SEJARAH

Sejarah Desa Madureso Kuwarasan: Perpaduan Dua Desa yang Sarat Nilai Religius dan Filosofi Kehidupan

309
×

Sejarah Desa Madureso Kuwarasan: Perpaduan Dua Desa yang Sarat Nilai Religius dan Filosofi Kehidupan

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Madureso yang terletak di Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang sarat dengan nilai religius dan kearifan lokal. Sejak dahulu, masyarakat desa ini dikenal agamis dan memiliki cita-cita luhur untuk mewujudkan kehidupan yang adil dan makmur dalam ridha Allah SWT, atau yang dikenal dengan konsep baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Secara historis, Desa Madureso merupakan hasil penggabungan dua desa, yakni Desa Pangkalan dan Desa Pesanggrahan, yang diperkirakan berdiri sejak tahun 1750-an.

Desa Pangkalan sendiri terdiri dari dua dukuh, yaitu Dukuh Pangkalan dan Dukuh Guyangan. Dukuh Pangkalan dikenal sebagai tempat berkumpulnya masyarakat untuk mencari ilmu kehidupan, sementara Dukuh Guyangan dahulu menjadi lokasi pemandian hewan ternak, khususnya kerbau. Desa ini dibuka oleh para pendiri yang dikenal sebagai babad atau tlukah, di antaranya Tumenggung Singa Patra, Tumenggung Patra Singa, Nyai Kopek, dan Jaenal Ngali sekitar tahun 1600-an, yang sebagian besar berasal dari pasukan Kerajaan Mataram.

Sementara itu, Desa Pesanggrahan juga terdiri dari dua dukuh, yakni Dukuh Pesanggrahan dan Dukuh Karangsari Tempel. Dukuh Pesanggrahan dikenal sebagai tempat bertapa para tumenggung untuk mencari wangsit atau kesaktian. Desa ini dibuka oleh tokoh-tokoh seperti Tumenggung Suta Wirya, Tumenggung Anta Wirya, Tumenggung Cakra Wirya, dan Tumenggung Kramasari.

Sekitar tahun 1880-an, para tokoh masyarakat dari kedua desa sepakat untuk menyatukan Desa Pangkalan dan Desa Pesanggrahan menjadi satu desa baru yang dinamakan Desa Madureso. Nama “Madureso” berasal dari dua kata, yakni madu yang berarti manis, dan reso yang berasal dari kata rekso yang berarti menjaga. Filosofi ini mengandung makna bahwa segala sesuatu yang baik dan manis harus senantiasa dijaga dan dilestarikan.

Dalam proses penyatuan tersebut, dilakukan pemilihan kepala desa pertama secara demokratis dengan metode tradisional “dodokan”, yakni warga berbaris di belakang calon yang dipilih. Hasilnya, H. Nawawi terpilih sebagai Kepala Desa Madureso pertama dan menjabat hingga tahun 1927.

Kepemimpinan desa kemudian dilanjutkan oleh beberapa tokoh, di antaranya Rekso Pranoto (1928–1986), M. Rudi Haryanto (1986–1994), hingga sejumlah pejabat sementara dan kepala desa definitif lainnya. Hingga saat ini, Desa Madureso kembali dipimpin oleh Yatin sejak tahun 2019.

Sejarah panjang ini menjadi bagian penting dari identitas Desa Madureso, sekaligus menjadi warisan berharga bagi masyarakat setempat dalam menjaga nilai-nilai kebersamaan, budaya, dan kebaikan yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Sumber: Website Resmi Desa Madureso


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.