KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Watulawang di Kecamatan Kecamatan Pejagoan menyimpan beragam potensi lokal yang unik dan masih terjaga hingga kini. Mulai dari kuliner tradisional, kesenian khas bernuansa mistis, hingga panorama alam pedesaan yang memikat, seluruhnya menjadi kekayaan budaya yang berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis kearifan lokal.
Kuliner Tradisional Sarat Nilai Budaya
Salah satu kekayaan yang masih hidup di tengah masyarakat Watulawang adalah kuliner tradisional khas desa tersebut. Dahulu, hidangan ini hanya disajikan pada bulan Syaban sebagai bagian dari tradisi kenduri di setiap rumah warga.
Seiring perkembangan zaman, kuliner tersebut kini dapat dinikmati kapan saja. Namun, proses pengolahannya tetap mempertahankan cara tradisional, seperti penggunaan kayu bakar serta pengolahan bahan dari awal secara manual, termasuk ayam yang diolah langsung sebelum dimasak. Proses ini membuat waktu penyajian cukup lama sehingga biasanya harus dipesan terlebih dahulu.
Kotekan Watulawang: Irama Lesung yang Mulai Langka
Watulawang juga dikenal memiliki kesenian tradisional bernama Kotekan Watulawang, yaitu seni musik lesung yang dimainkan secara berkelompok dengan ritme khas.
Kesenian ini biasanya ditampilkan dalam berbagai kegiatan adat, seperti saat nuthu pari (menumbuk padi), peringatan hari besar Islam seperti Muludan, Likuran di bulan Ramadan, hingga perayaan Idul Fitri atau “Badanan”. Bahkan dalam tradisi lokal, kesenian ini juga dimainkan saat fenomena gerhana bulan sebagai bagian dari ritual budaya masyarakat.
Dengan formasi sekitar 5–6 pemain, Kotekan Watulawang menghadirkan irama dan lagu-lagu khas seperti Pakidem, Rebut Maru, Manglongan, hingga Ayuh Dengklek Njaluk Gendong. Namun, saat ini kesenian tersebut mulai langka dan hanya bertahan di Watulawang karena tidak semua orang mampu memainkan ritme dan kekompakan yang tepat.
Sawah Watulawang dan Jejak Gunung Api Purba
Selain budaya, Watulawang juga memiliki panorama alam yang menawan. Hamparan sawah yang luas dengan suasana pedesaan yang tenang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Menariknya, di beberapa area persawahan terdapat bebatuan besar yang diduga merupakan bagian dari jejak gunung api purba. Hal ini menjadikan kawasan tersebut tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki nilai geologis yang menarik untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi alam.
Cepetan Alas Watulawang: Jejak Sejarah Perlawanan
Kesenian lain yang juga menjadi identitas desa adalah Cepetan Alas Watulawang atau Dangsak, yaitu kesenian topeng tradisional yang memiliki nilai sejarah perjuangan.
Konon, kesenian ini lahir pada masa perlawanan terhadap penjajah, di mana topeng digunakan sebagai media untuk menakut-nakuti musuh. Pada masa lalu, pertunjukan ini hanya ditampilkan saat peringatan HUT Kemerdekaan RI di desa, dengan iringan musik sederhana seperti kentongan dan gendang.
Seiring perkembangan waktu, Cepetan Alas mengalami modernisasi dengan penggunaan gamelan, serupa dengan kesenian kuda lumping. Kini, kesenian tersebut kerap tampil dalam berbagai acara masyarakat dan telah dikenal sebagai salah satu kesenian khas Kabupaten Kebumen.
Potensi Desa yang Perlu Dijaga dan Dikembangkan
Berbagai potensi yang dimiliki Desa Watulawang menunjukkan kekayaan budaya dan alam yang masih terjaga. Mulai dari kuliner tradisional, kesenian khas, hingga potensi wisata alam, semuanya menjadi modal penting dalam pengembangan desa berbasis budaya dan pariwisata.
Jika dikelola dengan baik, potensi ini tidak hanya menjadi identitas budaya lokal, tetapi juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat desa.
Sumber: Website resmi Desa Watulawang
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















