KEBUMEN, Kebumen24.com – Kabupaten Roma merupakan hasil fusi (blengketan) antara Kabupaten Pucang dan Kabupaten Kaleng yang terletak di pesisir selatan. Fusi ini terjadi atas keputusan Sultan Pajang pada tahun 1543, dengan ibukota awal di Sidayu, utara Gombong.
Sebelum fusi, Bupati Pucang dijabat oleh Kyai Adipati Jannah, yang sebelumnya bernama Kyai Bojogati, dan dimakamkan di Gunung Grenggeng, timur Panembahan Grenggeng. Sedangkan Bupati Kaleng dijabat oleh Kyai Adipati Banyakgumarang, keturunan Adipati Pasir (Purwokerto) dan Raja Pajajaran. Setelah fusi, Kertiwicana I diangkat sebagai Bupati Roma pertama, sedangkan putra Bupati Kaleng diberikan jabatan Ngabei di Kaleng dengan gelar Kyai Ngabei Wirokerti.
Kertiwicana I dimakamkan di Sampang dan digantikan oleh Kertiwicana II, lalu Kertanegara I. Pada masa Kertanegara I, ibukota kabupaten Roma dipindah ke Jatinegara.
Asal-Usul Nama Wagerglagah
Setelah fusi, Kyai Banyakgumarang mendalami ilmu agama Islam kepada Panembahan Grenggeng. Ia bertapa bertahun-tahun di Gunung Pletuk, Desa Kedungwringin, hingga tubuhnya ditumbuhi alang-alang dan rumput glagah. Setelah ditemukan, ia dikenal dengan nama Kyai Wagerglagah dan dimakamkan di bawah pertapaannya.
Kyai Muhammad Syafi’i, Penasehat Diponegoro
Salah satu keturunan Kyai Wagerglagah adalah Kyai Muhammad Syafi’i. Ia menuntut ilmu di Dongkelan Yogyakarta, membantu menulis Al-Quran atas perintah Sultan Hamengku Buwana II, dan dinikahkan dengan BRA Maryam, cucu Sultan Hamengku Buwana III, sehingga menjadi adik ipar Pangeran Diponegoro. Kyai Muhammad Syafi’i kembali ke Kabupaten Roma, menetap di Desa Brangkal, diberi jabatan Mufti, dan berwenang menikahkan penduduk dari beberapa desa di sekitar Roma.
Penyebaran Islam di Jatinegara
Kyai Muhammad Syafi’i juga mengajarkan agama Islam di Brangkal, Pekuncen, dan Jatinegara, serta mendirikan Masjid Darussalam pada 1739 Masehi, yang hingga kini masih berdiri dan mengalami beberapa kali renovasi.
Asal Usul Nama Jatinegara
Nama Jatinegara berasal dari “Negor Jati”, karena wilayah ini dulunya hutan jati yang terletak di antara Kalibeji dan Bejiruyung. Penduduk membabat alas jati sehingga tercetus nama tersebut. Desa Jatinegara diperkirakan sudah ada sejak 1200 Masehi dan mengelola beberapa dukuh yang kemudian digabung menjadi satu desa.
Pada masa modern, kepemimpinan desa Jatinegara dimulai dari Dullah Khusni (1943–1989), diikuti oleh Djentu Subiyanto, Achmad Munajad, Haris Suwarto, dan saat ini Sunaryo (periode 2019–2025).
Sumber sejarah diambil dari buku M.D. Sagimun, Pahlawan Dipanegara Berjuang (Bara Api Kemerdekaan Nan Tak Kunjung Padam), 1956, dan Soenarto, HR, Sejarah Brangkal, Kabupaten Roma (Jatinegara/Kruwed) dan Kabupaten Karanganyar.
Sumber: jatinegara.kec-sempor.kebumenkab.go.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















