KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Jatiluhur, yang terletak di Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah dan legenda yang menarik, dimulai dari wilayah hutan dan rawa hingga berkembang menjadi desa yang mandiri dan berbudaya.
Legenda Desa Jatiluhur
Menurut cerita rakyat setempat, pada zaman dahulu Desa Jatiluhur adalah wilayah hutan dan rawa. Seorang pertapa sakti bernama Ki Bajang datang ke wilayah ini membawa tongkat kayu jati yang ujungnya dibungkus kain putih. Ia bermeditasi di tengah hutan, tepat di tempat yang kini menjadi perbukitan tertinggi. Tongkatnya yang ditancapkan kemudian tumbuh menjadi pohon jati yang rindang.
Dari hasil meditasi tersebut, Ki Bajang mendapatkan wangsit untuk menetap, mengelola wilayah, dan menjaga sumber mata air yang kini dikenal dengan nama Situ. Beliau menamai wilayah tersebut Desa Jatiluhur dan memerintahkan penyelenggaraan upacara selamatan desa serta pelestarian seni Tayub, yang hingga kini masih dilaksanakan warga setiap Selasa atau Jumat Kliwon di bulan Asyuro.
Sejarah Pemerintahan Desa
Pemerintahan Desa Jatiluhur mulai terbentuk pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1930. Sejak itu, desa ini telah dipimpin oleh sejumlah kepala desa, antara lain:
- 1930–1945: Martorejo Gosimin
- 1945–1948: Katiman
- 1948–1965: Karta Sentana
- 1965: Sudarto (kepala desa kartiker)
- 1966–1980: Sumarto
- 1981–1988: Purwanto (Sekdes: S. Sastrodiharjo)
- 1989–1998: Sumono
- 1999–2010: Sri Nugrawati
- 2011–2017: Ponco Sujatmiko
- 2018–2019: Trim Subagyo (Penjabat Kepala Desa)
- 2019–sekarang: Supriyono
Sejarah Perkembangan Desa
Sejarah Desa Jatiluhur yang tercatat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) 2020–2025 dimulai dari tahun 1958, meliputi berbagai peristiwa penting, baik pembangunan, pemilu, hingga bencana alam. Beberapa contoh:
- Tahun 1958: Pemerintah desa memberikan jatah konsumsi kepada warga.
- Tahun 1965: Pembentukan kepala desa kartiker Bp. Sudarto.
- Tahun 1981: Pemilihan kepala desa, terpilih Bp. Purwanto.
- Tahun 2005–2006: Pembangunan jalan aspal Jatiluhur-Wagirpandan dan Jatiluhur-Wonoharjo.
- Tahun 2013: Bantuan pemugaran rumah tidak layak huni kepada 149 KK.
- Tahun 2016: Terjadi bencana banjir bandang.
- Tahun 2019: Pemilihan Kepala Desa terpilih Bp. Supriyono untuk periode 2019–2025.
Kondisi Geografis dan Lahan
Desa Jatiluhur memiliki luas sekitar 166 hektar, dengan topografi dataran rendah dan perbukitan pada ketinggian 30–87 meter di atas permukaan laut, di koordinat 109.4423 BT / -7.596769 LS. Desa ini berbatasan dengan Desa Purwodadi (barat), Desa Kretek (timur), Desa Wonoharjo dan Wagirpandan (utara), serta Desa Bumiagung (selatan).
Sebagian lahan desa berupa tanah kering (55%) dan sawah (45%). Rinciannya:
- Sawah irigasi: 74 ha
- Tegal/ladang: 12,5 ha
- Pemukiman: 75 ha
- Lainnya: 1,48 ha
Desa Jatiluhur dikenal tetap menjaga adat istiadat dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sejarahnya, menjadikan desa ini berkembang sambil tetap menghormati warisan budaya leluhur.
Sumber: Profil Desa Jatiluhur
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















