SEJARAH

Desa Tanjungrejo: Dari Legenda Hutan hingga Peradaban yang Maju di Buluspesantren

310
×

Desa Tanjungrejo: Dari Legenda Hutan hingga Peradaban yang Maju di Buluspesantren

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tanjungrejo, Kecamatan BuluspesaNtren, menyimpan kisah sejarah dan legenda yang menarik, dari awal mula terbentuk hingga menjadi desa yang dikenal masyarakat saat ini.

Legenda yang Memikat

Konon, pada zaman dahulu, Desa Tanjungrejo masih berupa hutan lebat. Seorang tokoh misterius yang identitasnya masih menjadi teka-teki datang ke wilayah ini. Dalam perjalanannya, ia memutuskan untuk membuka lahan dengan membakar hutan. Api yang membesar mengubah lanskap, membentuk batas wilayah desa seperti pulau di peta hingga kini.

Tersisa tiga pohon besar yang disebut Pohon Kramat, di mana tetesan darah legendaris ditemukan, hingga lahirlah Dukuh Tinesek. Selanjutnya, banyak pendatang mulai bermukim, termasuk tokoh agama terkenal Mbah Dumugi, yang menandai munculnya peradaban baru. Nama-nama dukuh seperti Ketileng, Gebyog, dan Ganggeng lahir dari fenomena alam maupun peristiwa unik, mencerminkan kearifan lokal masyarakat setempat.

Nama “Tanjungrejo” sendiri berasal dari bahasa Jawa, yang berarti “daratan yang makmur.” Nama ini dipilih untuk mengenang jasanya pendiri desa yang penuh semangat merantau, bertapa, dan berguru demi ilmu dan kesaktian.

Sejarah Desa Tanjungrejo

Seiring berjalannya waktu, desa ini mengalami berbagai peristiwa penting:

  • 1930 – 1946: Terpilih Kepala Desa Alimarja sebelum Kemerdekaan.
  • 1946 – 1961: Terpilih Kepala Desa Marso, melewati masa transisi kemerdekaan.
  • 1961 – 1975: Sujangi memimpin desa pasca-kemerdekaan.
  • 1975 – 1990: Basrudin terpilih di era Orde Baru.
  • 1990 – 1998: Pemimpin desa belum tercatat secara lengkap.
  • 1998 – 2006: Anwari terpilih di masa transisi Orde Baru ke Reformasi.
  • 2006 – 2025: Sobirin memimpin secara demokratis hingga kini.

Selain pemimpin desa, Desa Tanjungrejo juga menghadapi peristiwa besar, seperti pemberontakan AOI (1950-1951), bencana kelaparan (1963), pemberontakan G30S (1964-1965), kemarau panjang (1978), serta letusan Gunung Galunggung (1982) yang menyebabkan banyak hewan mati.

Legenda dan Sejarah Menjadi Identitas Desa

Kini, Tanjungrejo dikenal bukan hanya karena sejarah panjangnya, tetapi juga karena masyarakatnya yang menghargai nilai budaya dan kearifan lokal. Nama dukuh dan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, menjadikan desa ini sebagai simbol ketahanan dan peradaban.

Sumber: Website Resmi Desa Tanjungrejo


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.