SEJARAH

Sejarah Desa Tambakrejo Kebumen: Warisan Kepemimpinan, Jejak Ulama, dan Tradisi Islam yang Tetap Hidup

295
×

Sejarah Desa Tambakrejo Kebumen: Warisan Kepemimpinan, Jejak Ulama, dan Tradisi Islam yang Tetap Hidup

Sebarkan artikel ini
ILSUTRASI

KEBUMEN, Kebumen24.com – Desa Tambakrejo, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, memiliki sejarah panjang yang sarat nilai budaya, kepemimpinan, dan penyebaran ajaran Islam. Desa ini lahir dari perjalanan sejarah yang bermula sebelum masa kemerdekaan Indonesia.

Pada masa itu, wilayah Tambakrejo masih menjadi bagian dari Desa Rantejurutengah yang dipimpin oleh seorang kepala desa bernama Raden Ronodipo, sosok pemimpin yang dikenal memegang teguh ajaran dan budaya Islam.

Sekitar tahun 1912, karena faktor usia yang semakin lanjut, Raden Ronodipo menyerahkan kepemimpinan desa kepada generasi berikutnya. Namun karena ia memiliki dua penerus, yakni putra kandung Raden Dipo Wiryo dan menantu Raden Wasis Sumodijoyo, wilayah Desa Rantejurutengah kemudian dibagi menjadi dua bagian.

Langkah tersebut diambil sebagai bentuk kebijaksanaan untuk menghindari potensi perebutan kepemimpinan di masa depan. Bagian barat desa kemudian dipimpin oleh Raden Dipo Wiryo dengan nama Desa Rantewringin, sedangkan bagian timur dipimpin oleh Raden Wasis Sumodijoyo yang kemudian dikenal sebagai Desa Tambakrejo.

Hingga kini, hubungan emosional dan budaya antara Desa Tambakrejo dan Desa Rantewringin masih terjalin erat. Bahkan di wilayah Tambakrejo masih terdapat dua pedukuhan yang menggunakan nama serupa, yakni Dukuh Rante Lor dan Dukuh Rante Kidul.

Pusat Penyebaran Islam

Seiring waktu, Desa Tambakrejo berkembang menjadi desa yang tenteram dan makmur, sesuai dengan makna namanya. Kata “Tambak” berarti tempat, sedangkan “Rejo” berarti makmur atau subur.

Desa ini terdiri dari lima pedukuhan, yakni Dukuh Rante Lor, Dukuh Rante Kidul, Dukuh Entak, Dukuh Kewelutan, dan Dukuh Pacor. Di antara kelima pedukuhan tersebut, Dukuh Pacor dikenal sebagai cikal bakal berdirinya Desa Tambakrejo.

Secara historis, wilayah ini juga dikenal sebagai salah satu daerah penyebaran agama Islam yang diyakini berasal dari keturunan Raden Patah (Prabu Brawijaya V). Penyebaran ajaran Islam di kawasan tersebut disebutkan dilakukan oleh tokoh bernama Nyai Minhadi yang menetap di Dukuh Pacor.

Tak hanya itu, Dukuh Pacor juga menyimpan jejak sejarah penting berupa petilasan seorang ulama sekaligus pejuang kemerdekaan, yang dikenal masyarakat dengan nama Kyai Majangi atau Kyai Mohamad Sahid. Hingga kini, petilasan tersebut masih sering dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah, bahkan dari Kabupaten Cilacap, khususnya pada bulan Muharam.

Tradisi Islam yang Tetap Terjaga

Selain memiliki sejarah panjang, masyarakat Desa Tambakrejo juga dikenal masih menjaga tradisi keagamaan dan budaya Islam secara turun-temurun. Beberapa tradisi yang masih dilestarikan antara lain:

  1. Tradisi Muludan (Entak-entik)
    Tradisi ini merupakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diikuti anak-anak hingga remaja. Kegiatan biasanya diawali dengan membuat gubugan, makan bersama, dan puncaknya adalah pembacaan kitab Al-Barzanji.
  2. Tradisi Rajaban
    Tradisi ini digelar untuk memperingati peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Kegiatan dilaksanakan di mushola dan masjid di masing-masing pedukuhan.
  3. Tradisi Keba (Tingkeban)
    Upacara ini dilakukan saat usia kehamilan tujuh bulan. Prosesi diawali dengan siraman, dilanjutkan pembacaan Al-Qur’an, dan doa bersama yang dihadiri keluarga serta tetangga.
  4. Tradisi Petetan atau Puputan
    Tradisi pemberian nama bayi biasanya dilaksanakan setelah tujuh hari kelahiran. Prosesi meliputi pembacaan kitab Al-Barzanji, pencukuran rambut bayi, pemberian nama, serta diakhiri dengan doa bersama. Bagi keluarga yang mampu, acara ini biasanya dilanjutkan dengan aqiqah.

Daftar Kepemimpinan Desa Tambakrejo

Sejak berdiri sebagai desa tersendiri, Tambakrejo telah dipimpin oleh beberapa kepala desa melalui berbagai periode, antara lain:

  • Raden Wasis Sumodijoyo – Kepala desa pertama setelah pemekaran dari Rantejurutengah.
  • Kromo Wijoyo – Menjabat selama 32 tahun (1954–1986).
  • Partiman – Menjabat 1986–1994.
  • Dulah Mustori – Menjabat 1996–2005.
  • Mohamad Saban Mahdi – Terpilih melalui pemilihan kepala desa secara demokratis.
  • Tulud Wahyudi – Menjabat sejak Juli 2019 hingga sekarang.

Warisan Sejarah yang Terus Dijaga

Sejarah panjang Desa Tambakrejo menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat. Selain sebagai catatan perjalanan desa, kisah ini juga menjadi sumber pengetahuan bagi generasi muda untuk memahami akar budaya dan nilai-nilai kebersamaan yang telah diwariskan para leluhur.

Masyarakat berharap berbagai informasi sejarah desa ini dapat terus dilengkapi dan menjadi khazanah pengetahuan bagi generasi mendatang.

Sumber:Website resmi Desa Tambakrejo
https://tambakrejo.kec-buluspesantren.kebumenkab.go.id


Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.