KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Lemahduwur, yang terletak di wilayah Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah legenda dan sejarah panjang yang menjadi identitas masyarakat setempat hingga saat ini.
Secara etimologis, nama Lemahduwur berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni lemah yang berarti tanah dan duwur yang berarti tinggi. Nama tersebut menggambarkan kondisi geografis desa yang memiliki wilayah tanah paling tinggi, sehingga tidak pernah terendam banjir, khususnya di wilayah RW 04.
Dalam sejarahnya, Desa Lemahduwur merupakan hasil penggabungan dua desa pada sekitar tahun 1936, yaitu Desa Lemahduwur yang dipimpin oleh Mbah Komali dan Desa Karang Tepung yang dipimpin oleh Mbah Satra. Proses penggabungan atau “blengketan” tersebut dimenangkan oleh pihak Lemahduwur dengan perbandingan 2:1, sehingga wilayah Plempukan memilih bergabung dengan Lemahduwur dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan desa.
Desa Lemahduwur sendiri terdiri dari dua dukuh utama, yakni Dukuh Lemahduwur dan Dukuh Plempukan, serta satu wilayah Karang Tepung yang kini menjadi bagian dusun.
Legenda dan Karakteristik Wilayah
Setiap wilayah di Desa Lemahduwur memiliki cerita legenda yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat.
Di Dukuh Lemahduwur, konon wilayah ini dibuka oleh seorang pendekar perempuan bernama Mbah Buyut Anjani yang berasal dari arah timur. Makamnya dipercaya berada di TPU RW 01. Saat pembukaan wilayah, disebutkan muncul seekor lutung ranggon yang memiliki sifat pendiam, rukun, dan tidak banyak berulah. Karakter ini diyakini mencerminkan sifat masyarakat setempat yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kerukunan, terlihat dari tradisi guyuban dan kegiatan kesenian seperti pagelaran wayang.
Sementara itu, Dukuh Plempukan memiliki legenda yang berkaitan dengan Mbah Mertinggi, tokoh yang membuka wilayah tersebut. Di kawasan ini dahulu terdapat aliran sungai kecil dengan ikan blenduk yang hidup berkelompok. Karakter ikan tersebut dianggap mencerminkan sifat masyarakat yang kompak dan hidup berkelompok. Selain itu, terdapat pula tokoh Mbah Galunggung yang dikenal menyukai kesenian dan diyakini pernah meninggal di sebuah pasar saat berlangsung pertunjukan tayub.
Adapun Dusun Karang Tepung dulunya dikenal sebagai wilayah hutan kecil yang angker, dibuka oleh Mbah Buyut Kopek. Nama lama wilayah ini adalah Grecek, yang berasal dari suara air sumur yang berbunyi “krecek-krecek”. Konon, wilayah ini memiliki karakter masyarakat yang cenderung merantau, mandiri, dan tidak suka terikat, sebagaimana digambarkan dari simbol hewan kera yang muncul dalam legenda setempat.
Sejarah Pemerintahan Desa
Sejarah kepemimpinan di Desa Lemahduwur telah mengalami berbagai pergantian sejak masa kolonial hingga sekarang. Beberapa tokoh yang pernah menjabat sebagai kepala desa antara lain:
- Mangkuharjo
- Komali
- Abu Yamin
- Sukardi
- Madakram
- Yasam
- Waluyowati
- HM. Jabir Huda Al-Mansyur
- Sugeng Widodo (menjabat hingga saat ini)
Pergantian kepemimpinan tersebut mencerminkan dinamika pemerintahan desa sejak masa penjajahan Belanda, Jepang, hingga era kemerdekaan.
Perkembangan Pembangunan Desa
Dari sisi pembangunan, Desa Lemahduwur mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Pada masa penjajahan, fasilitas pendidikan masih sangat terbatas, bahkan Sekolah Rakyat (SR) hanya tersedia hingga kelas tiga dan menggunakan bangunan sederhana dari bambu dan atap jerami.
Memasuki era Orde Baru sekitar tahun 1970-an, pembangunan mulai berkembang dengan didirikannya sekolah permanen berbahan bata. Program pemerintah seperti INPRES turut mendorong pembangunan infrastruktur, termasuk jaringan irigasi dari Sempor.
Pada masa kepemimpinan Yasam (1980–1986), program ABRI Masuk Desa (AMD) berhasil membangun akses jalan desa serta Balai Desa Lemahduwur. Pembangunan kemudian dilanjutkan oleh Waluyowati melalui proyek padat karya berupa saluran irigasi dan drainase.
Selanjutnya, pada masa HM. Jabir Huda Al-Mansyur (1999–2006), dilakukan perbaikan infrastruktur seperti makadam jalan, rehabilitasi sekolah dasar, dan betonisasi jalan. Hingga era kepemimpinan Sugeng Widodo, pembangunan terus berlanjut dengan pengaspalan jalan, pembangunan talud, serta rehabilitasi fasilitas pendidikan seperti TK Tunas Harapan.
Sejarah dan legenda yang berkembang di Desa Lemahduwur tidak hanya menjadi cerita turun-temurun, tetapi juga membentuk karakter sosial masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan, kemandirian, dan nilai budaya lokal.
Sumber:Website resmi Desa Lemahduwur
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

















