SEJARAH

Jejak Sejarah Desa Bendungan Kuwarasan: Kisah Raden Sahid dan Asal-usul Makam Tambakbaya

237
×

Jejak Sejarah Desa Bendungan Kuwarasan: Kisah Raden Sahid dan Asal-usul Makam Tambakbaya

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Sebuah arsip sejarah yang berkembang di Desa Bendungan, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, mengungkap kisah masa lalu yang sarat nilai historis dan kearifan lokal. Cerita tersebut menggambarkan kondisi wilayah Gombong dan sekitarnya pada masa lampau yang dilanda ketidakamanan dan gangguan terhadap ketenteraman masyarakat.

Dalam catatan tersebut disebutkan, situasi kacau yang terjadi bukan disebabkan oleh penjajahan Belanda, melainkan oleh kelompok-kelompok yang menentang pemerintah pada masa itu. Bahkan, diperkirakan saat peristiwa tersebut terjadi, Belanda belum masuk ke wilayah Gombong.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pihak Keraton Yogyakarta yang dipimpin oleh Sampeyan Dalem Sinuhun Yogyakarta mengirimkan pasukan prajurit. Pasukan ini dipimpin oleh seorang tokoh bernama Raden Sahid.

Perjalanan Raden Sahid bersama pasukannya dimulai dari wilayah Somagede, kemudian menuju Kedungbulus, hingga akhirnya tiba di Desa Bendungan. Di setiap wilayah yang disinggahi, mereka membangun pesanggrahan sebagai tempat peristirahatan.

Setibanya di Desa Bendungan, Raden Sahid berhasil menumpas berbagai ancaman dan gangguan keamanan. Keberhasilannya tersebut kemudian diabadikan melalui penamaan Makam Tambakbaya, yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Nama Desa Bendungan sendiri juga diyakini berasal dari peristiwa “membendung” marabahaya yang terjadi saat itu.

Namun, setelah sekian lama tidak ada kabar mengenai Raden Sahid, pihak Keraton Yogyakarta kembali mengirim seorang utusan untuk mencari keberadaannya. Utusan tersebut akhirnya tiba di Desa Bendungan, menetap di sana, hingga wafat dan dimakamkan di lokasi yang kini dikenal sebagai Makam Siplana.

Setelah mendapatkan kepastian terkait kondisi wilayah tersebut, Keraton Yogyakarta kemudian menunjuk seorang pamong bernama Raden Kartadimeja sebagai lurah pertama Desa Bendungan. Makam Raden Kartadimeja diketahui berada berdampingan dengan makam Raden Sahid, menjadi bukti sejarah yang masih terjaga hingga kini.

Sementara itu, pesarehan Tambakbaya yang berada di wilayah Somagede dan Kedungbulus disebut hanya sebagai petilasan atau tempat singgah Raden Sahid selama perjalanan, bukan lokasi utama pemakamannya.

Hingga saat ini, Makam Tambakbaya di Desa Bendungan masih sering dikunjungi masyarakat untuk berziarah. Para peziarah tidak hanya berasal dari wilayah sekitar Kebumen, tetapi juga dari daerah lain seperti Yogyakarta, Jawa Barat, bahkan Lampung.

Adapun riwayat sejarah ini dituturkan secara turun-temurun oleh sejumlah tokoh masyarakat, di antaranya Sanmukhidi (mantan polisi desa Bendungan), yang memperoleh cerita dari Kyai Bakri Desa Kedungbulus. Kyai Bakri sendiri mendapatkan kisah tersebut dari Kyai Sirad dari Desa Brangkal. Cerita ini juga diperkuat oleh Harjo, warga asal Kuwarasan yang memiliki keterkaitan dengan Yogyakarta, yang meyakini bahwa Raden Sahid merupakan prajurit dari Keraton Yogyakarta.

Meski demikian, kisah ini masih bersifat tutur lisan yang diwariskan antar generasi, sehingga memerlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan keterkaitannya dengan tokoh lain seperti Raden Jono atau Raden Joko Puring yang juga dikenal dalam sejarah lokal.

Sumber: Website Desa Bendungan Kuwarasan Kebumen


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.