SEJARAH

Tak Banyak yang Tahu! Desa Cangkring Kebumen Ternyata Berawal dari Persembunyian Prajurit Pangeran Diponegoro

283
×

Tak Banyak yang Tahu! Desa Cangkring Kebumen Ternyata Berawal dari Persembunyian Prajurit Pangeran Diponegoro

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Cangkring di Kecamatan Sadang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, menyimpan kisah sejarah panjang yang berakar dari masa perjuangan melawan penjajahan Belanda. Nama desa ini konon berasal dari kisah seorang prajurit setia Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke wilayah pegunungan dan membuka permukiman baru di tengah hutan belantara.

Menurut catatan sejarah desa, sosok tersebut bernama Ki Caleksana, yang berasal dari wilayah Selomanik. Ia dikenal sebagai salah satu prajurit yang ikut dalam perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda pada awal abad ke-19.

Sekitar tahun 1823 Masehi, ketika pasukan Pangeran Diponegoro mengalami kekalahan dalam pertempuran melawan Belanda, para prajuritnya terpencar dan melarikan diri ke berbagai wilayah pegunungan untuk menyelamatkan diri. Salah satu yang memilih mengasingkan diri adalah Ki Caleksana, yang kemudian tiba di kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Cangkring.

Pada masa itu, wilayah tersebut masih berupa hutan lebat yang dipenuhi pepohonan besar, terutama pohon dadap cangkring yang tumbuh sangat banyak dan menjulang tinggi. Dari keberadaan pohon inilah Ki Caleksana kemudian menamai wilayah tersebut dengan sebutan Cangkring, yang akhirnya menjadi nama desa hingga sekarang.

Menghadapi Berbagai Peristiwa Sejarah

Dalam perjalanan waktu, Desa Cangkring juga tidak lepas dari berbagai peristiwa penting yang mempengaruhi kehidupan masyarakatnya.

Pada tahun 1943, masyarakat desa pernah mengalami masa sulit akibat kelaparan dan wabah penyakit koreng. Beberapa tahun kemudian, pada 1947–1948, wilayah ini juga terdampak situasi Agresi Militer Belanda II yang kembali mengganggu stabilitas masyarakat.

Memasuki era berikutnya, kondisi nasional juga turut berimbas pada kehidupan desa, seperti pemberontakan AOI pada 1950–1951, serta situasi politik yang memanas pada peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Selain konflik sosial dan politik, masyarakat Desa Cangkring juga pernah menghadapi persoalan kesehatan, seperti serangan penyakit demam yang cukup sering terjadi pada sekitar tahun 1970.

Pergantian Kepemimpinan Desa

Seiring berjalannya waktu, kepemimpinan desa terus berganti dan membawa berbagai perubahan bagi masyarakat. Beberapa kepala desa yang pernah memimpin Desa Cangkring antara lain:

Kondor, sebagai kepala desa pertama

  1. Cakrawirana
  2. Parta Diwangsa
  3. Madreja
  4. Madruslah
  5. Wahyono (1986–2002)
  6. Satimin (2002–2013)
  7. Mukinah (2013–2019)
  8. Sukimin (2019–sekarang)

Pada masa kepemimpinan Satimin, sejumlah pembangunan penting berhasil diwujudkan, di antaranya pembangunan Jembatan Cangkring, pembangunan Embung Cangkring, renovasi jalan tembus menuju Wonosobo, pembangunan jalan Kalibugel, serta pemindahan kantor desa ke Dusun Glagah. Selain itu, dilakukan pula penanaman pohon durian seluas sekitar 20 hektare sebagai bagian dari pengembangan potensi pertanian desa.

Sementara itu, pada periode 2013–2019, Desa Cangkring dipimpin oleh Mukinah, yang menjadi kepala desa perempuan pertama dalam sejarah desa tersebut. Pada masa kepemimpinannya, program penanaman durian seluas 2 hektare juga dilakukan untuk memperkuat potensi ekonomi masyarakat.

Saat ini, Desa Cangkring dipimpin oleh Sukimin, yang melanjutkan berbagai program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat agar desa terus berkembang.

Dari kisah persembunyian seorang prajurit hingga menjadi desa yang terus tumbuh, sejarah Desa Cangkring menjadi bagian penting dari perjalanan masyarakat di wilayah pegunungan Kebumen.

Sumber: Website resmi Desa Cangkring Kecamatan Sadang Kabupaten Kebumen.


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.