KEBUMEN, Kebumen24.com – Sejarah berdirinya Desa Sidomoro, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen, menyimpan kisah panjang yang sarat misteri dan legenda. Dahulu kala, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Sidomoro disebut-sebut masih berupa hutan lebat yang belum berpenghuni.
Menurut cerita turun-temurun yang berkembang di masyarakat, suatu ketika datang seorang tokoh pengembara yang hingga kini belum diketahui secara pasti identitasnya. Sosok tersebut dikenal gemar merantau, mengembara, bahkan bertapa untuk menimba ilmu dan kesaktian.
Dalam pengembaraannya, ia menemukan kawasan hutan yang kemudian menjadi wilayah Desa Sidomoro sekarang. Ia pun berkeinginan menjadikan daerah tersebut sebagai tempat tinggal. Untuk membuka lahan, hutan tersebut kemudian dibakar.
Api yang menyala saat itu disebut sangat besar hingga membakar hampir seluruh kawasan hutan. Setelah api padam, wilayah yang tersisa membentuk pola yang oleh masyarakat digambarkan seperti sebuah pulau pada peta. Batas wilayah yang terbentuk dari peristiwa tersebut dipercaya masih menjadi batas Desa Sidomoro hingga saat ini.
Menariknya, setelah kebakaran besar itu, tersisa tiga pohon besar yang dikenal masyarakat sebagai Pohon Keramat. Di lokasi tersebut konon pernah ditemukan tetesan darah yang dipercaya berkaitan dengan para pejuang yang gugur dalam perjuangan membela bangsa Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, kawasan tersebut mulai didatangi para pendatang yang kemudian menetap dan membangun kehidupan baru. Beberapa tokoh agama yang dikenal dalam cerita masyarakat antara lain Mbah Sidogati Amuk dan Mbah Kedaleman. Kehadiran mereka menandai awal berkembangnya peradaban di wilayah tersebut.
Pada masa itu juga berdiri sebuah masjid yang kini dikenal dengan nama Masjid Baitul Muhtadin. Sebagian masyarakat bahkan menyebutnya sebagai Masjid Tiban, karena dipercaya berdiri secara misterius pada masa lampau.
Sebelum bernama Sidomoro, wilayah ini terdiri dari dua daerah yang dikenal dengan nama Banjareja dan Arjo Sugih. Pada masa kolonial Belanda, kedua wilayah tersebut merupakan area perkebunan rakyat yang dikuasai pemerintah kolonial dan dipimpin oleh seorang Demang.
Setelah Indonesia merdeka, kedua wilayah tersebut kemudian disatukan dan diberi nama Desa Sidomoro. Nama Sidomoro sendiri berasal dari kata Sido dan Moro. Dalam pemaknaan masyarakat setempat, kata tersebut dimaknai sebagai “Sido Teko”, yang berarti harapan agar masyarakat yang datang dapat menetap dan membangun kehidupan di desa tersebut.
Dalam sejarah pemerintahan desa, pemilihan lurah pertama di Sidomoro dilakukan dengan cara yang unik, yakni menggunakan lidi. Calon yang mendapatkan lidi paling banyak dari masyarakat akan terpilih menjadi lurah.
Dua lurah pertama yang dikenal masyarakat adalah Mbah Nitiwijaya (Lurah Niti) dan Mbah Kromodimejo (Lurah Kudu).
Lurah Niti dikenal mengedepankan nilai persaudaraan atau sedulur, sedangkan Lurah Kromodimejo dikenal dengan prinsip kudu atau harus dalam menjalankan kepemimpinan.
Setelah masa kepemimpinan kedua tokoh tersebut, Desa Sidomoro terus berkembang dan telah dipimpin oleh sejumlah kepala desa melalui proses pemilihan. Beberapa di antaranya yakni Sudarsono, Sukarman Nur, Tarkhim Majid, Sunarto, Anas Nurwachid, hingga kepala desa saat ini Mokhamad Supriyono.
Kisah sejarah ini menjadi bagian penting dari identitas Desa Sidomoro, sekaligus menggambarkan perjalanan panjang sebuah wilayah dari hutan belantara hingga menjadi desa yang berkembang seperti sekarang.
Sumber: WEBSITE Pemerintah Desa Sidomoro / Sekdes Nysn
Eksplorasi konten lain dari Kebumen24.com
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
















