SEJARAH

Sejarah dan Demografi Desa Mangunweni Kecamatan Ayah: Dari Legenda Hingga Modernisasi

172
×

Sejarah dan Demografi Desa Mangunweni Kecamatan Ayah: Dari Legenda Hingga Modernisasi

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Mangunweni, yang kini berada di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang kaya akan legenda dan nilai budaya. Dahulu, sebelum masuknya pengaruh Barat, wilayah ini merupakan daerah pegunungan lebat dan dataran rendah yang terdiri dari rawa-rawa, jarang dikunjungi orang.

Sejarah Desa Mangunweni dimulai dari kedatangan musafir R. Jaka Puring dan R. Jono dari Desa Buayan beserta keluarga dan pengikutnya. Mereka membuka lahan (trukah) dan membagi wilayah menjadi tiga: selatan bernama Madraji, timur Guna Citra, dan barat Singareja. Nama Kemusuk untuk wilayah selatan muncul dari suara gemuruh air terjun Sungai Siwlirang dan perdebatan antara R. Jaka Puring dan R. Jono yang terjadi di bawah pohon besar bernama Gunung Lanang. Nama ini kemudian disederhanakan menjadi Kemusuk.

Di wilayah timur, Guna Citra dibantu oleh Wiryohadirono, yang kemudian keturunannya memimpin Desa Kaliputri, termasuk Ki R. Singareja, Ki Pancawikrama, dan Ki R. Sokadimeja. Desa Kaliputri terkenal dengan Sendang Pengilon, sebuah mata air yang konon berubah warna seperti pelangi.

Sementara wilayah barat, yang dulunya dikenal sebagai Tembelang, dipimpin oleh H. Abdul Madjid, kemudian digantikan oleh H. Kasro dan Nusa Wikrama. Nama desa ini akhirnya menjadi Nusatembelang untuk menyesuaikan nama desa-desa sekitar seperti Nusawaru dan Nusatutub.

Pada tanggal 18 Januari 1927, ketiga desa – Kemusuk, Kaliputri, dan Nusatembelang – digabung menjadi satu desa oleh Bupati Tingkat II Kebumen, R. Sukadis, dengan nama Desa Jaya Binangun, yang berarti “bersama-sama membangun desa yang jaya”. Masyarakat kemudian sepakat mengganti nama menjadi Desa Mangunweni, yang memiliki makna “berani membangun”.

Sejak itu, Desa Mangunweni telah dipimpin oleh beberapa kepala desa, dimulai dari Ki Sokadimeja, diikuti Ki Marta Pawira, Ki Murtodharjo, H. Yusup (1985–1993), Turimin (1993–2007), Mukh Faoji (2013–2019), hingga Nasikhun (2019–2025). Berbagai pembangunan infrastruktur seperti SDN 1, 2, dan 3 Mangunweni, Balai Desa, serta fasilitas publik lain telah menjadi warisan penting bagi masyarakat desa.

Demografi dan Geografi Desa Mangunweni

  • Batas wilayah:
    • Utara: Desa Jatijajar
    • Selatan: Desa Candirenggo
    • Barat: Desa Demangsari
    • Timur: Desa Hutan Negara
  • Luas wilayah:
    • Pemukiman: 106,70 ha
    • Sawah: 78,00 ha
    • Ladang/tegalan: 70,00 ha
    • Hutan: 136,76 ha
    • Perkantoran: 0,12 ha
    • Sekolah: 0,75 ha
    • Jalan: 80,00 ha
  • Orbitasi:
    • Jarak ke ibu kota kecamatan: 3 km (10 menit)
    • Jarak ke ibu kota kabupaten: 40 km (1 jam)
  • Jumlah penduduk:
    • Kepala keluarga: 1.158 KK
    • Laki-laki: 1.728 orang
    • Perempuan: 1.643 orang

Desa Mangunweni tidak hanya menyimpan sejarah panjang, tetapi juga nilai budaya musyawarah dan gotong royong yang masih dijalankan masyarakat hingga saat ini.

Sumber: Mangunweni Kecamatan Ayah – Kebumen


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.