SEJARAH

Sejarah Desa Sidomukti, Kuwarasan: Dari Era Kolonial hingga Pembangunan Modern

244
×

Sejarah Desa Sidomukti, Kuwarasan: Dari Era Kolonial hingga Pembangunan Modern

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

KEBUMEN, Kebumen24.com – Perjalanan panjang Desa Sidomukti, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah sejarah yang sarat perjuangan, dinamika sosial, hingga perkembangan pembangunan dari masa ke masa.

Pada masa kolonial Belanda, tepatnya sekitar tahun 1921, pemerintahan desa telah berdiri di Dukuh Kuwadja—yang kini dikenal sebagai Dukuh Waja. Saat itu, desa dipimpin oleh seorang lurah bernama Den Tier (1921–1930). Namun, keterbatasan infrastruktur, sistem pengairan yang belum memadai, serta kondisi jalan yang masih berupa tanah dan rawan banjir, membuat penyelenggaraan pemerintahan belum berjalan optimal.

Memasuki tahun 1930, kepemimpinan dilanjutkan oleh Jaya Reja hingga 1935. Kondisi desa relatif belum berubah, dengan mayoritas masyarakat bermata pencaharian sebagai petani, buruh, dan nelayan air tawar. Meski demikian, kehidupan budaya mulai berkembang, ditandai dengan kesenian tradisional seperti lengger, angguk, dan rodad yang rutin dipentaskan.

Pada periode 1935–1940, di bawah kepemimpinan Ngamorbe, masyarakat mulai mengenal sistem pertanian padi gagangan dengan bantuan tenaga kerbau. Tradisi budaya seperti lenggeran dan baritan tetap dilestarikan melalui swadaya masyarakat, biasanya digelar setelah panen raya dan menjelang masa tanam.

Tahun 1940 menjadi titik penting, ketika pusat pemerintahan dipindahkan ke Dukuh Tratas dan nama desa resmi berubah menjadi Sidomukti. Wilayahnya meliputi Dukuh Tratas, Bumireja, dan Waja, dengan Mad Mungil menjabat sebagai lurah hingga tahun 1962.

Pada masa ini, masyarakat menghadapi ujian berat. Tahun 1943 terjadi bencana kelaparan akibat kemarau panjang, memaksa warga mengonsumsi bulgur sebagai pengganti beras. Kondisi ini menyebabkan penderitaan yang cukup berat bagi masyarakat.

Tak hanya itu, semangat perjuangan juga mewarnai sejarah desa. Tahun 1947, perlawanan terhadap kolonial Belanda terjadi dan menelan korban jiwa, di antaranya Marikin yang gugur di Dukuh Tratas, serta KH. Abu Mastur dan H. Abdullah yang gugur di wilayah Kemit. Untuk mengenang jasa para pahlawan, didirikan monumen di Desa Kemit, Kecamatan Karanganyar.

Memasuki era pasca-kemerdekaan, pemerintahan desa mulai lebih stabil. Pada tahun 1962 dilakukan pendataan kepemilikan tanah melalui Buku C Desa. Kepemimpinan kemudian silih berganti, mulai dari Karto Diyono (1962–1965), Karto Utomo (1965–1976), hingga pejabat sementara Darsono.

Peristiwa penting lainnya terjadi pada tahun 1976, yakni normalisasi Sungai Gombong yang berdampak positif pada sektor pertanian dan perekonomian warga. Pada tahun yang sama juga terjadi jebolnya Bendung Sempor yang menimbulkan korban jiwa di sejumlah wilayah Kebumen, meskipun Desa Sidomukti tidak terdampak langsung.

Seiring waktu, pembangunan desa terus mengalami kemajuan. Balai desa mulai dibangun secara semi permanen pada 1977 dan terus direhabilitasi. Pembagian wilayah administratif seperti RT dan RW juga mulai ditata untuk memperkuat sistem pemerintahan berbasis masyarakat.

Pada era modern, berbagai pembangunan terus dilakukan, termasuk pendirian balai pertemuan di beberapa dukuh serta proyek infrastruktur seperti rabat beton pada tahun 2022. Kepemimpinan desa pun terus berlanjut hingga kini di bawah Sukiman, S.Pd yang menjabat sejak 2013.

Sejarah panjang Desa Sidomukti menjadi cerminan perjuangan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan, sekaligus menjadi inspirasi dalam melanjutkan pembangunan desa ke arah yang lebih maju.

Sumber: Website resmi Desa Sidomukti


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.