SEJARAH

Sejarah Desa Serut Kuwarasan: Berawal dari Prajurit Diponegoro hingga Menjadi Desa Mandiri

331
×

Sejarah Desa Serut Kuwarasan: Berawal dari Prajurit Diponegoro hingga Menjadi Desa Mandiri

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Serut yang berada di Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, memiliki perjalanan sejarah panjang yang berakar dari masa perjuangan bangsa Indonesia pada abad ke-19.

Berdasarkan hasil musyawarah Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa bersama para sesepuh dan tokoh masyarakat pada 12 Maret 1983, disepakati bahwa tanggal 6 Mei ditetapkan sebagai Hari Jadi Desa Serut. Peringatan hari jadi tersebut dilaksanakan setiap lima tahun sekali (panca warsa) sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah desa.

Berawal dari Babad Pedukuhan Tahun 1830

Sejarah Desa Serut bermula pada sekitar tahun 1830, pasca berakhirnya Perang Diponegoro. Saat itu, sejumlah prajurit dari Pangeran Diponegoro yang terpencar mulai membuka wilayah pemukiman baru yang kemudian berkembang menjadi beberapa pedukuhan.

Pedukuhan tersebut di antaranya:

  • Pedukuhan Serut dipimpin Demang R. Tirta Wijaya
  • Pedukuhan Ketanggung dipimpin Demang R. Parta Diwangsa (Rekso Diwongso), kemudian dilanjutkan R. Kerto Yudo dan R. Karto Dimedjo
  • Pedukuhan Giyasa dipimpin Demang Ki Yasa

Wilayah pedukuhan kala itu mencakup daerah Karang Gandul, Jalak Sari, hingga Kedunggua.

Penggabungan Menjadi Desa Serut Tahun 1901

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, kebijakan administratif menggabungkan beberapa pedukuhan menjadi satu wilayah desa. Pada tahun 1901, Pedukuhan Serut, Ketanggung, Giyasa, serta tambahan wilayah Depok dari Gombong resmi disatukan menjadi Desa Serut.

Tokoh pertama yang memimpin desa tersebut adalah R. Karto Dimedjo, yang terpilih melalui sistem pemilihan “dodokan” pada 6 Mei 1901. Ia menjabat hingga tahun 1946 sebelum mengundurkan diri karena usia.

Perkembangan Kepemimpinan Desa

Setelah R. Karto Dimedjo, kepemimpinan Desa Serut dilanjutkan oleh R. Soerono Rekso Sudarmo yang terpilih melalui metode “bitingan” pada 6 Mei 1946 dan menjabat hingga 1985.

Selanjutnya, roda pemerintahan Desa Serut diteruskan oleh sejumlah kepala desa, di antaranya:

  • Achmad Rosidin (1985–1994)
  • G. Admin (1994–2002 dan 2002–2007)
  • Anan Triyanto, S.T. (2007–2013)
  • Taufik Mundarto Hadi (2013–2019, dan 2019–sekarang)

Pergantian kepemimpinan dilakukan melalui sistem pemilihan langsung dengan berbagai simbol seperti jagung, kelapa, hingga foto calon.

Melestarikan Warisan Leluhur

Sejarah panjang Desa Serut menjadi warisan berharga bagi masyarakat setempat. Nilai perjuangan, kebersamaan, serta semangat membangun desa menjadi tanggung jawab generasi penerus untuk terus dijaga dan dilestarikan.

Dengan menghormati jasa para pendahulu, masyarakat Desa Serut diharapkan dapat terus mengembangkan desa secara sadar, ikhlas, dan berkelanjutan.

Sumber: Website resmi Desa Serut Kuwarasan


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.