SEJARAH

Sejarah Desa Watulawang: Dari Hutan Belantara hingga Desa yang Berkembang

507
×

Sejarah Desa Watulawang: Dari Hutan Belantara hingga Desa yang Berkembang

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Watulawang, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang yang membentang sejak periode Mataram Islam. Dahulu, wilayah ini merupakan hutan belantara yang dipenuhi pohon besar dan batu-batu raksasa, dengan jumlah penduduk yang masih sangat sedikit.

Pada masa itu, pemerintahan wilayah ini berada di bawah Kerajaan Mataram. Namun, ketika Belanda mulai memasuki Mataram untuk memperluas pengaruhnya, salah satu putra Raja Mataram memutuskan meninggalkan istana untuk mengembara. Perjalanannya membawanya ke daerah pegunungan dataran tinggi yang disebut Jurang Jero, kini menjadi Desa Kajoran dan Desa Karangtengah, Kecamatan Karanggayam.

Putra raja tersebut menyamar sebagai rakyat biasa dengan nama Donosari atau lebih dikenal sebagai Mbah Donosari. Beliau dikenal dermawan dan menjadi panutan masyarakat setempat, mengajarkan hidup bergotong-royong serta ilmu-ilmu kejayaan dan kesaktian. Kesaktiannya membuat beliau dihormati warga, sekaligus memperkenalkan praktik bercocok tanam dan pengelolaan lahan secara kolektif.

Suatu hari, Mbah Donosari dan warga membuka hutan belantara di sebelah timur Jurang Jero, yang kini menjadi Desa Kajoran. Saat membersihkan lahan, ditemukan sebuah pohon wungu yang tidak bisa terbakar. Di bawahnya, ditemukan benda-benda peninggalan bersejarah berupa jungkat (sisir berbentuk bando), pengilon (cermin rias), dan cemara (rambut sambung perempuan). Benda-benda ini kemudian dimakamkan dengan nisan, dan tempat tersebut dinamai Kuwu Wungu. Tidak jauh dari lokasi ini terdapat batu-batu besar yang berjajar menyerupai pintu, sehingga Mbah Donosari menamai lokasi ini “Watulawang”.

Mbah Donosari menghabiskan sisa hidupnya di Jurang Jero, dan makam beliau kini berada di Desa Karangtengah, Kecamatan Karanggayam. Berdasarkan tinjauan arkeologis, peradaban di Watulawang diduga sudah ada sejak masa prasejarah. Bukti ini terlihat dari kompleks makam kuwu yang diduga merupakan punden berundak, serta tradisi pemindahan makam yang merupakan warisan prasejarah. Peradaban ini berlanjut hingga masa klasik Hindu-Buddha, dan kemudian berbaur dengan kebudayaan baru ketika Islam masuk ke wilayah tersebut.

Sejak berdirinya, Desa Watulawang telah dipimpin oleh beberapa kepala desa, antara lain: Mertaguna, Astradirana, Danawangsa, Santika, Majatirta, Cawirana, Sanreja, Pancasemita, Kramareja (1918–1965), Dapin (3 bulan), Sawad (1966–1988), Sudjanto (1988–1998), Dirun (1998–2007), Warsono (2007–2013), Dirun (2013–2018), hingga Wasito (2019–sekarang).

Secara geografis, Desa Watulawang memiliki luas wilayah 138,6 hektare dengan topografi di ketinggian +350 meter di atas permukaan laut. Lahan pertanian mayoritas berupa tanah kering (75%) dan sawah (25%). Desa ini berbatasan dengan Desa Kajoran di selatan, Desa Pengaringan di selatan, Desa Peniron di timur, dan kawasan hutan negara (Perhutani) di utara.

Dengan sejarah yang kaya dan lokasi strategis di dataran tinggi, Desa Watulawang tidak hanya menjadi pusat pertanian, tetapi juga menyimpan jejak peradaban yang penting bagi Kabupaten Kebumen.

Sumber: website Desa Watulawang


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.