SEJARAH

Sejarah Desa Tresnorejo Petanahan Kebumen: Jejak Blengketan Tiga Desa di Era Kolonial Belanda

371
×

Sejarah Desa Tresnorejo Petanahan Kebumen: Jejak Blengketan Tiga Desa di Era Kolonial Belanda

Sebarkan artikel ini

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tresnorejo memiliki sejarah panjang yang berakar dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda pada era 1930-an. Saat itu, diberlakukan aturan blengketan desa atau penggabungan wilayah, yang menyasar desa-desa kecil dengan jumlah penduduk terbatas.

Kebijakan tersebut kemudian menggabungkan tiga desa, yakni Desa Clebok, Desa Paterban, dan Desa Pejaten, menjadi satu kesatuan wilayah administratif yang kini dikenal sebagai Desa Tresnorejo.

Awal Mula Tiga Desa

Desa Clebok yang kini menjadi pusat pemerintahan Desa Tresnorejo dulunya merupakan kawasan rawa. Wilayah ini berkembang pesat setelah kedatangan Eyang Singataruna, seorang tokoh yang diyakini pernah menjabat sebagai Tumenggung di Kerajaan Mataram. Sejak saat itu, Clebok tumbuh menjadi desa yang hidup dengan nuansa seni dan budaya. Kepala desa terakhir sebelum penggabungan adalah Mbah Glondong Sanrawi.

Sementara itu, Desa Paterban terletak di bagian tengah wilayah Tresnorejo. Desa ini dibuka oleh Eyang Putri Ayu Parwati, istri dari Eyang Singataruna. Sejarah Paterban juga diwarnai konflik perebutan kekuasaan oleh tujuh pendekar, yang akhirnya dimenangkan oleh Mbah Gebrug atau Reja Wijaya. Pada masa kepemimpinannya, dua desa lain yakni Trukahan dan Bojong turut bergabung. Kepala desa terakhir sebelum blengketan adalah Mbah Glondong Lasmin.

Adapun Desa Pejaten yang berada di selatan Kali Salak, awalnya merupakan bagian dari wilayah Desa Arjowinangun, Kecamatan Puring. Namun, karena adanya kebijakan penggabungan, Pejaten memilih bergabung dengan Clebok dan Paterban. Kepala desa terakhirnya adalah Mbah Kemetir.

Proses Penggabungan dan Pemilihan Kepala Desa

Pelaksanaan blengketan resmi berlangsung pada tahun 1936, diawali dengan pemilihan kepala desa yang diikuti tiga kandidat, yakni Sastro Wuryono (Clebok), Reja Diwirya (Paterban), dan Kemetir (Pejaten).

Pemilihan dilakukan secara sederhana di halaman rumah Bapak Sanrawi di Desa Clebok dengan metode dodokan, yaitu warga duduk di depan calon yang dipilih. Dari proses tersebut, Reja Diwirya memperoleh suara terbanyak dan ditetapkan sebagai kepala desa pertama hasil penggabungan.

Lahirnya Nama “Trisnareja”

Setelah penggabungan, desa baru ini sempat diberi nama “Desa Trisnareja”. Nama tersebut memiliki makna filosofis yang mendalam. Kata “Tri” berarti tiga, “Trisna” berarti senang, dan “Reja” diambil dari nama Rejadiwirya sekaligus bermakna kemakmuran.

Secara keseluruhan, nama tersebut mencerminkan harapan akan persatuan tiga desa yang dipimpin oleh sosok yang dicintai masyarakat, sekaligus menuju kehidupan yang makmur.

Dalam perkembangannya, nama Trisnareja kemudian dikenal sebagai Tresnorejo seperti yang digunakan hingga saat ini.

Daftar Kepala Desa

Sejak berdiri, Desa Tresnorejo telah dipimpin oleh sejumlah kepala desa, di antaranya:

  • Reja Diwiryo (1936–1947)
  • Salam Sartro Prawiro (1947–1956)
  • Sastro Wuryono (1956–1963)
  • Sastro Diwiryo (1963–1986)
  • Sodiman (1986–1994)
  • Sumarmo AS, SH (1994–1998)
  • Makmur (1998–2001, Pj)
  • Suwarno Hadi Pranoto (2001–2013)
  • Sutowo (2013–sekarang)

Sejarah panjang ini menjadi bukti bahwa Desa Tresnorejo tidak hanya lahir dari kebijakan administratif, tetapi juga dari dinamika sosial, budaya, dan kepemimpinan yang terus berkembang hingga kini.

Sumber:
Website resmi Desa Tresnorejo – Tresnorejo
https://tresnorejo.kec-petanahan.kebumenkab.go.id/index.php/web/artikel/4/100


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.