KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tanjungsari, salah satu desa swasembada di Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, menyimpan sejarah panjang dan kaya tradisi. Terletak di ketinggian 11 meter di atas permukaan laut, desa ini dilintasi Jalan Raya Kejayan dan Jalan Bocor Lama, serta dihiasi Sungai Lukulo yang menjadi nadi kehidupan warga.Desa Tanjungsari terbagi menjadi tiga dusun, yakni Dusun Bedug, Dusun Jetis, dan Dusun Batil, dengan luas wilayah 83,677 hektar yang sebagian besar digunakan untuk lahan tanaman pangan dan lahan kering. Kondisi geografis yang strategis serta curah hujan sekitar 2.500 mm per tahun membuat desa ini sangat potensial untuk pertanian dan perkebunan.
Sejarah Pemerintahan Desa
Sebelum berdirinya pemerintahan desa modern, wilayah ini dipimpin langsung oleh Tumenggung Kebumen dan Kisaran. Pada 1898, pemilihan glondong—pemimpin yang mengepalai beberapa desa—dilaksanakan untuk pertama kalinya. Sistem pemerintahan ini kemudian berubah menjadi Kepala Desa atau Lurah pada 1938.
Hingga tahun 1975, pelayanan warga dilakukan di rumah kepala desa. Baru kemudian, melalui hibah tanah di Dukuh Jetis, dibangun kantor desa yang menjadi pusat pelayanan masyarakat. Gedung Balai Desa ini dibangun melalui gotong royong warga, memperkuat semangat kebersamaan dan kemandirian desa.
Pada 20 Januari 2023, gedung Balai Desa Tanjungsari runtuh akibat keropos material. Berkat dukungan masyarakat dan kerja sama dengan dinas terkait, pembangunan kantor desa baru kini tengah dilakukan agar pelayanan kepada warga tetap berjalan lancar.
Asal-usul Dusun Bedug
Dusun Bedug memiliki cerita unik di balik namanya. Konon, sebuah bedug masjid terbawa banjir Sungai Lukulo dan terdampar di dekat makam Syekh Zainal. Kejadian ini menjadi legenda lokal dan menandai awal terbentuknya pedukuan Bedug, sekaligus menjadi identitas khas desa.
Sejarah Pasar Bedug
Pasar Bedug dulunya berada di Dusun Jetis dan pernah menjadi pusat perdagangan ramai dengan banyak pertokoan. Namun sekitar tahun 1990, pasar sempat meredup akibat putusnya akses jembatan. Kebangkitan kembali terjadi pada Oktober 2017, dan pasar ini secara resmi diresmikan pada 9 September 2018. Kini, Pasar Bedug kembali menjadi pusat ekonomi desa yang hidup, tempat warga menjajakan hasil pertanian, kerajinan, dan kebutuhan sehari-hari.
Geografi, Potensi, dan Kepemimpinan
Desa Tanjungsari memiliki luas 83,677 hektar, dengan 43,51 hektar lahan tanaman pangan, 40,1 hektar lahan kering, dan sisanya merupakan bantaran Sungai Lukulo. Dengan kondisi tersebut, desa ini mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri dan mengembangkan potensi desa secara optimal.
Populasi desa tahun 2025 tercatat 1.940 jiwa dengan 619 kepala keluarga. Desa Tanjungsari telah dipimpin oleh 10 kepala desa. Kepala Desa saat ini, Mulyanto, menjabat sejak 2019 hingga 2027, melanjutkan program pembangunan dan pelayanan masyarakat.
Desa Tanjungsari tidak hanya kaya sejarah, tetapi juga menjadi contoh desa mandiri yang mampu mengelola sumber daya alam dan sosial secara berkelanjutan, sambil menjaga tradisi dan kearifan lokal.
Sumber: Website Desa Tanjungsari
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















