KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kalibangkang, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, menyimpan beragam potensi ekonomi lokal yang terus berkembang. Mulai dari usaha mikro, perikanan, pertanian, hingga produk budaya, semuanya menjadi kekuatan desa dalam mendorong kesejahteraan masyarakat.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Nur Khayati (36), seorang perempuan asal Dusun Dukuh RT 03 RW 01 Desa Kalibangkang. Ia merupakan mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan selama enam tahun. Sepulang dari luar negeri dan menikah pada 2017 dengan Muhammad Faturohman, pasangan ini sempat mencoba berbagai usaha, mulai dari perdagangan buah hingga peternakan, meski belum membuahkan hasil maksimal.
Memasuki masa pandemi Covid-19, Nur Khayati tak menyerah. Ia mulai mencoba usaha baru dengan membuat kue bolen yang dipelajari secara otodidak dari YouTube. Produk tersebut kemudian dipasarkan dengan sistem titip jual di warung dan kios. Berkat ketekunan, kualitas rasa, serta harga yang bersaing, usaha bolen dengan merek “My Bolens” kini mampu menembus pasar hingga Kabupaten Banyumas dan Banjarnegara.
Perkembangan usaha ini juga mendorong peningkatan kapasitas produksi, termasuk penambahan peralatan. Produk bolen tersebut kini tidak hanya menjadi camilan pendamping kopi atau teh, tetapi juga diminati sebagai oleh-oleh khas daerah.
Selain sektor UMKM, potensi lain juga berkembang di bidang perikanan. Seorang pemuda bernama Sakhilin berhasil mengembangkan usaha pembenihan lele secara otodidak. Bersama rekan-rekannya, ia membentuk Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) “Banyu Biru”. Kelompok ini tidak hanya fokus pada pembenihan, tetapi juga pembesaran lele.
Upaya mereka mendapat dukungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan berupa bantuan 15 pasang benih lele Sangkuriang. Sementara itu, Pemerintah Desa turut memberikan dukungan melalui fasilitas pengeboran untuk pembuatan pakan (pelet).
Di sektor pertanian, tanaman kapulaga juga menjadi komoditas yang menjanjikan. Tanaman rempah ini dinilai mudah dibudidayakan karena tahan naungan dan dapat ditanam berdampingan dengan pohon kelapa maupun tanaman tahunan lainnya. Dengan perawatan yang baik, kapulaga mampu menghasilkan panen melimpah dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi.
Tak kalah penting, produksi gula kelapa juga menjadi salah satu andalan masyarakat. Gula merah yang dihasilkan dari nira kelapa ini diproses secara tradisional, mulai dari penyadapan hingga pemasakan selama beberapa jam hingga mengental dan siap dicetak. Kini, produk gula kelapa tidak hanya dipasarkan sebagai bahan industri, tetapi juga dikembangkan menjadi gula semut dan oleh-oleh khas.
Di bidang budaya, Desa Kalibangkang memiliki batik tulis khas bernama “Inggil Seto”. Batik ini memiliki filosofi mendalam, di mana “Inggil” berarti tinggi dan “Seto” berarti bersinar. Nama tersebut mencerminkan harapan masyarakat untuk mencapai kehidupan yang lebih cerah dan sejahtera. Motif batik yang dihasilkan pun sarat makna dan memiliki ciri khas tersendiri.

Selain itu, produk kesenian dan budaya juga menjadi potensi yang terus didorong. Dengan pemanfaatan teknologi dan internet, karya seni lokal diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan hingga tingkat internasional. Hal ini juga berkaitan dengan pengembangan potensi wisata desa sebagai daya tarik tambahan.
Beragam potensi tersebut menunjukkan bahwa Desa Kalibangkang memiliki kekuatan besar dalam pengembangan ekonomi berbasis lokal. Dengan sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan pemanfaatan teknologi, desa ini berpeluang menjadi contoh sukses pembangunan desa mandiri di Kabupaten Kebumen.
Sumber:website desa Kalibangkang
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















