dalam menjaga nilai agama, akhlak, dan budaya. Meskipun terdapat beberapa versi berbeda dari sumber-sumber yang ada, cerita ini tetap menjadi bagian penting dalam sejarah lokal.
Sumber: srati.kec-ayah.kebumenkab.go.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















