SEJARAH

Sejarah Desa Giyanti: Dari Alas Batur Agung hingga Desa Mandiri di Rowokele, Kebumen

249
×

Sejarah Desa Giyanti: Dari Alas Batur Agung hingga Desa Mandiri di Rowokele, Kebumen

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Giyanti, yang terletak di Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang terkait dengan kisah cinta, pengungsian kerajaan, dan legenda leluhur. Desa ini kini menjadi salah satu desa yang mandiri dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani.

Latar Belakang Kabupaten Kebumen

Kebumen merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah bagian barat dengan luas wilayah 1.281,12 km². Kabupaten ini terdiri dari 26 kecamatan, 11 kelurahan, dan 449 desa dengan jumlah penduduk sekitar 1.197.982 jiwa (2019). Wilayah selatan Kebumen merupakan dataran rendah, sementara bagian utara berupa pegunungan dan perbukitan, termasuk rangkaian Pegunungan Serayu Selatan. Selain itu, Kabupaten Kebumen terkenal dengan kawasan Karst Gombong Selatan dan lebih dari seratus gua dengan stalaktit dan stalagmit, serta pantai sepanjang 53 km dengan fenomena gumuk pasir.

Kecamatan Rowokele dan Desa Giyanti

Kecamatan Rowokele memiliki luas 101,22 km² dengan 11 desa dan populasi ±42.216 jiwa. Salah satu desa penting di wilayah ini adalah Desa Giyanti, seluas 848 hektare, dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani.

Asal Usul Nama Desa Giyanti

Nama Giyanti memiliki makna historis. Dalam bahasa Sanskerta, “Giyanti” berarti “menghitung hari”, sedangkan dalam bahasa Jawa berasal dari kata Nganti, yang berarti “menunggu atau menanti”. Berdasarkan catatan sejarah di Pustaka Keraton Surakarta Hadiningrat, nama desa ini muncul sekitar tahun 1670-an terkait pemberontakan Trunojoyo terhadap Keraton Mataram pada era pemerintahan Amangkurat I.

Pada masa itu, Amangkurat I dikenal karena eksekusi dan pembantaian terhadap lawan politik, termasuk bangsawan dan ulama. Raden Trunoyudha, pengageng pasukan Mataram, terluka saat mengawal pengungsian Amangkurat I ke barat dan terpaksa tinggal di perkampungan Alas Batur Agung (sekarang wilayah Giyanti).

Legenda Cinta Raden Trunoyudha dan Dyah Ayu Boja

Di Alas Batur Agung, Raden Trunoyudha dirawat oleh putri Empu Wirokelang bernama Dyah Ayu Boja. Kisah cinta mereka berkembang seiring waktu, namun harus terhenti karena Raden Trunoyudha terhalang aturan kerajaan Mataram dan baru bisa kembali tiga tahun kemudian. Dyah Ayu Boja meninggal dalam penantian panjangnya. Untuk mengenang gadis yang menanti sang kekasih, kampung Alas Batur Agung kemudian dinamakan Desa Sri Giyanti, yang kemudian disingkat menjadi Desa Giyanti. Empu Wirokelang diangkat sebagai demang atau kepala desa pertama.

Kepemimpinan Desa Giyanti

Sejak berdirinya, Desa Giyanti dipimpin oleh kepala desa dengan berbagai periode, mulai dari Jaya Witana hingga Rakiman yang menjabat saat ini.

  • Jaya Witana (s/d 1890)
  • Karta Sentana (1890–1904)
  • Partawisesa (1904–1912)
  • Meja Semita (1912–1921)
  • Wira Sentana (1921–1924)
  • Suta Wijaya (1924–1936)
  • Kartawireja (1936–1946)
  • Wirareja (1946–1984)
  • Sumarto (1984–1985)
  • Sukemi (1985–1993)
  • M. Rusmadi (1993–2007)
  • Tukiran (2007–2013)
  • Mujiman Al Baiman (2013–2019)
  • Rakiman (2019–sekarang)

Sejarah dan legenda Desa Giyanti tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga menjadi cerminan akar sejarah dan karakter masyarakatnya hingga saat ini.

Sumber: Desa Giyanti Kecamatan Rowokele


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.