PemerintahanSEJARAHSENISENI BUDAYA

Potensi Desa Logede Pejagoan: Dari Genteng Sokka hingga Tempe dan Tahu Legendaris

433
×

Potensi Desa Logede Pejagoan: Dari Genteng Sokka hingga Tempe dan Tahu Legendaris

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Logede, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, menyimpan beragam potensi ekonomi lokal yang terus berkembang. Tak hanya dikenal sebagai sentra produksi genteng Sokka, desa ini juga memiliki kekuatan di sektor kuliner berbasis kedelai, seperti tempe dan tahu, yang telah menjadi mata pencaharian masyarakat secara turun-temurun.

Selain industri genteng yang telah lama menjadi identitas desa, warga Logede juga aktif mengembangkan usaha rumahan berupa produksi tempe. Salah satu pengrajin tempe, Muhammad Kholidun, mengaku telah menekuni usaha tersebut selama kurang lebih 12 tahun.

Dalam kesehariannya, Kholidun mampu mengolah sekitar 1,7 kuintal kedelai atau setara dengan 3.300 potong tempe per hari. Namun, jumlah produksi tersebut bisa meningkat hingga dua kali lipat ketika permintaan pasar melonjak, terutama saat musim hajatan.

Proses pembuatan tempe dilakukan secara tradisional dan bertahap, dimulai dari perebusan kedelai, pencucian, hingga perendaman semalaman. Setelah itu, kedelai dikukus, diberi ragi, lalu dibungkus menggunakan plastik. Produk tempe yang dihasilkan terdiri dari dua jenis, yakni tempe biasa dan tempe tipis yang biasa digunakan sebagai bahan tempe mendoan.

“Untuk jenis tempe ada dua macam, tempe biasa dan tempe tipis untuk bahan tempe mendoan,” ujar Kholidun saat ditemui pada Selasa, 30 November 2021.

Tempe produksi warga Logede dipasarkan di sejumlah pasar tradisional, seperti Pasar Sruweng dan Pasar Klirong, dengan harga terjangkau sekitar Rp1.000 per buah. Meski demikian, para pengrajin sempat menghadapi tantangan akibat fluktuasi harga kedelai, terutama saat pandemi Covid-19 yang menyebabkan pasokan impor terganggu.

“Dulu harga kedelai sempat naik hingga Rp10.400 per kilogram, tapi sekarang sudah mulai stabil di kisaran Rp9.850 per kilogram,” imbuhnya.

Tak hanya tempe, Desa Logede juga dikenal sebagai penghasil tahu yang telah melegenda dan digemari berbagai kalangan. Usaha tahu di desa ini telah berlangsung secara turun-temurun sejak puluhan tahun lalu.

Salah satu pelaku usaha tahu, Wahyu Catur, warga Dukuh Kolese, melanjutkan usaha keluarga yang dirintis sejak tahun 1980. Ia mulai mengelola usaha tersebut secara mandiri sejak tahun 2007.

Dalam sehari, Wahyu bersama tiga pekerjanya mampu mengolah sekitar satu kuintal kedelai menjadi 3.000 hingga 4.000 potong tahu. Menariknya, proses produksi tahu di Desa Logede masih mempertahankan cara tradisional tanpa menggunakan bahan pengawet, sehingga kualitas dan cita rasanya tetap terjaga.

“Usaha ini dirintis oleh mbah saya sekitar tahun 1980, lalu diteruskan bapak saya, dan sejak 2007 saya yang melanjutkan,” ungkap Wahyu.

Untuk pemasaran, produk tahu Logede masih berfokus di wilayah Kebumen dengan harga yang cukup bervariasi, mulai dari Rp3.000 hingga Rp10.000 per 10 buah, tergantung ukuran dan jenisnya.

Dengan potensi yang dimiliki, baik di sektor industri genteng maupun olahan pangan, Desa Logede terus menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu desa produktif di Kabupaten Kebumen. Dukungan dan inovasi berkelanjutan diharapkan mampu mendorong perekonomian masyarakat agar semakin berkembang.

Sumber: Website Resmi Desa Logede – Pemerintah Desa Logede Kebumen


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

@Kebumen24.com