KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Kalitengah, yang terletak di Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang berawal dari legenda penyatuan dua desa, yakni Karangjati dan Pekiringan.
Berdasarkan penuturan para sesepuh dan narasumber setempat, sebelum bernama Kalitengah, wilayah ini terdiri dari dua desa yang berdampingan dan dipisahkan oleh sebuah sungai yang membentang dari utara ke selatan. Desa Karangjati saat itu dipimpin oleh Kepala Desa Dimin, sementara Desa Pekiringan dipimpin oleh H. Ngabdulsalam.
Kehidupan masyarakat kala itu dikenal harmonis dan menjunjung tinggi nilai gotong royong. Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani, dengan budaya kebersamaan yang kuat dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari bercocok tanam hingga membangun rumah.
Pada tahun 1924, kedua kepala desa bersepakat untuk menyatukan wilayah mereka menjadi satu desa. Karena kedua desa hanya dipisahkan oleh sungai yang berada di tengah, desa baru tersebut kemudian diberi nama Kalitengah.
Untuk menentukan pemimpin desa hasil penggabungan, dilakukan pemilihan kepala desa dengan metode tradisional yang dikenal sebagai “dodokan”, yakni warga memilih dengan cara jongkok di belakang calon yang didukung. Hasilnya, H. Ngabdulsalam terpilih sebagai kepala desa pertama dengan selisih tipis, hanya tiga suara. Ia kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan Lurah Kaji.
Seiring waktu, kepemimpinan Desa Kalitengah mengalami beberapa pergantian. Pada tahun 1940, jabatan kepala desa dipegang oleh Atmo Damun atau Lurah Rekomba. Namun, pada masa penjajahan, ia dituduh sebagai mata-mata Belanda, ditangkap oleh Tentara Republik, dan akhirnya meninggal dunia dalam peristiwa tragis.
Setahun kemudian, pada 1941, Djoyo Diwiryo atau Lurah Joyo terpilih sebagai kepala desa. Memasuki tahun 1942, situasi semakin sulit ketika Jepang menduduki Indonesia. Dampaknya, kondisi ekonomi masyarakat Desa Kalitengah menurun drastis akibat hasil bumi yang diambil oleh tentara Jepang.
Adapun daftar kepala desa Kalitengah dari masa ke masa antara lain:
- Ngabdulsalam (1924)
- Atmo Damun/Lurah Rekomba (1940)
- Djoyo Diwiryo/Lurah Joyo (1941)
- Kusen (1969–1978)
- Nasiman (1979–1989)
- Hadiwiyono (1990–1998)
- Aris Suwito (1999–2007)
- Ani Suryati (2007–2013)
- Amat Sutoyo (2013–2019, 2019–sekarang)
Selain sejarahnya, Desa Kalitengah juga dikenal dengan berbagai tradisi yang masih bertahan hingga kini, meskipun sebagian mulai tergerus modernisasi. Tradisi tersebut antara lain bersih kubur yang dilakukan menjelang bulan Ramadan, ziarah kubur sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, serta nyadran yang kini mulai jarang dilakukan.
Selain itu, tradisi Suran atau peringatan Tahun Baru Islam juga masih dilestarikan melalui kegiatan pawai ta’aruf oleh para santri serta pertunjukan seni tradisional kuda lumping oleh kelompok Tri Manunggal Dipo Sejati sebagai upaya menjaga warisan budaya lokal.
Hingga kini, Desa Kalitengah tetap menjaga nilai-nilai kebersamaan dan tradisi sebagai bagian dari identitas budaya masyarakatnya di tengah perkembangan zaman.
Sumber: Website Resmi Desa Kalitengah – Pemerintah Desa Kalitengah
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















