KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Adiwarno memiliki sejarah panjang yang mencerminkan dinamika politik dan sosial Jawa Tengah dari masa lalu hingga era modern. Dahulu, desa ini berada di bawah pemerintahan Kesultanan Demak Bintaro. Setelah runtuhnya Kesultanan Demak, wilayah ini kemudian masuk ke kekuasaan Kerajaan Pajang Mataram.
Seiring waktu, perpecahan politik terjadi akibat manuver penjajah Belanda pasca Perjanjian Giyanti. Akibatnya, kerajaan terbagi menjadi dua, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta. Sebelum berdirinya Pemerintahan Republik Indonesia, Desa Adiwarno termasuk wilayah Kesultanan Yogyakarta, kemudian sempat masuk wilayah Kesultanan Surakarta. Setelah Indonesia merdeka, Desa Adiwarno menjadi bagian dari Pemerintahan Daerah Tingkat I Jawa Tengah dengan ibu kota di Semarang.
Masyarakat Desa Adiwarno diyakini berasal dari keturunan Tumenggung Bobot Sirah. Menurut cerita nenek moyang, seorang bangsawan Yogyakarta memiliki tiga anak, dua perempuan dan satu laki-laki. Anak laki-laki tersebut bergelar Tumenggung Bobot Sirah dan memimpin wilayah barat Kebumen. Sementara itu, anak perempuan yang pertama menikah dengan bangsawan dari Banjarnegara dan menetap di Desa Karangwuni, yang kini masuk wilayah Desa Wanadadi.
Menariknya, kepemimpinan di Desa Adiwarno hingga kini sebagian besar dijalankan oleh orang-orang yang bukan asli kelahiran desa tersebut. Hanya dua kepala desa sejak dahulu yang berasal dari penduduk asli Desa Adiwarno.
Sejarah ini menunjukkan bagaimana akar budaya, politik, dan kepemimpinan di Desa Adiwarno membentuk identitas masyarakat hingga saat ini.
Sumber: adiwarno.kec-buayan.kebumenkab.go.id
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















